
Patriak Fang Tao meninggalkan ruangan itu dan di ikuti oleh Changyi Yuwen yang berjalan di belakangnya. Patriak Fang Tao membawa Changyi Yuwen ke ruang rahasia milik sektenya.
Tempat ini adalah tempat yang hanya bisa dimasuki oleh patriak dan para tetua sekte. Kegunaan ruangan ini untuk menjaga pembicaraan rahasia terjaga dari pendengaran orang lain. Selain orang orang yang ada di dalamnya.
Ketika mereka sampai di dalam ruang rahasia itu. Patriak Fang Tao meminta Changyi Yuwen untuk duduk dan dia pun juga duduk di hadapan Changyi Yuwen.
"Tempat ini sangat tertutup dari dunia luar. Jadi aku rasa tidak akan ada orang yang tau isi pembicaraan kita kali ini. Sekarang kamu bisa menceritakan ada masalah apa sebenarnya, sampai kamu meminta berbicara di ruang khusus seperti ini." Patriak Fang Tao berkata pelan namun terdengar ada ketegasan di dalam setiap kata katanya.
"Sebelum kita memulai perbincangan ini lebih jauh. Maka akan aku perkenalkan diriku lagi. Namaku yang sebenarnya Changyi Yuwen putra dari Changyi Jun dan Fang Yin." Changyi Yuwen berusaha untuk membuka jati dirinya dihadapan kakeknya itu.
"Kau???" Patriak Fang Tao terkejut dengan nama nama yang disebutkan oleh pemuda dihadapannya itu.
"Anda pasti terkejut dan akan sulit untuk percaya dengan semua perkataan ku ini. Tetapi sungguh aku ni Changyi Yuwen putra dari Changyi Jun yang berasal dari sekte bintang timur dan ibuku Fang Yin berasal dari sekte teratai emas. Mereka mati terbunuh oleh sekte kalajengking hitam. Aku melihat sendiri bagaimana mereka dibunuh. Semua orang mencari keberadaanku namun tidak ada satu orang pun yang bisa menemukanku. Karena aku di kurung dalam segel selubung transparan milik ayah." Changyi Yuwen menjeda kata katanya sebentar.
Changyi Yuwen mengibaskan tangannya lalu terbentuklah sebuah segel selubung transparan mengurung mereka di dalamnya. Patriak Fang Tao yang tadinya masih ragu dan belum percaya dengan perkataan Changyi Yuwen.
Tetapi di saat Changyi Yuwen bisa membuat segel selubung transparan, yang hanya dimiliki oleh putra pemilik sekte bintang timur itu hatinya mulai bisa tercerahkan.
"Apakah Anda mengenali segel ini? Karena segel ini hanya bisa dipelajari oleh mereka yang menjadi putra dari generasi pemilik sekte. Dan kebetulan ayah juga mempelajarinya karena ayah juga putra dari pemilik sekte bintang timur."
Changyi Yuwen menceritakan semua yang dia tahu. Ketika dia ingin melanjutkan kata-katanya patriak Fang Tao sudah berdiri dari tempat duduknya lalu berjalan mendekat ke arah Changyi Yuwen.
Tanpa basa-basi patriak Fang Tao meraih tubuh Changyi Yuwen yang juga berdiri karena terkejut melihat kakeknya tiba-tiba saja berdiri. Patriak Fang Tao memeluk tubuh Changyi Yuwen dengan sangat erat. Seolah olah dia takut kalau pelukannya itu terlepas tubuh cucunya akan menghilangkan.
Ketika dia sudah bisa mengendalikan emosinya dan hatinya. Patriak Fang Tao melepaskan pelukannya. Kemudian dia menatap wajah pemuda tampan yang ada di hadapannya itu dengan seksama.
__ADS_1
"Pantas saja tadi saat aku melihat wajahmu. Aku merasa sangat familiar sekali, ternyata wajahmu itu mirip dengan Jun'er. Maafkan kakek karena terlambat menyadari kalau kamu adalah cucu kakek." Ucap patriak Fang Tao merasa bersalah karena tidak bisa mengenali cucunya sendiri.
"Tidak masalah ini bukan sepenuhnya kesalahan kakek. Awalnya memang aku tidak ingin memberitahukan keberadaanku pada siapapun. Namun ketika aku pikir kembali tidak ada salahnya aku memberi tahu kalian. Sebelum aku melajukan perjalanan mencari keberadaan sekte kalajengking hitam yang lokasinya tersembunyi dari dunia luar."
"Apakah Patriak Changyi Jiao sudah tahu kalau kamu sudah keluar dari latihan tertutup?"
Changyi Yuwen mengangguk lalu berkata, " Sebenarnya aku tidak bertemu langsung dengan paman Jiao, aku hanya menitipkan surat pada sepupu Changyi Sia saat bertemu di pertandingan turnamen pendekar muda di kota Cang Ling."
"Jadi kamu mengikuti turnamen pendekar muda? Juara pertama dalam turnamen itu bernama Fang Yuwen apakah itu kamu?" Tanya patriak Fang Tao terkejut karena tidak menyangka kalau cucunya sendiri yang menjadi juara pertama dari turnamen pendekar muda generasi sekarang ini.
"Iya. Kalau boleh aku tahu kenapa sekte teratai emas tidak ikut dalam turnamen pendekar muda?" Tanya Changyi Yuwen penasaran karena setahunya sekte teratai emas cukup disegani di dunia persilatan.
"Hemm...." Patriak Fang Tao menarik nafas panjang terlihat ada beban berat yang sedang ditanggung ketika Changyi Yuwen bertanya demikian.
Changyi Yuwen dapat memahami apa yang terjadi, dia pun juga dapat merasakan apa yang dirasakan oleh kakek itu. Karena dia juga mengalami keterpurukan yang sama.
Tetapi bedanya saat itu Changyi Yuwen tidak punya waktu untuk meratapi kesedihannya.
Yang ada justru bagaimana caranya dia bisa secepatnya menjadi lebih kuat untuk membalaskan dendam karena kematian kedua orang tuanya.
"Sekarang kamu ceritakan pada kakek apa saja yang terjadi beberapa tahun belakangan." Patriak Fang Tao meminta Changyi Yuwen menceritakan kisah kisahnya selama ini.
Changyi Yuwen pun menceritakan semuanya di mulai dari kematian kedua orang tuanya di tangan sekte kalajengking hitam.
Kepergiannya kehutan terlarang bertemu dengan Yong dan tinggal di dalamnya. Berusaha membuka segel aura naga, menuju hutan kematian di pulau tengkorak.
__ADS_1
Hampir mati di tangan sekte gagak hitam, bertemu dengan patriak Changyi Jiao. Masuk ke dalam hutan kematian dan tinggal di lembah hutan kematian beberapa tahun.
Sampai beberapa bulan yang lalu keluar dari hutan kematian, mengikuti turnamen pendekar muda dan menghancurkan markas utama organisasi bandit tengkorak hitam dan terakhir bertemu dengan rombongan Bao Ning Hwa.
Patriak Fang Tao berdecak kagum atas pengalaman cucunya itu. Namun juga merasa bersalah karena tidak bisa membantu cucunya di saat sedang kesulitan di luar sana sendirian.
"Maafkan kakek. Kakek merasa tidak berguna. Karena tidak bisa membantu saat kamu sedang kesulitan di luar sana." Kali ini mata patriak Fang Tao nampak berkaca-kaca karena menahan haru atas kisah cucunya dan juga rasa bersalah karena tidak bisa melindunginya.
"Kakek tidak usah merasa bersalah. Karena ini bukan kesalahan kakek. Tetapi saya ingin meminta satu hal pada kakek." Changyi Yuwen berusaha menenangkan emosi kakeknya.
"Kamu ingin meminta apa? Katakan saja. Kakek akan berusaha untuk memenuhinya." Patriak Fang Tao merasa sangat antusias dengan apa yang menjadi permintaan cucunya itu. Changyi Yuwen yang melihat itu hanya tersenyum.
"Aku hanya meminta kepada kakek untuk tetap merahasiakan identitas diriku. Ini semua demi kebaikan kakek dan juga sekte ini. Kakek tau kan apa yang aku maksud. Bagaimana akhirnya, jika sekte kalajengking hitam tau aku pernah menemui kakek kesini. Mereka pasti akan menghancurkan sekte teratai emas tanpa tersisa karena menanyakan keadaanku." Changyi Yuwen berusaha memberikan penjelasan pada kakeknya.
"Lalu bagaimana dengan kamu?" Tanya kakeknya.
"Selama identitasku belum terbongkar maka aku akan aman. Tetapi kalau pun identitasku terbongkar, aku masih tetap bisa menghadapi mereka. Itulah sebabnya kenapa aku mencari mereka terlebih dahulu, agar aku bisa bergerak bebas dan bertindak diam diam?"
"Baiklah kalau begitu. Aku percaya padamu. Tetapi kakek minta tetaplah berhati-hati."
"Iya kek. Saya akan tetep mengingat pesan kakek ini. Dan saya minta tolong bersikaplah seperti tadi, seolah olah aku ini bukan cucumu."
"Haiss... Kamu ini. Ya sudah ayo kita keluar sekarang. Dan itu hilangkan dulu segel mu."
"Siap kek." Dengan sekali ayunan tangan segel yang mengurung mereka berdua menghilang.
__ADS_1