
Yong kali ini sudah tidak mau bermain main lagi, menurutnya sudah cukup Yong memberikan pelajaran yang sangat berharga bagi pemuda berbakat namun memiliki sifat sombong itu.
Kali ini Yong melompat keatas dengan gerakan sedikit memutar kakinya mengarah titik buta lawan, sementara lawannya yang masih terkejut dengan aksi Yong terlambat menghindari sehingga tendangan itu mengenai sasaran dengan telak.
Hasilnya Cong Lin terpental mundur beberapa langkah dengan memegangi dadanya yang terasa sesak. Dia merasa organ tubuhnya serasa berpindah tempat karena rasa sakit yang begitu parah.
Ketika melihat lawannya terluka cukup parah Yong hanya memandang sekilas sambil tersenyum dingin. Sementara itu Cong Lin hanya bisa tersenyum kecut melihatnya.
Pertandingan pun berakhir, wasit mengumumkan bahwa pertarungan antara Cong Lin dari sekte menara salju melawan Yong dari kota Huang An telah di menangkan oleh Yong.
Sorak sorai serta tepuk tangan dari penonton membuat suasana menjadi riuh. Peserta babak pertama sudah turun dari podium. Selanjutnya wasit mengumumkan peserta yang maju ke babak dua yaitu Changyi Sia dari sekte bintang timur melawan Chu Mao dari kuil bukit bintang.
Tidak lama kemudian kedua peserta memasuki arena pertandingan dengan penuh percaya diri. Changyi Sia dari sekte menara salju gadis cantik berusia 18 tahun jika dilihat dari tingkatan kultivasinya gadis ini sangat berbakat karena dia usianya sudah mencapai tingkat pendekar
Sementara itu pemuda bernama Chu Mao dari kuil bukit bintang pemuda gagah yang mempunyai pembawaan tenang berusia 19 tahun mempunyai tingkatan kultivasi yang hampir sama.
Changyi Sia menggunakan senjata pedang sementara Chu Mao mengunakan senjata tombak. Ketika peluit panjang dari wasit ditiup keduanya langsung maju ke depan saling menyerang.
Benturan pedang dan tombak menimbulkan suara yang sangat nyaring. Kedua peserta menggunakan tehnik terbaik yang mereka miliki, keduanya terlihat sama sama tangguh.
Changyi Yuwen mengenali teknik pedang yang digunakan oleh Changyi Sia karena dia juga pernah mempelajarinya. Dulu ayahnya memberikan sebuah kitab kitab salah satunya adalah tehnik pedang yang saat ini sedang dimainkan oleh Changyi Sia.
Namanya ilmu pedang penghancur, ilmu ini memiliki tiga jenis jurus yang pertama jurus pemecah awan, kedua jurus hujan halilintar, ketiga jurus pemetik bintang.
Jurus pemecah awan digunakan pada saat melawan satu orang musuh saja, jurus hujan halilintar digunakan pada saat dikepung oleh lawan, jurus pemetik bintang digunakan saat menyerang lawan dengan sangat cepat dan tajam.
Apabila ingin mengunakan jurus ini dengan sempurna, maka di butuhkan jumlah tenaga dalam yang sangat tinggi yaitu mencari 1000 lingkaran tenaga dalam.
__ADS_1
Apa bila pemakai masih belum mempunyai jumlah tenaga dalam yang cukup, maka hanya akan menunjukkan sedikit kekuatan aslinya. Serta membebani tubuh pengguna bahkan beresiko menciderai diri sendiri.
Disaat Changyi Sia sedang sibuk bertarung dengan Chu Mao, Changyi Yuwen dan Yong justru asik berbincang bincang sendiri namun pandangan mereka tidak lepas dari pertandingan di atas arena.
Sesekali Changyi Yuwen berdecak kagum dengan pencapaian yang dimiliki oleh saudara sepupunya itu.
"Tuan muda. Anda yakin tidak ingin memberi tahukan identitas anda pada Nona Changyi Sia...."
"Masih belum saatnya dia tahu. Nanti kalau waktunya sudah tepat aku akan memberi tahukannya."
"Baiklah. Saya tidak akan bertanya lagi."
Yong sangat mengenal tuan mudanya itu, dibalik semua tindakannya pasti ada alasan tertentu. Setahunya Changyi Yuwen orang yang sangat berhati-hati dalam bertindak, jadi dia yakin kalau kali ini tuan mudanya menyimpan satu rahasia yang dia tidak tahu.
"Kenapa kau menatapku seperti itu Yong?" Meskipun matanya tidak melihat Yong namun dia tahu kalau Yong sedang menatapnya.
"Eh... Hm... Maaf. Tidak ada tuan." Yong terlihat sangat gugup karena telah ketahuan menatap tuan mudanya seperti itu.
Tidak terasa 15 menit waktu telah berlalu, meskipun belum ada pihak yang kalah. Namun semua tidak baik baik saja seperti orang lihat, nafas Changyi Sia sudah mulai tidak beraturan.
Sementara itu Chu Mao kondisinya lebih buruk lagi, selain nafasnya tidak beraturan tangannya tidak bisa berhenti bergetar. Setiap kali tombaknya berbenturan dengan pedang Changyi Sia menimbulkan beban berat pada tubuhnya.
Itu semua terjadi karena Changyi Sia selalu memasukkan tenaga dalam yang cukup sehingga setiap ayunan pedangnya lebih gesit dan bertenaga belum lagi pola serangnya sulit untuk di tebak.
Setelah beristirahat sejenak nafas mereka kembali normal, kini mereka kembali melanjutkan pertarungan yang sempat tertunda.
"Trang... Trang...."
__ADS_1
"Ting... Ting...."
Kembali terdengar suara pedang dan tombak beradu, semua mata orang orang terpana serta kagum.
"Sungguh aku tidak menyangka akan setinggi ini keahlian pedang dari sekte bintang timur."
"Kamu benar. Tidak salah kalau dia dijuluki Dewi bintang timur."
"Chu Mao dari kuil bukit bintang pun tidak kalah berbakat. Butiknya dia mampu mengimbangi permainan pedang Dewi bintang timur sampai sejauh ini. Itu menandakan kemampuan ilmu tombaknya juga tidak buruk."
Begitulah komentar komentar yang diberikan oleh para penonton ketika melihat aksi keduanya di atas panggung. Changyi Yuwen pun sependapat dengan para penonton itu.
"Jurus ketiga pemetik bintang!"
Pedang Changyi Sia kali ini mengarah titik vital lawan. Dia berharap dengan jurus ini bisa segera mengakhiri pertarungan dengan lawan serta meraih kemenangan. Jurus pemetik bintang ini menitikkan beratkan pada serangan serangan mematikan kearah titik vital lawan.
Chu Mao yang mendapatkan serangan begitu cepat dan kuat hanya mampu bertahan meski pun itu bukanlah keputusan yang bijak, namun hanya itu saja yang bisa dia lakukan. Jurus pemetik bintang yang dilancarkan oleh Changyi Sia benar benar membuatnya kewalahan dan semakin terdesak tanpa mampu memberikan perlawanan sama àt5rr no sekali.
"Trang... Trang... Trang...."
"Krak...." Terdengar suara tulang patah.
"Bruk...." Suara sesuatu jatuh ke lantai arena.
Tidak ada yang tahu kapan Chu Mao jatuh di lantai dengan posisi terduduk. Dia memegang pergelangan tangannya sendiri yang sepertinya mengalami cidera. Tetapi bagi seorang pendekar ini bukanlah hal besar, karena dengan bantuan tenaga dalam cidera patah tulang seperti ini cepat untuk di sembuhkan.
Changyi Sia masih berdiri tegak di tengah arena, melihat kondisi Chu Mao yang seperti itu sudah tidak mungkin untuk melanjutkan pertarungan. Maka wasit mengambil keputusan bahwa pertandingan babak kedua berakhir dan pemenangnya adalah Changyi Sia dari sekte bintang timur.
__ADS_1
Selanjutnya babak ketiga Kang Lian dari sekte menara salju melawan Xi Fan dari sekte tombak sakti. Pertandingan yang sangat mudah di tebak hasil akhirnya karena kekuatan serta keahlian mereka sangat jauh perbedaannya. Kurang dari 30 jurus pemuda Xi Fan dari sekte tombak emas sudah tumbang. Wasit mengumumkan kalau pemenangnya adalah Kang Lian dari sekte menara salju.
Babak selanjutnya Mo shao dari sekte srigala emas melawan Xing Lan. Setelah peluit panjang berbunyi keduanya langsung beradu senjata. Mo Shao mengunakan senjata golok besar sedang Xing Lan mengunakan senjata pedang.