
21+ gak suka bisa di skip
****
Matahari semakin tinggi menyinari alam semesta hingga terlihat indah ketika cahaya emasnya menerpa daun yang mengembun. Di luar terasa dingin karena sejak subuh tadi, hujan petir baru selesai memainkan perannya.
Hawa sedingin es itu pun terasa menembus kamar mewah yang menjadi saksi bisu atas penyerahan diri seorang istri pada sang suami. Keduanya menikmati kehangatan lewat tubuh yang masih polos di balik selimut lembut.
Wanita cantik dengan lebam yang kian memudar itu perlahan membuka matanya dan langsung dihadapkan dengan tirai besar yang terlihat berusaha melindungi mereka dari sang surya.
Dia kemudian menggeliat dan berusaha melepaskan pelukan suaminya yang malah semakin mempererat jeratan itu dari arah belakang.
"Ahh ...."
Nada mend*sah pelan ketika Samuel memaju mundurkan adik kecilnya yang sejak semalam tak pernah keluar dari sarangnya itu. Samuel membiarkan benda perkasanya mendapatkan kehangatannya di dalam sana.
Tangan Samuel perlahan naik meremas salah satu benda bulat istrinya hingga wanita itu semakin kehilangan arah. Gerakan di bawah sana sangat pelan, namun justru menambah sensasi nikmat.
Samuel pun ikut mend*sah lirih di telinga Nada yang terlihat sangat menyukai ini. Dia tak bisa menepis jika Samuel memang sangat mampu membuatnya menggila di atas ranjang.
Hentakan itu begitu teratur dan lembut hingga akhirnya tubuh mereka bergetar setelah berhasil mendapatkan asupan nikmat di pagi hari.
Cup
"Selamat pagi, sayang." Samuel mengecup pipi Nada yang masih menikmati gerakan kecil di bawah sana.
"Pagi. Lepaskan dulu, sayang," ucap Nada malu.
"Biarkan saja. Dia kedinginan kalau di luar," sahut Samuel masih di tempat yang sama dengan sang adik kecil kembali mengeras.
"Sa-sayang ...."
Nada memucat merasakan bagian intinya kembali penuh. Lelaki ini memang sangat kuat dan tak akan berhenti sampai ia puas.
"Sekali lagi, ya? Aku akan pelan seperti tadi."
Cup
Samuel kembali bergerak dengan penuh kelembutan hingga beberapa saat kemudian tubuh keduanya kembali bergetar hebat.
"Sudah. Aku lelah ..." ucap Nada yang kembali mengantuk.
Suami mesumnya itu tersenyum cerah mengalahkan mentari pagi. Rasanya ia terlalu bahagia telah memiliki Nada seutuhnya.
__ADS_1
Cup
"Istirahatlah."
Perlahan ia melepaskan diri dari jepitan ketat itu membuat Nada melenguh pelan. Samuel menggelengkan kepalanya merasa ini sangat gila. Ia tak akan pernah bosan melakukan kegiatan yang menjadi daftar favorit nomor satu itu.
Samuel kemudian berjalan menuju kamar mandi dengan tubuh polos untuk bersiap ke gudang tua miliknya.
[Caca masih polos🙈]
.........
Adegan penuh kekerasan ⚠️
Gudang tua Samuel
****
Suara rintihan terus terdengar sejak tadi malam. Para pria yang menjadi kaki tangan Dika harus menerima konsekuensi dari Leo yang sudah terlihat mengerikan dengan darah yang telah mengering di bajunya.
"Aarrggg! Ampun!" teriak seorang lelaki yang sedang dikuliti hidup-hidup. Tiga temannya telah lebih dulu merasakan sayatan Leo hingga langsung terbaring lemah di tanah lembab itu.
"Ketika memukuli Nada, apa kalian berhenti saat ia sudah terluka parah?" geram Leo.
"Maafkan ka-kami ...."
Lelaki itu semakin berteriak kencang ketika kulit kepalanya ditarik sangat kasar oleh Leo yang terlihat sangat menikmati perbuatan kejinya itu. Darahnya muncrat di mana-mana dengan tempurung kepala terlihat sangat jelas.
Sedangkan tak jauh dari sana, Dika sudah mengigil ketakutan melihat semua itu. Ia cukup takut dengan Leo yang ternyata memiliki sisi gelap. Dan lelaki itu semakin ketakutan melihat Leo yang berjalan ke arahnya dengan mata pisau yang sengaja di arahkan padanya.
"Giliranmu."
Sreekkk
"Arrrgg!!"
Dika meraung kencang ketika pisau itu langsung ditusukkan di pahanya dengan Leo yang menarik perlahan membuat daging di situ koyak tak beraturan.
"Cih! Baru begini saja kau sudah kencing di celana. Apa aku perlu memotong bendamu itu?"
Deg
"Ja-jangan!" Dika langsung menutup miliknya dengan kedua tangan yang disilangkan.
__ADS_1
"Kenapa? Bukankah barangmu itu murahan?"
Bug
"Aarrrggg!" Dika berjerit kencang ketika Leo menginjak miliknya tanpa belas kasihan.
"Ini yang ingin kau masukkan ke tubuh Nada, bukan? Cih! Jangan harap! Barangmu telah busuk dan sudah terkontaminasi penyakit. Sangat menjijikkan!" sarkas Leo.
Melihat Dika yang tengah pingsan membuat Leo menghentikan aksinya, namun bukan berarti semua telah berakhir karena sang malaikat maut yang asli sedang menuju ke sana.
.........
"Siram dia!" perintah Samuel.
Lelaki itu memakai setelan jas yang disediakan Nada tadi agar sang istri tak mengetahui niat terselubungnya hari ini. Ternyata memiliki istri sangat enak karena semua kebutuhan suami akan diurus oleh istri, pikirnya.
Dika berteriak kencang ketika tubuhnya di siram dengan air panas membuat kulitnya seketika terasa kebas.
"K-kau!"
"Hai, pecundang," sapa Samuel dengan raut wajah yang sangat mengerikan hingga Leo yang berdiri di sebelahnya langsung menelan ludahnya kasar.
Samuel adalah lelaki yang sangat lembut terhadap keluarganya, namun jika sudah mengusik kehidupannya maka Samuel akan menunjukkan sisi lain seperti halnya Leo.
Semua berawal ketika malam itu. 13 tahun yang lalu, pada saat Samuel kecil melihat Nada kecil yang diperlakukan tak senonoh.
Jeritan demi jeritan dari Dika membuyarkan lamunan Leo yang melihat saudaranya itu mematahkan tiap anggota tubuh Dika, kecuali bagian leher.
"Ambil mainanku," titah Samuel yang langsung dikerjakan anak buahnya sembari menelan ludah.
Deg
Dika semakin histeris melihat cambuk dengan gerigi tajam tengah dimasukkan ke dalam bara api.
"Ja-jangan ...."
Cetassssss
"Aaarrggggg!!!!"
****
..."Balas dendam adalah kobaran api yang membakar para pelaku pembakaran."...
__ADS_1
...- Max Lucado -...
...♡♡♡♡...