
Changyi Yuwen menggaruk tengkuknya meskipun tidak gatal. Dia sedang berfikir keras memikirkan bagaimana cara yang efektif untuk menghadapi hewan berkepala lima yang ada di hadapannya saat ini dengan cepat.
Didalam pikiran Changyi Yuwen kini muncul beberapa cara dan dia berusaha membuat beberapa simulasi untuk menghadapi hewan itu. Akhirnya Changyi Yuwen mengambil satu keputusan yang menurutnya paling efektif menghadapi hewan berkepala lima itu.
"Craak... Craak...."
Suara kunyahan tulang yang hancur dari mulut kelima kepala hewan yang ada di hadapannya terdengar sangat mengerikan. Tulang tulang keras dari bangkai binatang buas yang di lemparkan tadi seperti kerupuk bagi hewan itu, dia seperti sedang mengunyah camilan yang renyah.
"Sungguh mengerikan!" Changyi Yuwen bergumam pelan sambil sedikit menggelengkan kepalanya ketika melihat pemandangan yang ada di hadapannya itu.
Dengan gerakan cepat Changyi Yuwen mengeluarkan pedang naga putih dari ruang penyimpanan gelang mustika dewa. Kini di dalam genggaman tangannya sudah terdapat sebilah pedang berukiran kepala naga di bagian gagangnya. Pedang itu nampak bersinar serta berkilau ketika terkena pantulan sinar matahari.
Changyi Yuwen bergerak cepat dia tidak mau membuang waktu dan kesempatan, sebelum hewan itu menyadari tindakannya. Selagi hewan berkepala lima itu masih sedang sibuk dengan makanannya.
Dengan sekali hentakan dia melakukan lompatan yang sangat tinggi keatas hanya dengan beberapa tarikan nafas saja dia sudah mendarat di atas tubuh hewan sebagai pijakan kakinya. Secepat kilat Changyi Yuwen mengayunkan pedangnya menebas pangkal kelima kepala.
Changyi Yuwen menebaskan pedangnya dengan sekuat tenaga yang dimiliknya. Dengan kualitas tulang naga yang di milikinya serta kekuatan fisik yang sangat terasah selama ini, membuat tebasan yang dilakukan bisa melukai hewan itu sangat dalam dan luka fatal untuk hewan berkepala lima itu.
Hewan berkepala lima yang tidak menyadari tindakan cepat Changyi Yuwen bisa melukai tubuhnya sejauh itu. Hewan itu sangat terkejut ketika badannya mendapat hentakan ketika Changyi Yuwen mendarat di atas tubuhnya.
Belum hilang rasa keterkejutannya kini dia sudah merasakan tubuhnya ditebas dari atas dan meninggalkan luka yang sangat dalam akibat dari tindakan Changyi Yuwen.
Karena serangan yang tiba-tiba yang dilancarkan oleh Changyi Yuwen, membuat hewan berkepala lima tidak siap menerima serangan itu serta tidak bisa menghindari serangan yang di daratkan ke tubuhnya.
Dalam waktu yang cukup singkat Changyi Yuwen sudah mendaratkan tiga kali tebasan di tempat yang sama hingga membuat luka yang sangat parah. Sebenarnya serangan yang dilancarkan oleh Changyi Yuwen tidak mudah dilakukan.
__ADS_1
Karena setelah mendapat serangan pertama hewan itu melakukan perlawanan cukup sengit yaitu dengan mengerahkan kelima kepalanya untuk menyerang secara bersamaan kearah Changyi Yuwen yang masih berada di atas tubuhnya.
Sebenarnya bukan hal yang mudah membalas serangan Changyi Yuwen yang masih berada di atas tubuhnya. Hewan itu bergerak sangat gesit serta lincah meskipun tubuhnya berukuran besar dan terdapat luka yang cukup dalam dari tebasan yang di buat oleh Changyi Yuwen.
Changyi Yuwen yang mendapat serangan balik dari hewan berkepala lima, dia langsung melompat lompat ke udara dan itu sangat menguntungkan dirinya.
Dengan gerakan yang sangat gesit serta lincah berkat latihan fisik yang dia dalami selama ini membuatnya tak terkalahkan. Ketika dia mendapat kesempatan serta melihat ada celah kembali dia melakukan tebasan pedang ditempat yang sama. Sehingga membuat luka yang ada di tubuh hewan berkepala lima semakin parah.
Setelah mendapat tebasan di tempat yang sama membuat luka yang di alaminya menjadi sangat parah dan membuat gerakannya mulai menurun tidak segesit seperti tadi.
Hewan berkepala lima itu kehilangan banyak sekali darah hingga membuat gerakannya terbatas. Akan tetapi dari gerakan yang ditunjukkan serta tatapan matanya menunjukkan kalau: hewan itu seperti sedang murka kepada Changyi Yuwen.
Ketika melihat gerakan hewan berkepala lima itu sudah mulai melemah. Changyi Yuwen tidak menyia-nyiakan kesempatan serta peluang yang ada. Dia kembali melakukan tebasan ditempat yang sama ditubuh hewan berkepala lima itu.
Suara jeritan panjang yang keluar dari salah satu mulut dari kelima mulut hewan itu. Menggambarkan rasa sakit yang dialami serta menjadi jeritan terakhir sebelum hewan berkepala lima itu binasa di tangan Changyi Yuwen.
Hewan berkepala lima tubuhnya terbelah sempurna menjadi dua bagian dan kehilangan nyawanya di depan Changyi Yuwen.
Bukan hal yang mudah bagi Changyi Yuwen menghadapi hewan berkepala lima itu. Meskipun pertarungan itu cukup singkat tetapi sangat menguras tenaganya.
Setelah melihat hewan berkepala lima sudah binasa di depannya Changyi Yuwen dia melangkahkan kakinya mendekati tubuh hewan itu. Untuk mencari permata silumannya ketika apa yang dicarinya sudah di dapatkan maka dengan segera dia menyimpannya di ruang penyimpanan gelang mustika dewa.
Setelah selesai melakukan pertarungan dengan hewan berkepala lima serta menyimpan permata silumannya. Changyi Yuwen mulai mencari tempat duduk untuk mengistirahatkan serta memulihkan kembali kondisi tubuh untuk kembali prima sebelum melanjutkan perjalanan.
*****
__ADS_1
Hari demi hari Changyi Yuwen terus saja melangkahkan kakinya tidak mengenal rasa lelah sama sekali. Dia terus berusaha mencari keberadaan buah pesik emas di tengah hamparan Padang pasir.
Ketika hatinya sudah mulai lelah berharap matanya melihat ada setitik bayangan yang sangat samar di kejauhan. Jarak antara dirinya dengan bayangan itu masih sangat jauh sekali. Mungkin masih ada delapan ratus meter lagi darinya.
Maka dengan segera dia mempercepat langkah kakinya menuju bayangan yang terlihat samar-samar itu. Panas terik matahari tidak menyurutkan langkah kakinya justru dia semakin bersemangat karena melihat ada sedikit harapan.
Tidak membutuhkan waktu yang cukup lama akhirnya Changyi Yuwen bisa melihat bayangan yang tadi terlihat samar-samar kini nampak jelas di depan matanya.
Dia melihat sebuah pohon yang tumbuh kokoh di tengah gersangnya tanah karena yang terlihat hanya hamparan pasir kering. Akan tetapi pohon yang ada dihadapannya itu mampu tumbuh sangat baik seolah olah tumbuhan itu tumbuh di taman yang terawat.
Pohon ini cukup unik karena batang dan tangkai nya berwarna keperakan dan daunnya tidak berwarna hijau namun berwarna merah kekuningan. Pohon ini hanya memiliki satu buah saja yang berwarna kemasan.
"Inikah buah pesik emas itu!"
"Setelah sekian lama akhirnya aku menemukannya. Buah pesik emas sungguh sesuai dengan namanya."
Changyi Yuwen bergumam sendiri dalam hatinya, Dia mulai melangkahkan kakinya mendekati pohon persik emas itu.
"Wuss...."
Suara angin yang timbul dari lompatan Changyi Yuwen ketika meloncat ke atas dahan pohon persik untuk memetik buah yang selama ini dicarinya.
"Sungguh membutuhkan perjuangan yang panjang untuk mendapatkan ini."
"Semoga saja dengan buah ini aku mampu membuka segel aura yang ada di dalam tubuhku ini...."
__ADS_1