
Samuel memegang erat jemari tangan Nada yang terlihat sedikit gemetar. Meskipun Nada berusaha menjauhkan diri, namun Samuel semakin mengeratkan genggamannya. Bisa ia rasakan bahwa wanita itu sedang gugup dan gelisah. Bagaimana tidak, di depan mereka telah ada sepasang pasutri yang terlihat jauh lebih muda dibanding umur mereka yang sebenarnya.
"Siapa wanita ini?" tanya wanita paruh baya yang sedang duduk dengan gaya angkuh.
"Em ... saya karyawan di sini, Nyonya," jawab Nada, sedangkan Samuel masih diam dengan wajah datarnya.
"Lalu kenapa kalian berdua seperti tadi? Dan genggaman itu? Itu bukan hal yang wajar dilakukan oleh atasan dan bawahannya," ujarnya lagi dengan raut wajah yang terlihat sangat marah.
"Em ... tadi saya tak sengaja jatuh, Nyonya," jawab Nada jujur.
"Cih, alasan! Bilang saja kau ingin menggoda anakku, bukan?!"
Samuel langsung menyuruh Nada pergi dan wanita itu menurutinya. Sebelum keluar ruangan, Nada sempat memberi salam hormat untuk kedua orang itu, yang dia tahu adalah orang tua dari Samuel. Begitu Nada pergi, Samuel langsung menatap tajam pada Jasmine, mamanya.
"Kenapa Mama berkata seperti itu padanya?" tanya Samuel yang hanya dijawab kebisuan oleh wanita yang masih cantik meskipun usianya sudah 45 tahun.
Samuel memijit pelipisnya yang terasa sangat sakit. Kedatangan dua orang ini sungguh diluar dugaannya. Yang ia tahu, mereka sedang berkeliling dunia dan hanya akan kembali jika ada masalah perusahaan.
"Perusahaan baik-baik saja, sebaiknya kalian pergilah berlibur kembali. Kalian hanya menggangguku."
Bug
Bantal sofa melayang tepat ke wajah tampan Samuel yang tak sempat menghindar.
"Dasar anak durhaka. Bisa-bisanya berkata seperti itu pada orang tuamu sendiri!" geram Adipati, ayahnya.
Lelaki itu segera membujuk istrinya yang sudah menangis terseduh-seduh di sampingnya. Sungguh ucapan putranya itu sangat menyakitkan baginya, atau ada maksud tersembunyi dari air mata itu?
Samuel menarik nafasnya frustasi dan berjalan ke arah tempat duduk di depannya itu. Dia memegang tangan wanita yang sangat ia sayangi dan membujuknya untuk tak menangis lagi.
"Maafkan aku, Ma," ucapnya lembut.
"Kalau kau ingin maaf dari mama, segera menikah dengan Finna. Tadi ayahnya meminta agar Finna dijodohkan denganmu," ucap Jasmine masih menangis hingga Adipati menatap tajam ke arah putranya.
"Mama tahu kalian sudah saling mengenal sejak SMA, jadi tak ada salahnya kami menerima hal itu. Lagian, umurmu sudah cocok untuk membina rumah tangga," lanjutnya lagi. Ia tak memperhatikan wajah Samuel yang sudah merah meradang.
"Aku tak mau! Dan jangan harap aku menyetujui hal itu. Kalian tahu aku hanya mencintai Nada!" geram Samuel dan langsung melangkah menuju meja kerjanya.
"Apa yang kau harapkan dari wanita itu? Dia saja tak bisa mengingatmu kembali!" tekan Jasmine.
"Lebih baik kau berhenti berharap dan biarkan dia menjalani kehidupannya sekarang. Apa kau ingin dia bunuh diri karena rasa bersalahnya itu?! Apa kau lupa kalau dirimu lah yang akan memicu ingatannya kembali?! Kalau dia mati berarti itu karena perbuatanmu!" ucap Jasmine menggebu-gebu sebelum akhirnya melangkah pergi dari sana.
"Sudah, kau terima saja. Pertunangan kalian akan dilakukan 3 hari lagi! Dan nanti malam datanglah ke VC Restaurant. Kita akan makan malam bersama Finna dan ayahnya!" ucap Adipati tegas tak menerima bantahan lalu bergegas menyusul langkah sang istri.
Samuel dengan cepat mengambil telepon genggam miliknya dan menghubungi kontak yang dia simpan dipanggilan cepat nomor 2.
"Apa kau sudah menemukan lelaki itu?!" tanya Samuel frustasi.
__ADS_1
"Belum, Tuan. Dia sangat pintar menyamar," ucap seorang pria di seberang sana.
Brak
Samuel melempar telepon genggam miliknya dan menghancurkan segala macam barang di atas meja sana. Ruangan itu sudah seperti kapal pecah karena amukan dari lelaki tampan itu.
"Sial! Sial! Sial!"
Brak
.........
Nada yang baru saja keluar dari ruangan Samuel, dikejutkan dengan sosok pria yang berdiri tepat di hadapannya.
"Leo!" pekiknya kaget sembari memegang dadanya.
"Apa yang kau lakukan di sini, Nad?" tanya Leo sambil tersenyum tanpa merasa bersalah sedikit pun.
"Ah ... aku ada sedikit urusan tadi. Kalau begitu, aku pergi ke bawah dulu, Kak," ujar Nada sambil berlalu pergi. Namun, langkahnya tertahan ketika Leo menggenggam tangannya.
Seperti tahu arti dari tatapan Nada, Leo segera melepaskan genggamannya dan berkata, "Selesai jam kantor, tunggu aku sebentar. Ada yang ingin aku bicarakan denganmu."
"Tapi aku harus segera pergi nanti, Kak," sanggah Nada cepat.
"Ke VC Restaurant, kan? Aku akan mengantarmu," sahutnya lagi dengan tersenyum, sebelum akhirnya mengizinkan Nada pergi ke lantai 25.
.........
Di waktu yang sama
****
"Apa?! Benarkah, Pa?!" pekik Finna kencang. Ia sangat senang karena mendengar berita mengejutkan dari ayahnya lewat telepon.
"Ya, sebaiknya kau persiapkan dirimu. Berdandanlah dengan cantik dan seksi. Ini kesempatan kita agar bisa menjadi lebih kaya. Pergunakan tubuhmu dengan pintar," sahut Damar, ayahnya.
"Tenang saja, Pa. Serahkan semuanya padaku," ucap Finna girang dan langsung memutus sambungan telepon tersebut. Dia seakan lupa kekesalannya kemarin, ketika sudah tak menemukan Samuel di restoran.
"Kau lihat, Sam. Kau memang jodohku sejak dulu. Kau hanya milikku dan aku tak akan pernah melepaskanmu." Finna berbicara sambil memperhatikan foto Samuel yang berada di dalam telepon genggamnya. Dia menciumi foto itu seperti orang yang kehilangan akal.
"Ah ... aku harus pergi ke salon sekarang," ucapnya sambung berlari ke luar dapur. Dia tengah membuat hidangan untuk tamu, namun itu tak lagi penting sekarang ini.
.........
Admadewa Grup
Pukul 2 siang
__ADS_1
Tempat parkir
****
"Apa yang ingin kau katakan, Kak?" tanya Nada yang saat ini sedang berada di dalam mobil Leo, sedangkan yang ditanya terdiam melamun seperti memikirkan sesuatu.
Tadi ketika Nada sudah kembali ke lantai 25, tak lama kemudian Jasmine dan Adipati keluar dari ruangan Samuel. Dia jelas melihat wajah Jasmine terlihat sangat marah dan mengeluarkan air mata. Pasti terjadi sesuatu hingga ketika ia masuk ke dalam ruangan Samuel, ruangan itu sudah sangat berantakan dan darah segar mengalir dari tangan lelaki itu.
"Kak," panggil nada lagi.
"Ah ... iya ... maafkan aku. Tadi kau berkata apa, Nad?" tanya Leo tersenyum dan mulai menjalankan mobilnya.
"Apa yang ingin kau bicarakan, Kak?" tanya Nada sembari membetulkan duduknya.
"Hhm ... itu ...."
Entah kenapa ia menjadi sangat gugup sekarang. Jantungnya berdetak dengan sangat cepat mengalahkan laju motor yang baru saja melewati mobilnya. Sangat cepat hingga mendapat hadiah klakson dari para pengguna jalan.
"Apa kau masih sendiri?" tanya Leo.
"Sendiri? Maksudnya?" Nada malah bertanya balik karena ia tak mengerti maksud dari pertanyaan yang Leo berikan.
"He'em ... maksudku apa kau belum memiliki pacar?" tanya Leo lebih detail.
"Oh ... belum, Kak. Memangnya kenapa?"
Nada masih belum mengerti arah pertanyaan Leo hingga ia menjawabnya dengan santai sambil menatap lurus ke depan.
"Itu ... apakah aku bisa kau pertimbangkan?"
Deg
Nada menegang di tempatnya ketika akhirnya mengetahui maksud Leo. Dia pun mengarahkan tatapannya pada lelaki di sebelahnya itu.
Lelaki yang menurutnya sangatlah baik dan dewasa. Leo, lelaki itu memiliki kulit sawo matang. Matanya berwarna cokelat, seperti warna rambutnya yang sedikit kecokelatan. Tinggi badannya diperkirakan sekitar 180 cm dengan badan yang kekar dan tegap. Wajahnya tampan dan lesung pipi menjadi ciri khasnya.
Nada terus memperhatikan lelaki itu. Lelaki yang sejak dulu membantunya ketika ia mengalami kesulitan dan selalu menghibur dirinya ketika ia bertengkar dengan ayahnya.
"Akan aku pikirkan," ucap Nada pada akhirnya sembari tersenyum, namun berbeda dengan hatinya yang merasa sakit entah karena apa.
****
..."Ada yang diam-diam masih menaruh harap, dia rajin memintamu dalam doanya walaupun ia tahu keterkabulan doanya sepertinya jauh dari kata mungkin."...
...-Ferryanugerah-...
...♡♡♡♡...
__ADS_1