Koki Cantik Kesayangan Tuan Muda

Koki Cantik Kesayangan Tuan Muda
Bab 66 : Buku Diari Mikael


__ADS_3

Mata polos penuh genangan air mata yang siap tumpah itu, tengah menatap penuh kerinduan pada objek di hadapannya. Gerbang kayu berwarna cokelat dengan aksen buah ceri, semakin memperindah rumah sederhana masa kecilnya. Apalagi terdapat tambahan gedung mewah di halaman belakang sana. Dulunya tempat itu adalah kebun singkong dan disulap oleh Adipati menjadi istana minimalis yang terlihat begitu asri.


Dengan penuh keberanian, kaki yang tadinya ingin berlari pergi, mulai berjalan menelusuri halaman yang dipenuhi bunga mawar. Semakin dekat, semua ingatan tentang sang ayah menghantam dirinya hingga membuat Nada seketika terduduk di atas tanah yang mulai basah karena hujan mulai turun rintik-rintik.


"Ayo, kita pergi," pinta Samuel yang terus berada di samping Nada demi menopang sang istri.


"Tidak. Aku yang memintamu memutar arah untuk ke sini. Biarkan aku masuk."


Mereka akhirnya berjalan masuk ke dalam sana diiringi suara isakan dari Nada yang tak tahan akan beban di hatinya. Langkah demi langkah yang ditelusuri, semakin membuat Nada memegang erat jemari tangan Samuel yang memeluknya tak kalah erat dari arah samping.


"I-ini ...."


"Bukankah masih sama? Kami semua merawat ini untuk dirimu."


Nada langsung masuk ke dalam dekapan Samuel. Keduanya berada diposisi yang sama untuk waktu yang cukup lama sebelum akhirnya Nada membuat jarak dan berjalan menuju kamar Mikael.


Deg


Ini tak ada yang berubah. Semua barang masih sama seperti apa yang aku ingat terakhir kali. Batin Nada.


Nada kemudian masuk dan duduk di atas kasur yang sedikit keras itu. Ia terdiam menatap kosong semua barang peninggalan milik Mikael yang ditata begitu rapi. Ayahnya adalah orang yang begitu bersih dan menyukai kerapian. Meskipun rumah mereka sederhana, namun terasa begitu nyaman karena Mikael dan Nada selalu rutin membersihkan tempat tinggal mereka.


Samuel tersenyum dan perlahan duduk di samping Nada setelah Nada menyuruhnya masuk dan menepuk sisi di sebelahnya. Lelaki itu memegang pundak Nada yang menatapnya penuh rasa cinta. Samuel patut bersyukur karena Nada tak meninggalkannya akibat kebohongannya selama ini. Nada pun menyadari bahwa Samuel juga memikul beban yang begitu berat sejak dulu.


"Terima kasih ..." ucap Nada lirih sembari memegang kedua pipi Samuel yang melakukan hal yang sama.


"Sama-sama, sayang."


Cup


Samuel mengecup lembut dahi Nada yang tengah memejamkan mata. Air bening itu semakin luruh hingga Samuel kembali memeluk tubuh rapuh itu. Tak ada yang bersuara selain tangisan yang kembali terdengar lagi dan lagi. Air mata yang menunjukkan betapa Nada sangat merindukan sosok Mikael, ayah paling hebat di dunia.


"A-aku ingin bertemu ayah, Vio ..."


"Nanti kita akan berkunjung ke tempat ayah, hem?"


"Dimana?"


Nada langsung mengangkat wajahnya dan memandang penuh harap pada Samuel yang masih belum mengerti maksud ucapan Nada.

__ADS_1


"Di Jakarta. Papa sudah memindahkan tempat ayah di sana," ucap Samuel pada Nada yang menatap tumpukan buku di atas meja kecil sana.


Wanita itu berdiri dan mendekat lalu mengambil satu buku kecil berwarna merah dengan pita putih yang menjadi perekatnya. Nada membuka lembar pertama dan langsung terdiam mematung melihat sebuah kalimat kecil yang sedikit memudar itu.


...DIARI TENTANG PUTRI CANTIKKU, NADA...


Dengan tangan gemetar, Nada mencoba membalikkan halaman, namun tak kunjung bisa hingga Samuel yang sejak tadi ikut berdiri, dengan perlahan membantu Nada membuka halaman selanjutnya.


Samuel adalah orang yang menemukan benda itu beberapa tahun yang lalu ketika ia tengah membereskan rumah Mikael. Benda itu terselip di bawah lemari dengan kondisi yang rusak di bagian sampul.


Lelaki itu begitu pintar dan sangat menghargai privasi orang lain. Dia memilih memperbaiki sendiri sampul tersebut dengan yang sama persis lalu menyimpannya di brankas miliknya. Ingatan Nada yang kembali, membuat Samuel memutuskan meletakkan benda itu ke tempat yang semestinya dengan bantuan Leo yang mengirimnya dari Jakarta.


...--...


Akhirnya putriku lahir ke dunia berkat kerja keras istriku. Aku memberinya nama Dianada Safaluna Abiyaksa sesuai permintaan Ayu. Bukankah namanya sangat cantik? Kata orang, nama bisa mewakili karakter seseorang. Aku dan Ayu berharap, putri cantik kami bisa tumbuh menjadi anak yang kuat dan selalu menebar kebaikan di segala tempat.


Nada baru saja menguap. Wah, dia begitu cantik. Aku tak rela jika harus melihat dia menikah nanti. Kata Steve, aku sungguh gila. Putriku belum lama lahir, tapi aku sudah memikirkan dia akan menikah kelak.


Meskipun aku bahagia, tapi aku nyatanya tak bisa menyembunyikan kesedihanku. Kehilangan Ayu adalah hal terberat bagiku. Aku begitu putus asa dan berpikir, apakah aku bisa menjadi ayah yang baik untuk putriku?


Aku akan mencoba sebisaku. Sayang, tolong lihat aku dari atas sana, ya? Aku merindukanmu.


...--...


Nada baru saja mengomel tiada henti. Kenapa dia begitu lucu? Rasanya aku ingin memakannya, tapi mencubit pipinya saja aku begitu takut. Aku menimangnya penuh kehati-hatian karena takut manusia mungil ini jatuh ke lantai.


Wah, pipinya kenapa sangat lembut? Aku bahkan harus bertengkar dengan Yuni dan Steve karena mereka berdua membuat pipi putriku memerah. Mereka terus mencium Nada. Cih, menyebalkan. Aku begitu cemburu. Kenapa mereka begitu mudah melakukan hal berbahaya pada Nada? Aku saja rasanya ingin menahan nafas setiap kali di dekat Nada.


...--...


Putriku tumbuh semakin besar. Bisakah kau tetap kecil saja, nak? Supaya ayah bisa terus menjagamu. Hari ini kau berumur 6 bulan. Matamu bulat dan begitu jernih. Setiap kali melihat wajahmu, papa selalu teringat ibumu.


Sayang, apa kau melihatku? Apa aku sudah menjadi ayah yang baik? Kau tahu, setiap hari aku hanya tidur 2 jam saja. Nada selalu terbangun tengah malam dan aku terus menimangnya berjam-jam. Aku juga menyuapinya susu yang dibelikan oleh Yuni. Tapi, apa susu bayi memang hambar? Aku terlebih dulu mencobanya karena takut rasanya pedas. Apa aku begitu bodoh? Steve dan Yuni bahkan terus mengejekku karena susu itu.


...--...


Wah, putriku sudah berumur 1 tahun. Rambutnya tumbuh dengan lebat karena aku selalu mengolesinya dengan minyak kemiri.


Sayang, aku menjaga putri kita dengan baik. Aku berusaha keras mengajarinya hal-hal baik dan selalu melindunginya. Apakah aku sudah menjadi ayah yang bertanggung jawab? Aku ingin mencari pekerjaan yang lebih baik agar bisa membelikannya susu dan popok yang banyak.

__ADS_1


Hari ini begitu menguras tenaga. Aku melakukan 3 pekerjaan sekaligus agar mendapatkan uang lebih. Nada, apa kau akan bangga pada ayahmu ini? Maaf, ayah tak bisa memberikan banyak padamu.


Sayang, bisakah kau datang ke dalam mimpiku? Aku sangat lelah. Aku ingin mendekapmu dan berkeluh kesah seperti yang dulu selalu aku lakukan. Aku merindukan pelukanmu yang selalu menenangkanku. Sekarang aku hanya bisa memeluk Nada dan menangis sembari menimangnya.


...~~~...


Nada terisak begitu menyayat hati. Wanita itu telah terduduk di lantai kamar dengan Samuel yang ikut menangis. Nada buru-buru menutup buku diari Mikael karena tak sanggup membaca lebih banyak lagi.


"Ke-kenapa? Ke-kenapa harus ayah?! Tuhan sangat jahat!!" teriak Nada penuh kepiluan. Kejadian tentang Mikael yang dibakar hidup-hidup kembali diingatnya.


"Hei! Manusia yang berencana, tapi Tuhan yang menentukan. Kau tak boleh menyalahkan-Nya," tegur Samuel.


"Ta-tapi ... a-aku ingin ikut ayah."


Bug


****


..."Mantra-mantra penghapus basah tatapku...


...Tiap dendang lantun macapat mengiring sendu...


...Seperti suara hati yang tersampaikan padaku...


...Bahkan suara gitar berbeda saat anganku...


...Menuju kenangmu...


...Getar yang memancar melahirkan syair...


...Bak pujangga berlagu...


...Ini untukmu,Itu buatmu,...


...Dan do'a sebagai baktiku."...


...- Eko Putra Ngudidaharjo -...


...♡♡♡♡...

__ADS_1


__ADS_2