
Bug
Terjadi penyerangan brutal pada pria tua yang dengan lancang melukai istri pria tampan yang seperti kesetanan memukulinya. Pukulan itu bertubi-tibi Samuel berikan, sebelum akhirnya Darius yang sudah tak tahan dengan kekejian Samuel berusaha untuk melerai.
"Cukup, Sam! Dia akan mati!" pekik Darius.
Cuh
Samuel meludahi pria tua yang sudah tergolek lemah di atas rumput hijau yang ada di samping restoran yang sudah sepi karena anak buah Samuel sudah mengamankan tempat eksekusi tersebut.
"Seharusnya aku memotong tanganmu itu. Buang dia!"
Para anak buah Samuel langsung mengerjakan perintah tersebut meskipun pria tua itu tak akan hidup lagi setelah ini. Leo, lelaki itu sudah mengetahui insiden yang terjadi pada Nada dan tentu ia tak akan tinggal diam.
Jangan pernah mengusik, jika tak ingin diusik.
Samuel berusaha menormalkan darah yang masih mendidih sebelum akhirnya melangkah melewati pintu belakang restoran dengan pakaian bersih yang anak buahnya berikan.
"Bisakah kau jangan terlalu kejam? Kau sudah seperti mafia saja," sahut Darius kesal.
Sejak dulu, Samuel selalu bertindak berlebihan jika itu menyangkut Nada. Entahlah, apakah memang seperti itu mencintai seseorang?
Bug
Samuel langsung melempar jas yang sudah berlumuran darah itu tepat mengenai wajah Darius yang langsung berteriak histeris.
"Cih! Berhentilah kau bermain wanita dan belajarlah jatuh cinta maka kau akan mengerti apa yang aku rasakan. Kau tak akan pernah bisa diam jika pasanganmu diperlakukan kejam oleh orang lain," ucap Samuel sembari mengganti pakaian di ruang kerja Darius.
"Kau lupa? Aku sudah jatuh cinta pada adikmu."
Bug
Samuel kembali melempar celananya ke arah Darius yang tengah membayangkan wajah cantik adiknya. Bisa dipastikan jika lelaki itu memiliki pikiran kotor pada Kia.
"Aku tak akan mengizinkanmu. Dia pantas mendapatkan lelaki yang lebih baik darimu!" ketus Samuel.
"Cih! Siapa? Leo? Aku lebih baik darinya."
Bug
"Kau!"
__ADS_1
"Berhentilah bermimpi, Rius. Adikku masih kecil untuk menjadi fantasi liarmu. Aku lebih setuju dia bersama Leo."
Samuel langsung melangkah pergi dari sana dan berjalan perlahan menuju dapur untuk melihat kondisi Nada, meninggalkan Darius yang mengumpat kesal.
.........
Nada terlihat penuh semangat mencampurkan bahan-bahan masakan ke dalam wajan anti lengket. Ia mengaduk dan mencicipi rasanya yang sudah diperkirakan akan sangat enak terlihat dari senyum puasnya.
Setelah kejadian tadi, Nada sudah kembali ke dapur dan berusaha untuk tetap membuat hatinya merasa bahagia karena dalam memasak, suasana hati sangat mempengaruhi cita rasa makanan itu sendiri.
"Pesanan meja nomor 7 siap!" teriak Nada.
Satu bola mata tajam tengah menguntit semua pergerakan lincah itu lewat lubang kecil yang seharusnya sebagai tempat gantungan bunga hias.
Meskipun hanya terlihat seperti satu lalat menempel di dinding, entah mengapa membuat Nada yang awalnya fokus tiba-tiba menatap lubang tersebut hingga sosok di balik dinding itu terkejut luar biasa.
"Sial! Panca inderanya memang tak diragukan lagi!" umpat Samuel yang langsung berlari dari sana. Ia seperti anak kecil yang ketahuan mencuri.
"Apa itu serangga?" tanya Nada pada dirinya sendiri kemudian melanjutkan kembali pekerjaannya.
"Nad, apa kau ingin makan diluar bersama kami sebentar? Hanya kita berempat saja soalnya yang lain masih harus bekerja sampai jam 12 malam," ajak Mira sambil menunjuk Ayu dan Faris, senior Nada.
"Maafkan aku. Lain kali saja, Kak. Soalnya aku butuh istirahat," tolak Nada sopan yang langsung membuat ketiganya mengangguk mengerti.
Waktu semakin larut, membuat Nada semakin lelah dengan pekerjaan yang kian padat. Bekerja di bagian dapur memang harus memiliki tenaga yang kuat. Sebenarnya Nada termasuk wanita yang kuat fisik, namun karena ia belum lama sembuh, membuat luka bekas operasi di dadanya itu sedikit nyeri.
"Assshh."
Nada merintih kecil memegang bagian itu hingga membuat pria yang berdiri di balik pintu gudang sana seakan mati berdiri.
"K-kau!"
Nada terkejut karena Samuel langsung membuka pintu gudang yang tak jauh dari tempat Nada memasak. Gudang tersebut memiliki dua pintu, yaitu dari luar dan dari dalam yang langsung terhubung dengan dapur.
"Ayo pulang."
Samuel langsung menarik lengan Nada hingga membuat semua seniornya memandang heran. Bukankah Samuel adalah tunangan Finna? Kenapa malah terlihat dekat dengan si cupu ini?
"A-apa yang kau lakukan? Hei! Lepaskan aku!" tekan Nada mencoba tersenyum pada semua orang yang ada di dapur.
Tak jauh dari sana, Adel yang melihat Nada ditarik langsung menghadang langkah Samuel yang terlihat khawatir.
__ADS_1
"Apa yang kau lakukan? Lepaskan dia," sahut Adel berusaha melepas genggaman tangan yang semakin menguat itu.
"Kau ingin aku memukulmu?" geram Samuel dengan wajah datar pada Adel yang langsung berteriak kencang karena Samuel menyentil keningnya kencang.
"Kau!" geram Adel menatap penuh permusuhan pada Samuel yang tersenyum mengejek dan langsung membawa Nada pergi.
Beberapa customer yang melihat kejadian itu pun dibuat tak berkutik ketika ingin mengambil gambar tersebut. Para anak buah Samuel telah mengamankan semuanya, termasuk dengan masalah tadi siang. Lelaki itu tak ingin membuat berita heboh tentang Nada, belum saatnya.
"Kau tak apa-apa?" tanya Darius khawatir. Lelaki itu sejak tadi siang terus memperhatikan Adel tiada henti.
"Ya, aku baik-baik saja, Kak. Aku pergi dulu," ucap Adel langsung buru-buru pergi mengambil tas di loker kemudian bergegas menyusul Samuel yang telah menculik Nada.
.........
"Kau kenapa memukul Adel?" sinis Nada pada Samuel yang masih memeluknya dari belakang.
Lelaki itu menyandarkan Nada di dada bidangnya tak memedulikan Pak Ujang yang langsung menurunkan sekat pemisah.
"Biarkan saja," ucap Samuel santai.
"Cih! Lepas, aku bisa duduk sendiri!" Nada berusaha melepaskan tangan Samuel yang semakin membelitnya erat.
Cup
Samuel mencium pipi mulus nada yang langsung terdiam mematung.
"Maafkan aku, sayang. Aku tahu aku salah telah bersikap seperti tadi padamu. Maafkan aku. Aku akan menjelaskan semua padamu nanti," bisik Samuel lembut.
Tangan kiri lelaki itu mengelus dada Nada yang tak merasakan nyeri seperti tadi seakan sudah menemukan obat yang paling mujarab.
"Maafkan aku, hem? Aku sangat mencintaimu ... kau bisa memukulku untuk membalas sikap jahatku padamu ..." ucap Samuel lirih.
Plak
****
..."Kesalahpahaman akan selesai jika ada saling keterbukaan."...
...- Anonim -...
...♡♡♡♡...
__ADS_1