Koki Cantik Kesayangan Tuan Muda

Koki Cantik Kesayangan Tuan Muda
Bab 64 : Kebahagiaan dan Kesedihan


__ADS_3

Nada mengusap keringatnya dengan tissue lalu menarik nafas lega ketika ia berhasil melawan rasa traumanya meskipun kakinya terus bergetar. Wanita itu menatap ke depan dimana Samuel memberikan senyum terbaiknya atas pencapaian Nada hari ini.


Kini semua orang tampak tegang ketika juri mulai berjalan untuk mencicipi masakan masing-masing kontestan. Mereka menghampiri meja pertama yang menghidangkan masakan khas Italia, yaitu risotto. Makanan ini memiliki tekstur lembut dan bisa dimasak dengan beragam campuran.


"Hmm ... apa kau sudah mencoba terlebih dahulu masakanmu ini?" tanya seorang juri yang baru selesai mencicipi.


"Belum," sahut sang kontestan karena dia memang belum mencobanya, namun ia yakin jika masakannya itu tak akan gagal.


Semua juri mulai ikut mencicipi dengan Samuel yang ikut andil. Mereka terlihat saling menatap satu dengan yang lain, sebelum akhirnya Samuel angkat bicara.


"Gosong," ucap Samuel datar. Tentu itu adalah kenyataannya karena masakan itu memang memiliki rasa gosong yang cukup kuat.


"Kunci sukses membuat risotto adalah dengan mengaduknya terus menerus dan menambah kaldu sedikit demi sedikit agar tak gosong. Sepertinya kau terlalu gugup hingga tak teliti dalam membuatnya," sambungnya lagi.


Mereka pun berjalan menuju meja kedua, meninggalkan kontestan pertama yang tengah menunduk kecewa.


"Terlihat enak, tapi saya belum tahu rasanya," ucap seorang juri sembari mengambil sendok dan mulai menyuapkan sepotong cumi asam manis ke dalam mulutnya. Begitu pun dengan yang lain.


Tiba-tiba ...


Huekk


Seorang juri memuntahkan makanannya setelah mengeluarkan rambut yang panjangnya kurang lebih 15 cm dan berwarna kuning sesuai rambut sang kontestan tersebut. Dia yang tadinya sedang lahap-lahapnya, dibuat sedikit bingung ketika sesuatu tersangkut di tenggorokannya.


"Ma-maaf ..." ucap sang kontestan lirih. Hancur sudah nilai tinggi yang diperolehnya barusan karena ulahnya sendiri.


Selanjutnya, mereka bertolak ke meja Nada yang sudah pucat pasih. Melihat dua kontestan yang melakukan kesalahan, membuat Nada semakin panik dan berpikir kalau-kalau ada ulat di selada air yang dipakainya. Atau mungkin, ada rambut yang jatuh di atas masakannya. Nada sedang mencari-cari kesalahannya hingga semua juri telah sampai tepat di hadapannya.


Glek


Keringat dingin mulai keluar dari pori-porinya karena mereka tengah menatap piring putih dengan sandwich di atasnya itu. Terlihat sangat sederhana jika dibandingkan dengan dua kontestan sebelumnya.


"Sandwich? Kenapa kau hanya membuat sandwich? Seharusnya kau bisa lebih menunjukkan kemampuanmu pada final hari ini," kata seorang juri yang langsung dibenarkan oleh yang lain.


"Tapi bukankah tantangannya hari ini adalah menu bebas?" tanya Nada kebingungan hingga langsung membuat mereka terdiam. Benar juga, pikir mereka.


Mereka kemudian mengambil potongan kecil lalu memakannya dalam keheningan. Sandwich ini memang sangat sederhana dan semua orang dapat membuatnya, namun entah mengapa, yang dibuat oleh Nada terasa begitu istimewa.


Nada, wanita itu selalu memasak menggunakan hati. Perasaan cinta dan ikhlas yang ia curahkan dalam setiap masakannya membuat makanan apa pun memiliki rasa yang begitu lezat. Terlebih hari ini, ketika ia membuat sandwich yang rasanya sangat nikmat itu karena Nada menuangkan segala rasa cinta, rindu, kasih sayang untuk sang ayah.


Beberapa saat kemudian


"SELAMAT KEPADA DIANADA SAFALUNA ABIYAKSA TELAH MENJADI PEMENANG HARI INI!!" seru Darius lantang.

__ADS_1


Deg


Samuel langsung berlari menuju Nada yang terdiam mematung berusaha mencerna segalanya. Lelaki itu memeluk Nada begitu erat dan mengangkat sang istri sembari berputar-putar. Mereka menikmati kebahagiaan ini tanpa memikirkan betapa terkejutnya semua orang yang menonton.


"KAU BERHASIL!!" teriak Samuel.


"Ya, aku berhasil!!" seru Nada tak kalah lantang.


Sementara itu, para orang tua yang mulai pulih pun turut berbahagia atas pencapaian Nada. Mereka semua berjoget ria dengan penuh suka cita meskipun kaki dan tangan masih dibalut gips.


"MENANTUKU HEBAT!!"


Steve terlihat menangis haru. Dia sepenuhnya telah mendukung cita-cita Nada. Meskipun dia masih takut bertemu sang putri karena Samuel telah menceritakan segalanya pada mereka, namun ia akan mencari waktu yang tepat untuk menjelaskan pada Nada.


Papa bangga padamu. Batin Steve


.........


Kamar Nada dan Samuel


Malam harinya


****


"Kenapa kau melakukan itu? Bagaimana bisa kau tega membuatku melupakan ayah?" kata Nada sembari memukul dada Samuel.


"Sssttt ... maafkan aku, hem? Aku tahu aku salah, tapi aku melakukan semua itu untuk melindungimu, sayang."


"Ta-tapi kenapa harus seperti itu? Dan selama ini yang mencoba membunuhku adalah Diki yang ternyata anak dari lelaki jahat itu? Apa salahku?"


Nada semakin histeris ketika ia menemukan fakta bahwa keturunan Gustaf lah penyebab segala penderitaannya. Seharusnya dia lah yang membalas dendam pada mereka, namun kenapa malah dia yang menjadi korban di sini?


"Kau tak salah. Mereka hanya orang-orang yang gelap mata saja. Aku sudah membunuh lelaki itu dan Diki, dia sepertinya sudah ingin mengikuti jejak ayahnya."


"A-aku ingin bertemu Di-diki," pinta Nada penuh geram. Tentu Nada akan membalas semua kesakitannya ini pada lelaki tak tahu malu itu.


"Ya, besok aku akan mengantarmu menemuinya."


.........


Gudang tua Samuel


****

__ADS_1


Lelaki dengan luka yang sudah bernanah dan infeksi itu telah terbujur tak berdaya di sudut ruangan yang lembab dan kotor. Wajahnya pucat pasih karena menahan siksaan yang setiap hari diberikan oleh anak buah Samuel.


"Si-sialan! Tunggu saja aku keluar dari sini, aku akan melenyapkan kalian semua!" teriak Diki penuh dendam.


Bug


Diki terkejut ketika tubuh seorang wanita terlempar tepat di sampingnya. Dia mencoba mencari tahu dan semakin terkejut bahwa wanita itu adalah teman ranjangnya.


"Fi-finna?"


Finna pun tak kalah terkejut. Wanita itu bahkan mengucek mata beberapa kali demi memastikan sosok di depannya ini.


Deg


"Lu-lukas? Benarkah kau Lukas?"


Finna tak menyangka bisa bertemu lelaki itu di sini. Ia menatap tubuh Diki penuh rasa jijik karena kulit yang dulunya putih bersih itu, kini telah penuh dengan luka.


"Sa-sayang."


"Menjauh dariku!" hardik Finna sembari merangkak mundur karena tatapan Diki seakan ingin memakannya.


"Kemari. Biarkan aku menciummu."


"Ti-tidak! Menjauh dariku, brengsek!"


Diki tak menyerah dan terus mendekati Finna yang semakin mual karena bau tubuh Diki sungguh menjijikkan. Meskipun adik kecil Diki masih sakit akibat ulah Leo, namun ketika melihat Finna yang hanya memakai dalaman saja, membuat inti tubuhnya seketika bereaksi.


Grepp


"Aarrrrggghh!!!" Finna menjerit histeris karena Diki telah mencumbu ganas dirinya. Nanah busuk itu telah menempel di tubuhnya hingga membuat Finna langsung muntah-muntah.


Jleb


"TIDAK!!"


Kini inti keduanya telah menyatu setelah Diki merobek dalaman Finna. Lelaki itu seperti kesetanan menghujam tubuh Finna yang tengah jatuh pingsan.


****


..."Proses pendewasaan dalam hidup ini adalah melalui ujian-ujian yang terjadi dalam hidupmu."...


...- Anonim -...

__ADS_1


...♡♡♡♡...


__ADS_2