
Nada langsung tersungkur di lantai setelah mendapat tamparan keras dari pria tua itu. Sedangkan Darius sudah menggigil takut karena tak menyangka pria itu menampar Nada.
Sebelum Darius membalas pukulan itu, Samuel yang menguntit istrinya sejak tadi langsung berlari dengan penuh emosi. Namun sebelum eksekusi itu ia lakukan, ucapan Nada mampu membungkam Samuel yang menatap nanar bibir berdarah itu.
Nada dengan perlahan berdiri meskipun sedikit goyah. Samuel yang berniat menyentuh tangannya, langsung ditepis sedikit kasar oleh Nada yang tak ingin menatap wajah putus asa Samuel.
"Aku bisa menyelesaikan masalahku sendiri," ucap Nada datar.
"Maaf, Tuan. Kenapa kau berkata seperti itu tentang masakan saya?" tanya Nada dengan sopan, sedangkan pria tua itu langsung tergagap takut karena Samuel yang berdiri di belakang Nada sudah menyerupai malaikat pencabut nyawa.
"A-aku hm ...."
Pria itu menelan ludahnya kasar karena mendapat tatapan tajam lagi dari Finna yang sudah ikut berdiri di situ.
Semua customer yang sedang makan pun seketika hening menanti drama selanjutnya. Apakah protagonis itu bisa menyelesaikan masalahnya dengan baik atau tidak?
"He'em. Coba kau perhatikan baik-baik makanan sampah ini," ucapnya berusaha arogan dengan kaki gemetar.
Nada kemudian berjalan mendekat dan memperhatikan dengan teliti masakan yang baru saja ia masak itu, hingga matanya tertuju pada 2 helai rambut yang menempel indah di atas udang. Ini adalah kesalahan fatal bagi restoran mewah jika menjatuhkan rambut pada makanan.
Melihat Nada yang sudah menemukan jawaban, pria tua itu langsung berbicara kembali.
"Rambut. Kau lihat, bukan? Makananku ada rambutnya. Kau seharusnya malu memasak seperti ini. Bukankah kau harus bersih dan teliti dalam menyajikan makanan?" ucapnya panjang lebar berusaha menyudutkan Nada yang masih menatap lekat pada rambut yang sekarang sudah berpindah ke tangannya.
"Ya, kau memang tak becus bekerja," sahut Finna mengompori, sedangkan Samuel sudah kepalang geram ingin memukul pria itu dan Finna yang sejak tadi berusaha bergelayut di lengannya.
Nada yang menyadari hal itu, langsung menatap tajam Samuel yang seketika gelagapan dan mendorong kasar tubuh Finna hingga mundur beberapa langkah.
"Kau ha-"
"Diamlah!" ketus Nada pada Samuel yang langsung terdiam tak bersuara lagi, namun percayalah otak seksi Samuel sudah memikirkan hukuman yang tepat untuk pria ini.
__ADS_1
Nada mengambil air putih dari atas meja untuk membersihkan helaian rambut hitam itu dari saus makanan.
"Kau yakin ini rambutku?" tanya Nada pada pria tua itu.
"Ya, tentu saja. Kau yang memasaknya, bukan?" sahutnya tak ingin kalah.
"Dia benar. Rambutmu berwarna hitam. Sudah dipastikan itu rambutmu," ucap Finna membenarkan.
"Kau yakin, Tuan?" tanya Nada lagi dengan tatapan intimidasi yang ia pelajari dari Samuel hingga suaminya itu sedikit tersenyum lucu meskipun rasa geramnya tak memudar karena sudut bibir Nada masih mengeluarkan darah.
Samuel harus menahan emosinya dan membiarkan Nada menyelesaikan masalah ini sendiri, hanya kali ini.
"Ya a-aku yakin. Ka-kalau bukan kau siapa lagi? Oh, mungkin pelayan yang tadi," ucap pria tua itu membelokkan keadaan.
"A-aku?" tanya Adel yang sejak tadi berdiri di belakang Samuel. Wajahnya memucat dengan tuduhan tersebut.
"Ya. Lihat rambutmu juga hitam. Pasti ini rambutmu, bukan?" tuduhnya lagi.
Nada yang sudah mendapatkan bukti kuat pun seketika menarik lembut Adel dan berdiri saling berdampingan.
Rambut itu memiliki panjang sekitar 7 cm dan sedikit curly. Memang berwarna hitam, namun jika diperhatikan dengan lebih teliti maka akan menemukan satu hal yang mampu mematahkan argumen pria itu.
Adel kemudian menatap Nada yang langsung mengangguk membenarkan setelah ia berhasil mendeteksi sesuatu.
"Ini bukan rambut kami," ucap Nada datar.
Ia tak merasakan lagi sakit di bibirnya yang tak seberapa itu dibandingkan dengan kejadian-kejadian heroik yang pernah dialaminya.
"Lalu siapa? Aku? Kau pikir aku gila melakukan hal seperti itu?!" geram pria tua itu berusaha menutupi permainan yang disusun olehnya dan Finna.
"Ya, ini memang milikmu."
__ADS_1
Deg
"A-apa maksudmu?" ucap pria itu gugup.
"Apa kau tuli? Ini rambutmu!" geram Nada yang sangat terluka karena makanan diperlakukan seperti ini.
Baginya, apa pun makanan itu, tak sepantasnya seseorang memperlakukan sebuah makanan dengan tak adil. Makanan adalah sumber kehidupan bagi manusia. Jika tak sengaja terkena debu atau rambut, mungkin Nada masih bisa memaafkan. Namun pria ini sengaja merusak makanan yang sudah ia masak dengan sepenuh hati, entah karena apa.
"Lihat. Meskipun rambut ini berwarna hitam, tapi coba kau lihat lagi. Ada warna putih di ujung ini," tunjuk Nada hingga Samuel dan Darius mengambil rambut itu dan menatap teliti.
Sedangkan Finna, ia sudah mengumpat kesal karena gagal menjalankan rencananya. Tadinya, ia ingin mempermalukan Nada di depan semua orang dan mengusirnya dengan tak hormat, namun rencana itu sepertinya gagal.
Nada langsung menarik leher pria tak tahu malu itu dan mencabut dua helai rambutnya sekaligus. Tak ada lagi sikap sopan seperti tadi. Nada sangat marah karena pria itu menuduhnya.
"Ini. Sama, bukan?"
Deg
"Kau!!" geram Samuel yang langsung menarik pria itu keluar dari sana. Ia akan membuat perhitungan dengannya. Mungkin memotong tangan pria itu adalah pilihan yang tepat, pikirnya.
Sementara Nada hanya memandang datar kepergian Samuel yang diikuti Darius yang sangat khawatir jika Samuel kelewatan.
"Nad, kau sangat hebat," ucap Adel memeluk tubuh Nada yang membalasnya hangat.
Sedangkan Finna sudah menghilang sejak beberapa menit lalu. Wanita itu langsung kembali ke ruangannya di lantai 3 dan menghancurkan barang-barang di sana.
"Sial! Aku harus menyusun rencana lain!"
****
..."Sebab musuh utama kita bukan penjajah atau bencana, tetapi ketakberdayaan yang beranak pinak dalam diri."...
__ADS_1
...- Helvy Tiana -...
...♡♡♡♡...