Koki Cantik Kesayangan Tuan Muda

Koki Cantik Kesayangan Tuan Muda
Bab 22 : Ayah Ibu, I Love You!!


__ADS_3

Di dalam ruang operasi


****


Operasi berjalan dengan penuh ketegangan dari para tenaga medis di dalam sana. Wajah semua orang sudah pucat pasih karena ancaman Samuel yang terngiang-ngiang di kepala mereka.


"Aku akan membunuh kalian dan membuat keluarga kalian menerima akibatnya jika wanita itu tak bisa kalian selamatkan!!" Ucapan arogan itu Samuel lontarkan sebelum mereka membawa masuk tubuh seorang wanita yang sudah bersimbah darah.


"Dokter, detak jantungnya sangat lemah," ucap seorang perawat pada sang dokter yang terdiam mematung.


Para dokter sebenarnya sudah memprediksi jika wanita itu sudah meninggal dalam perjalanan karena detak jantungnya tak terdengar lagi serta nafas yang sudah berhenti. Namun, pria tampan dambaan setiap wanita itu langsung memukul dokter muda yang mengatakan hal tersebut secara terang-terangan.


Mereka sudah berjam-jam mencoba menyelamatkan Nada dengan penuh kehati-hatian, hingga detak jantung itu kembali terdengar meskipun sangat lemah.


Peluru itu hanya berjarak 2 cm dari jantungnya, namun karena Nada pernah melakukan transplantasi jantung sewaktu kecil hingga membuat mereka tak bisa bertindak gegabah.


Tiba-tiba ...


Tttttiiiiiiitttttttttt


Bunyi nyaring dari monitor jantung mengejutkan semua orang di dalam sana. Dokter spesialis jantung yang terdiri dari 5 orang sudah gemetar berusaha melakukan penyelamatan terakhir bagi wanita malang itu.


.........


💕 Mimpi Nada 💕


"Nak," panggil seorang pria tampan pada Nada kecil yang tengah bermain di taman belakang restoran.


"Ayah!!"


Nada kecil buru-buru berlari ke arah ayahnya yang tengah merentangkan tangan menerima tubuh mungil Nada. Lelaki itu memeluk erat anak semata wayangnya dengan perasaan sayang luar biasa.


"Apa ayah sudah selesai bekerja?"


"Ya, sayang. Apa kau ingin berkencan dengan ayah di pasar malam, hem?"


"Aku mau, aku mau!!"


Anak dan ayah itu tersenyum sangat cerah dan terlihat bahagia. Malam semakin larut ketika mereka sampai di pasar malam yang terletak tak jauh dari rumah mereka.


"Ayah, boleh aku makan permen kapas?" tanya Nada kecil yang sedang berada di dalam gendongan ayahnya.


"Tentu saja. Belilah apa pun yang kau mau, hem? Ayah akan membelikan semua apa yang kau inginkan."


Nada bersorak gembira dan mencium pipi ayahnya dengan penuh kasih sayang.


"Terima kasih, Ayah,"

__ADS_1


Mereka berjalan ke arah gerobak yang menjual permen tersebut dan langsung membeli 2 sekaligus. Nada yang tak sabaran pun buru-buru membuka bungkusannya.


Hap


Nada melahap seperti orang yang kelaparan. Ia sangat rakus, namun malah terlihat begitu lucu hingga ayahnya tertawa terpinggal-pinggal.


"Pelan-pelan, sayang."


Ayah Nada membersihkan sisa permen di sudut bibir mungil putrinya. Ia mengusap pelan kepala bocah itu yang tengah berputar kesana kemari karena terlalu bahagia melihat semua permainan yang ada di sana.


"Ayah, boleh aku naik itu?"


Nada kecil langsung berlari ke arah mobil-mobilan setelah mendapatkan persetujuan dari ayahnya.


"Ayah!!"


Bocah itu menggerakkan tangan mungilnya seperti sedang membersihkan kaca. Ayah Nada pun membalas tak kalah semangat. Lelaki yang masih sangat gagah pada usia 33 tahun itu tak pernah memalingkan wajahnya dari sang putri.


"Ayah, aku ingin naik itu."


Mereka akhirnya berjalan kembali ke arah komedi putar. Ayah Nada pun ikut naik untuk menjaga Nada kecil agar tak terjauh. Waktu terasa sangat indah bagi Nada yang tak banyak memiliki waktu bermain seperti itu. Keuangan keluarganya yang minim membuat Nada kecil menyadari bahwa ia tak boleh menjadi anak yang penuntut.


"Sayang, apa kau bahagia?"


Ayah Nada memeluk Nada kecil yang ia dudukkan di pangkuannya. Mereka saat ini tengah berada di salah satu permainan impian setiap anak, bianglala.


Cup


"Jadilah anak yang baik dan kuat, hem? Tak perlu bersedih karena ucapan dari teman-temanmu."


"Ya, Ayah. Aku tak akan sedih lagi."


Nada merupakan korban bully sejak ia memasuki sekolah dasar. Hidup di keluarga yang miskin tanpa seorang ibu membuatnya menjadi bual-bualan teman sekelasnya.


Banyak yang berkata ibunya pergi karena Nada anak yang nakal. Ada juga yang berkata jika Nada adalah anak pungut. Tentu ucapan itu sangat melukai perasaan Nada kecil. Sejak ia lahir, Nada tak pernah ditimang oleh ibunya sendiri. Wanita yang telah melahirkannya itu harus meregang nyawa ketika melahirkan dirinya.


Tetangga mereka pun sering bergosip dan mengatakan jika dirinya adalah anak pembawa sial. Mungkin mereka hanya kesal karena tak mampu mendapatkan ayah Nada yang sangat tampan. Lelaki itu lebih memilih tak menikah lagi karena rasa cintanya pada sang istri dan ia tak ingin Nada mendapatkan kasih sayang tak tulus dari orang lain.


Bayangkan ...


Bayangkan anak sekecil itu harus menerima diskriminasi sosial sejak balita, sejak ia baru pertama kali membuka bola mata jernihnya untuk melihat dunia.


Dulu, ketika Nada masih kelas 1 SD ia pernah di tuduh mencuri oleh teman sekelasnya dan dipermalukan di tengah-tengah lapangan sekolah. Mental Nada jelas langsung jatuh. Nada tak bisa berpura-pura tegar karena ia hanya anak kecil yang menjadi korban dari orang-orang yang tak memiliki hati.


Jika ada yang berkata, "Mereka masih kecil, itu hanya candaan belaka." Lalu bagaimana ketika mereka tumbuh besar nanti dan paham yang dibiarkan salah itu semakin tertanam dalam pikiran anak?


Ayah Nada bahkan harus beberapa kali memindahkan Nada ke sekolah lain karena tak tahan melihat putri kebanggaannya menerima hujatan demi hujatan. Ketika ia bertanya pada Nada kecil tentang kondisinya, bocah itu hanya akan berkata, "It's ok, Ayah."

__ADS_1


Namun nyatanya, semua itu hanya tipu muslihat dari Nada kecil. Setiap malam Nada akan menangis di bawah selimut. Ia hanya akan menumpahkan semua kesakitannya seorang diri di dalam bungkusan benda itu.


Ayah Nada pun tak bisa melakukan banyak hal karena mereka tak memiliki harta untuk membayar mulut-mulut kejam yang datang dari segala arah. Hingga pada akhirnya, Ayah Nada berhasil bekerja di restoran terbaik di Jakarta. Ayahnya pun bisa mengangkat sedikit demi sedikit derajat keluarga mereka.


Heros Restaurant


Restoran mewah yang terletak di pusat kota Jakarta itu langsung menerima Ayah Nada karena lelaki itu memiliki passion dibidang kuliner.


☆Kembali ke laptop☆


"Apa kau merindukan ibu, hem?"


Lelaki itu mengelus lembut surai indah putrinya. Bagi ayah Nada, tak peduli dunia menganggap anaknya itu adalah petaka, nyatanya Nada adalah harta yang tak ternilai untuknya. Nada tak bisa ditukar dengan apa pun di dunia ini.


"Ya, aku merindukan ibu. Apakah besok kita bisa pergi ke makam ibu?" tanya Nada kecil dengan suara yang mulai bergetar.


"Ya, ya tentu saja," sahut ayah Nada menahan air matanya.


"A-ayah, a-apakah aku nakal hi-hingga ibu meninggalkanku?"


Suara tangisan dari putrinya seketika meruntuhkan pertahanan Mikael, ayahnya, yang langsung ikut menangis.


"He-hei, ja-jangan me-menangis, hem? Sudah ayah katakan jangan dengarkan mereka. Ibumu hanya lelah saja hingga ia memilih berlibur lebih dulu." Sejak dulu, Mikael tak pernah menggunakan istilah meninggal karena itu akan semakin memperburuk mental bocah itu.


Cup


Cup


Mikael mencium kelopak mata Nada kecil yang tengah terpejam menahan semua rasa yang ada di dada kecilnya.


"Meskipun ibumu sudah berlibur lebih dulu, tapi dia selalu ada di sini," ucap Mikael menunjuk dada Nada.


"Kalau kau merindukannya cukup pejamkan mata dan sentuh dadamu maka ia akan muncul di mimpimu," sambungnya lagi memberi pengertian hingga Nada kecil mengangguk tanda mengerti.


Mereka saat ini tengah berada di dalam bianglala yang berhenti tepat di puncak paling atas.


"Lihat ... bintang yang paling bersinar itu adalah ibumu," tunjuk Mikael pada satu bintang yang bersinar paling terang. Bocah itu pun mengikuti arah telunjuk ayahnya hingga ia tersenyum sangat lebar.


"AYAH IBU, I LOVE YOU!!!" teriak Nada lantang.


****


..."Setelah kematian menjemput, musnahlah segala apa yang kita miliki di dunia ini. Hanya amal kebaikan yang dapat dibanggakan."...


...- Anomin -...


...♡♡♡♡...

__ADS_1


__ADS_2