Koki Cantik Kesayangan Tuan Muda

Koki Cantik Kesayangan Tuan Muda
Bab 41 : Perang Dimulai


__ADS_3

Tak


Tak


Tak


Bunyi heels beradu dengan marmer terdengar nyaring memasuki restoran mewah yang ada di pusat kota Jakarta itu, menarik pandangan semua orang pada objek langsing dengan baju seksi meskipun wajahnya ditutupi masker.


"Nona, selamat datang kembali," sambut Mira pada kepala chef itu.


"Hm ... apa si cupu belum masuk kerja?"


"Tadi dia menelepon dan bilang kalau sebentar sore akan kembali bekerja."


Finna hanya mendengarkan dan langsung pergi ke ruang pribadinya yang ada di restoran. Perlahan ia membuka masker yang menutupi bekas cakaran kuku dari sahabat si cupu, musuh bebuyutannya.


Pertemuannya dengan Adel pada malam di koridor hotel waktu itu, membuatnya harus menerima serangan mendadak dari Adel yang seperti kesetanan mencakar wajahnya penuh rasa benci.


"Aku akan membalas kalian. Lihat saja nanti!" geram Finna dengan mata menyala murka.


..........


Dret


Dret


"Halo, Del ... ah, benarkah?!" pekik Nada kencang hingga membuat semua mata memicing tajam padanya meskipun setiap hari itulah yang ia dapatkan.


"Baiklah. Tunggulah di lobby. Aku baru saja selesai bekerja. Bye."


Nada buru-buru membereskan meja kerjanya karena sahabat baiknya baru saja memberikan kabar yang cukup mencengangkan.


Ting


Lift di sebelah kiri terbuka bersamaan dengan lift yang ada di sebelah kanan. Nada yang sedang di menunggu di situ pun seketika mematung karena tatapannya langsung bertemu dengan tatapan datar Samuel. Entah apa yang ingin dilakukan lelaki itu di lantai 25.


Nada langsung membuang muka dan buru-buru masuk ke dalam lift sebelah kiri. Ia masih kesal dengan sikap Samuel yang sangat menyebalkan tadi. Sejak pengusiran yang Nada dapatkan, Nada langsung berbalik badan dan meninggalkan Samuel begitu saja yang terdiam mematung.


"Kau tak ingin mendengar penjelasanku. Lebih baik jangan menghubungiku lagi, pecundang!" ketus Nada sebelum akhirnya ia membanting kencang pintu ruang kerja Samuel.


Ting


Lamunan menyesakkan itu buyar ketika lift sudah berhenti di lantai 1. Nada kemudian mencari jejak Adel yang terlihat sedang mengedarkan pandangannya ke segala sudut lobby mewah Admadewa Grup.


Nada kemudian berjalan semakin dekat dengan wajah heran melihat tampilan wanita itu.

__ADS_1


"Del ..." panggil Nada ragu.


Adel yang di sapa seketika menatap Nada yang membulatkan mata. Adel langsung menempel erat pada tubuh Nada tak memedulikan tatapan heran dan sinis dari semua orang yang melihat keduanya memiliki tampilan sebelas dua belas.


"K-kau Adel?"


"Iya dong. Kau pikir siapa lagi?"


"Ta-tapi penampilanmu ke-kenapa begini?"


Jelas saja Nasa terkejut karena Adel memakai baju yang modelnya sama persis dengan yang ia kenakan. Jangan lupa kacamata serta rambut yang di kepang dua.


"Mulai sekarang aku akan berpenampilan seperti ini. Sekarang, ayo kita bekerja."


Adel langsung menarik tangan Nada yang masih bingung dengan perubahan mendadak wanita itu.


Mereka kemudian menaiki motor matic Adel dan bergegas menuju VC Restaurant yang akan menjadi tempat kerja Adel mulai hari ini.


"Adel, apa kau yakin?!" teriak Nada dari arah belakang. Ia sedang diboncengi Adel yang melajukan motor matic itu bak pembalap profesional.


Motor matic dengan debu yang terlihat hampir menutup seluruh bodi motor, meliuk dengan gesit dan indah di antara beberapa kendaraan lain yang dibuat geram dengan aksi ugal-ugalan itu.


"Ya, tentu saja!" balas Adel berteriak.


Mereka terus seperti itu sampai akhirnya berhenti tepat di depan restoran, tempat mengadu nasib keduanya.


"Ayo, kita masuk," ucap Nada penuh semangat.


Sementara wanita yang sedang berdiri di depan jendela lantai 3 tengah tersenyum senang karena mainannya datang juga ke medan perang.


.........


"Apa kau sudah sehat?" tanya seorang pria muda dan tampan pada Nada yang hanya biasa saja. Baginya, Samuel tak terkalahkan.


"Ya, Pak. Saya sudah sehat," balas Nada sopan.


Nada saat ini dipanggil ke ruangan manajer restoran yang ternyata adalah pria yang dulu mewawancarainya.


"Tak perlu memanggilku dengan sebutan itu. Apa aku terlihat tua? Umur kita tak beda jauh, jadi panggil aku kak Darius saja," ucap lelaki itu ramah. Tentu saja dia harus ramah, kalau tidak pria yang sedang bersembunyi di balik lemari sana akan menerkamnya hidup-hidup.


"A-apa? Itu sangat tak sopan," ucap Nada tak enak hati.


"Panggil seperti itu hanya ketika kita berdua saja," ucap Darius membuat lelaki di belakang sana sudah memerah kesal.


Sedangkan Nada, tiba-tiba ingatannya kembali pada Samuel yang juga pernah memintanya melakukan hal yang sama.

__ADS_1


Nada menarik nafasnya halus berusaha menahan rasa rindu pada pria arogan tapi manja itu. Sayangnya, kebahagiaan yang Nada rasakan hanya sekejap. Apakah ia harus memaklumi sifat baru Samuel? Atau sama-sama harus egois?


"Aku akan memanggil kak kalau kita bertemu diluar jam kerja," ucap Nada bijak hingga Samuel yang ikut mendengarkan tersenyum bangga.


.........


VC Restaurant


Pukul 5 sore


****


"Kenapa ini sangat asin? Kalau tak ada kemampuan lebih baik mundur," ketus Finna pada Nada yang terlihat memandangnya tajam berusaha mengontrol emosi.


Sejak beberapa jam yang lalu, Finna terus mengomentari apa pun yang dimasak oleh Nada hingga para senior di sana hanya saling pandang.


Dua wanita dengan pakaian yang sama itu, membuat dapur yang awalnya sudah panas, semakin panas dengan percikan api dari tubuh keduanya.


"Maafkan saya. Saya akan membuat yang baru," ucap Nada mengalah.


Nada sadar yang dilawannya ini adalah kepala chef. Meskipun Finna sangat jahat, namun lidah wanita itu tak akan salah menilai makanan. Mungkin saja Finna hanya mengerjainya agar Nada lelah dan sakit kembali atau memang Nada harus lebih banyak belajar lagi. Apa pun itu, Nada hanya menarik sisi positifnya saja.


"Memang seharusnya begitu, babu," bisik Finna diakhir kalimatnya membuat Nada ingin melayangkan pisau di tangannya itu tepat mengenai mulut busuk Finna.


"Sabar," batin Nada.


Beberapa saat kemudian, seporsi makanan seafood telah selesai dimasak oleh Nada yang dengan sangat teliti memperhatikan setiap proses pembuatannya juga tata letak makanan itu. Merasa sudah sempurna, makanan itu pun langsung diantarkan oleh Adel ke meja nomor 10.


Tiba-tiba ...


Brak


"Makanan apa yang kalian berikan padaku?!" teriak sang customer yang memesan makanan tadi.


Darius yang mendengar kerusuhan itu langsung bergegas berusaha menguasai situasi, namun sang customer telah menjelma seperti banteng.


"Siapa yang membuatnya? Panggil sekarang juga!!" teriak lelaki tua itu.


"Saya. Ada apa, Tuan?" tanya Nada yang langsung berlari keluar dari dapur setelah Adel dengan tampilan cupunya berteriak memanggilnya.


Plak


****


..."Kesopanan tidak hilang gara-gara perang. Dalam masa perang, kesopanan dibutuhkan, lebih daripada dalam masa damai."...

__ADS_1


...- Anonim -...


...♡♡♡♡...


__ADS_2