
Nada melangkahkan kakinya dengan senyum ceria tak pernah hilang dari bibir merah alaminya. Ia tak memedulikan tatapan sinis semua orang yang berpikir jika si cupu penggoda telah datang kembali ke kantor.
"Selamat pagi," sapa Nada ceria pada cleaning service di dekat lift.
"Pagi, Nona," balasnya tersenyum.
Hanya Nada yang akrab dengan para cleaning service di sana. Wanita itu selalu menebar kebaikan di mana pun, namun anehnya banyak yang membenci dirinya karena gosip yang belum tentu benar.
Ting
Nada buru-buru masuk ke dalam lift di sebelah kiri yang baru saja terbuka, sedangkan beberapa orang yang naik dari basement menatap penuh jijik pada Nada dari dalam sana.
"Selamat pagi."
Nada menyapa mereka yang hanya dijawab angin lalu. Ia buru-buru menekan angka 25 dan memilih berdiri di pojokkan.
"Cih! Lihatlah dia. Sudah lama tak muncul di sini, sekarang datang lagi. Memangnya ini perusahaan miliknya apa?!" ketus seorang wanita yang sengaja mencari gara-gara di pagi yang indah itu.
Kau bodoh! Tentu saja ini milikku. Apa yang dimiliki suami, itu juga milik istri. Batin Nada.
Tentu saja Nada tak akan berani membuka jati dirinya. Nada sudah mewanti-wanti Samuel sejak awal menikah jika ia tak ingin mengumumkan pernikahan ini karena Nada tak ingin dalam proses mengejar cita-citanya, orang-orang beranggapan bahwa dia hanya mengandalkan Samuel. Nada ingin membuktikan pada semua orang jika ia bisa karena kemampuannya sendiri.
Tiba-tiba ingatannya tertuju pada suami tampannya. Tadi pagi, lelaki itu buru-buru pergi karena ada rapat dan meninggalkan Nada yang masih tertidur nyenyak akibat ulah Samuel yang berhasil membujuk dirinya untuk menggunakan tangan lentik itu sebagai sarana olahraga.
Nada memberikan pesan singkat yang langsung dibalas hanya dalam beberapa detik saja.
... ๐ฐ : Sayang, apa kau sibuk?...
...๐คต: Iya, sayang. Aku masih rapat. Apa kau merindukanku?...
...๐ฐ : Tentu saja....
__ADS_1
...๐คต : ๐๐๐๐๐๐๐๐๐๐...
Nada tersenyum lucu ketika Samuel memberikan stiker kiss yang sangat banyak hingga mampu membuatnya lupa pada para semut yang terus bergosip tentang dia di hadapannya itu.
Ting
Nada buru-buru keluar ketika lift yang tengah berhenti tepat di lantai 25, mengundang tatapan seluruh karyawan tertuju padanya yang hanya acuh tak acuh melangkah menuju meja kerjanya.
Nada tertawa pelan ketika mengingat pertama kali bekerja dan dibuat syok dengan meja kerja yang sangat spesial ini. Samuel sangat mengetahui jika dirinya menyukai warna pink sejak kecil, juga dekorasi wisudanya pun didominasi warna serupa. Lelaki itu memang sangat perhatian.
"Selamat pagi," sapanya lagi meskipun tak ditanggapi.
Beberapa saat kemudian, Nada tengah larut dalam pekerjaannya. Meskipun tak banyak, namun ia melakukan yang terbaik untuk bisa membantu perusahaan Samuel.
"He'em ... kau, apa kau tahu di mana Pak Lukas?" tanya Nada pada salah satu karyawan di sana yang menjawab dengan sikap malas.
"Dia sudah berhenti sejak 2 minggu lalu."
Deg
"Apa kau memiliki nomor ponselnya?" tanyanya lagi sebelum sebuah pesan masuk ke handphone-nya dari nomor tak di kenal.
Nada mengeritkan dahi sebelum akhirnya membuka pesan tersebut.
...Kau mencariku? Datanglah ke Youth Cafe sekarang juga. Jangan sampai ada yang melihatmu menemuiku. Samuel telah menyiapkan para pengawal bayangan di sekitarmu, jadi carilah cara agar tak sampai ketahuan. Lukas....
Deg
Nada melihat jam di tangannya sudah menunjukkan pukul 10 pagi dan bisa dipastikan jika Samuel masih sangat sibuk. Mungkin sebaiknya dia pergi sekarang, pikirnya.
Dia kemudian melangkah dari sana hanya membawa handphone dan pisau lipat yang menjadi senjata rahasianya sejak dulu. Nada menyimpan benda tajam itu di saku celana longgar yang ia kenakan.
__ADS_1
Sebenarnya tadi pagi Nada ingin memakai baju formal dan mendandani diri menjadi cantik, namun ucapan Samuel semalam, langsung membuatnya mengurungkan niat tersebut.
"Kau harus memakai baju seperti syarat awal kau diterima bekerja. Kalau kau tak menurutiku, aku akan membuatmu pingsan di atas ranjang ketika kita melakukan malam pertama," ancam Samuel yang langsung dipatuhi Nada bak anak ayam.
Ting
Bunyi lift membuat Nada tersentak. Ia buru-buru keluar dari sana dan menempel di dinding seperti cicak. Nada mengamati suasana yang sepi itu karena para karyawan sedang sibuk-sibuknya bekerja.
Nada kemudian memilih menuruni tangga menuju basement karena tadi di lobby ia melihat beberapa pria yang mencurigakan. Mereka bukan karyawan di sana terlihat dari sikap mereka yang santai tanpa beban dengan penampilan yang sudah diprediksi bahwa mereka adalah mengawal yang menyamar.
"Aku datang." Nada mengirim pesan ke nomor ponsel Lukas sembari turun terburu-buru.
Suasana Basement terlihat cukup gelap dan sangat sepi hingga Nada bisa bergerak leluasa, namun penuh kehati-hatian. Nada memilih berjalan di antara sela mobil yang terparkir sejajar berharap dengan melakukan itu, tak akan ada yang melihatnya.
"Maafkan aku, sayang," ucapnya merasa bersalah.
Kini Nada telah berhasil keluar dari basement dan bersandar di dinding dengan mata yang terus waspada. Ia menormalkan detak jantungnya yang berdegup sangat cepat. Ini sungguh menegangkan daripada dia tertembak 2 minggu yang lalu.
Nada sangat takut jika Samuel mencium aroma pelariannya ini. Bisa-bisa lelaki itu akan sangat murka dan tak mengizinkannya bekerja lagi. Dia kemudian mulai berjalan mengendap-ngendap dari pohon yang satu ke pohon yang lain, sebelum ...
Grepp
Nada sangat terkejut ketika ada yang menarik tangannya hingga tubuh langsing itu masuk ke dalam pelukan seseorang.
Deg
"K-kau!"
****
..."Terkadang apa yang kita lihat, tak sesuai dengan kenyataan."...
__ADS_1
...- Anonim -...
...โกโกโกโก...