
Kereta kuda yang membawa rombongan pangeran Tang Dan di kawal oleh jendral Lin Siau sudah siap meninggalkan sekte bunga persik.
Kali ini pangeran Tang Liu dan Changyi Sia tidak ikut serta dalam rombongan pangeran Tang San seperti waktu berangkat.
Kali ini mereka memiliki tujuan yang berbeda, Selain itu jalur yang akan mereka tempuh mempunyai arah yang berbeda.
Pangeran Tang San akan langsung pulang menuju ibukota kekaisaran Zhao sementara itu pangeran Tang Liu dan Changyi Sia akan kembali ke sekte bintang timur.
Di saat semua orang sudah pergi meninggal sekte bunga persik, kini tinggal Yong dan Changyi Yuwen yang belum pergi meninggalkan sekte bunga persik.
"Tuan muda. Selanjutnya kita akan kemana."
"Sejujurnya aku juga masih belum punya rencana yang pasti. Kamu kan tau sendiri mencari keberadaan sekte kalajengking hitam sangat sulit."
"Jadi kita harus bagaimana?"
"Menurutku hanya ada satu cara. Kalau kita ingin melacak keberadaan sekte kalajengking hitam bersembunyi...."
"Jangan jangan kita...." Belum selesai Yong mengucapkan kata kata Changyi Yuwen sudah memotong perkataan Yong.
Changyi Yuwen seperti orang yang bisa membaca pikiran saja. Padahal yang sebenarnya terjadi, Changyi Yuwen hanya menebak. Karena dengan melihat raut muka Yong saja Changyi Yuwen sudah dapat mengerti ke mana jalan pikiran Yong.
"Kau benar. Kali ini giliran aku yang akan memburu mereka. Seperti dulu ketika mereka memburuku."
"Jadi sekarang...."
"Kita tetap melanjutkan perjalanan dengan jalan kaki saja. Dengan cara seperti ini kita bisa mendapatkan informasi sekecil apapun tentang mereka."
"Kalau begitu mari kita berangkat tuan muda."
"Ayo."
Mereka pun meninggalkan sekte bunga persik menuju kota terdekat yang tidak jauh dari sekte bunga persik. Karena mereka belum mempunyai arah tujuan yang pasti.
#####
Tidak terasa waktu cepat berlalu, Changyi Sia dengan pangeran Tang Liu sudah sampai di sekte bintang timur setelah melakukan perjalanan selama hampir tiga minggu dengan menaiki kuda.
__ADS_1
Ketika mereka sampai di gerbang masuk sekte, murid dari sektenya dengan cepat membukakan pintu karena mengenali siapa yang datang.
"Selamat datang nona Sia, pangeran Liu." Sapa murid sektenya ketika mereka sudah di persilahkan masuk.
"Terima kasih." Jawab keduanya serentak.
Murid sekte yang bertugas menjaga pintu gerbang masuk hanya tersenyum ketika mendapati perkataannya dijawab dengan kompak oleh murid langsung dari kepala sekte mereka itu.
Mereka berdua langsung menuju kediaman Patriak Changyi Jiao. Saat mereka tiba di dalam rumah, Patriak Changyi Jiao bersama sang istri Pei Yu sedang bersantai. Menikmati teh hangat di bawah teduhnya pepohonan yang ada di taman belakang rumah mereka.
"Ayah! Ibu." Seru Changyi Sia ketika melihat kedua orang tuanya.
"Salam hormat guru. Kami telah kembali." Pangeran Liu menyapa pun menyapa gurunya.
Patriak Changyi Jiao tidak mengeluarkan kata untuk membalas sapaan keduanya namun tersenyum lembut padanya. patriak Changyi Jiao melambaikan tangannya memberikan isyarat agar mereka mendekat dan duduk bersama.
"Sia'er kamu sudah kembali sayang. Kemari lah sini peluk ibu nak." Nyonya Pei Yu memangil putrinya untuk mendekat kearahnya.
Changyi Sia langsung berlarian menuju ke arah orang tuanya duduk, lalu memeluk tubuh ibunya. Gadis ini sifatnya akan berubah menjadi sangat manja jika hanya bersama kedua orang tuanya.
Meskipun di situ ada pangeran Liu sebagai orang luar setelah kedua orang tuanya. Tapi Changyi Sia tidak malu karena pangeran Tang Liu sudah sering melihatnya. Dia juga sudah tidak lagi menganggap sebagai orang asing namun bagian dari keluarga mereka.
Setelah selesai dengan acara peluk pelukan, Patriak Changyi Jiao memulai perbincangan agar suasana tidak menjadi canggung lagi pula ada sesuatu yang hendak dia ceritakan.
"Aku dengar pemenang dari lomba dari turnamen pendekar muda kali ini bukan dari sekte besar namun dari perwakilan kota Huang An. Apakah itu benar? Coba ceritakan pada ayah?"
"Ayah benar. Juara pertama bernama Fang Yuwen, juara kedua Yong dari kota Huang An dan juara ketiga Kang Lian dari menara salju."
"Fang Yuwen... Yong....!" Gumam Patriak Changyi Jiao sambil mengernyitkan keningnya.
"Benar guru. Apakah guru mengenalnya??"
Patriak Changyi Jiao mendesah panjang sebelum mulai bersuara. Kali ini tatapan matanya tertuju pada pangeran Tang Liu, dari sorot matanya ada sebuah rahasia terpendam.
"Liu'er. Ada sesuatu yang ingin aku ceritakan padamu. Tapi bisakah kamu berjanji padaku untuk menyimpan rahasia ini untuk dirimu sendiri." Tanya Patriak Changyi Jiao pada muridnya itu.
"Baik guru. Saya berjanji akan menjaga rahasia ini apa pun konsekuensinya meskipun nyawaku sebagai taruhannya." Jawab pangeran Tang San dengan tegas.
__ADS_1
"Senang aku mendengarnya. Cerita ini berkaitan erat dengan masalah besar keluargaku. Aku menceritakan ini karena aku sudah menganggap kamu sebagai bagian dari keluarga ini. Kalian berdua juga dengarkan ini." Semua orang terdiam ketika patriak Changyi Jiao mulai bercerita.
"Apakah kalian masih ingat dengan saudaraku yang terbunuh beberapa tahun lalu bersama dengan istrinya dan putranya yang menghilang?" Tanya Patriak Changyi Jiao dan mereka semua hanya menganggukkan kepalanya.
"Putra saudaraku bernama Changyi Yuwen sesuai dengan marga ayahnya. Kalian tentunya masih mengingat dengan kepergian ku yang mencari putra Jun'er." Lagi lagi mereka mengangguk.
"Kalian juga tau kalau putra saudaraku itu masih hidup dan sedang melakukan latihan tertutup di suatu tempat yang tidak mungkin orang lain dapat menemukannya."
"Apa kalian bisa menebak dimana tempat itu kira kira?" Ketiga orang itu hanya bisa menggelengkan kepala bersamaan.
"Tentu saja mereka tidak akan pernah bisa ditemukan. Karena mereka tinggal di dalam hutan kematian." Kata Patriak Changyi Jiao pelan. Namun reaksi ketiganya berbeda ketika mendengar perkataan Patriak Changyi Jiao.
"Benarkah itu ayah....?" Tanya Changyi Sia dengan mata sedikit terbelalak karena sulit untuk mempercayainya.
"Kamu tidak berbohong kan suamiku....? Tanya Pei Yu dengan rasa terkejutnya.
"Mustahil!!! Bukankah itu daerah paling rawan di kekaisaran ini guru?" Tanya pangeran Tang Liu seperti tidak percaya dengan pendengarannya.
"Aku sudah menduga kalian akan sulit untuk percaya. Tapi itu lah kenyataannya."
"Apakah kalian masih juga tidak percaya kalau aku yang mengantarkan Changyi Yuwen masuk ke dalam hutan kematian dan tinggal di dalam lembah hutan kematian?" Lagi lagi mereka dibuat terkejut dengan kenyataan yang ada.
Aku bertemu dengan Changyi Yuwen ketika dia diserang oleh sekte gagak Hitam yang di pimpin oleh Jian Ying. Pada saat aku tiba tubuh anak itu sudah dipenuhi luka begitu juga dengan Yong.
Ketika aku bertanya kemana tujuan mereka aku sendiri sulit untuk mempercayainya saat itu. Mereka ingin pergi ke pulau tengkorak dan masuk ke dalam hutan kematian.
Menurut ceritanya hanya tempat itulah yang paling aman dari orang orang aliran hitam yang selalu mengincarnya dan di sana pula satu satunya tempat yang bisa membuka segel aura naga ditubuhnya.
Sesuai dengan legendanya hutan kematian adalah hutan yang paling mengerikan.Banyak sekali bahaya ketika kami memasukinya.
Setelah melewati beberapa bahaya akhirnya kami sampai di lembah hutan kematian, yang sedikit aman jika dibandingkan tempat yang lain.
Hari demi hari waktu berlalu, sebenarnya aku cukup dilema saat mengambil keputusan pergi meninggalkannya sendirian di dalam hutan kematian.
Tetapi di sisi lain aku juga tidak bisa mengabaikan tanggung jawabku sebagai kepala sekte. Maka dengan berat hati aku meninggalkan Changyi Yuwen dan Yong di sana untuk berlatih.
Patriak Changyi Jiao memang sengaja tidak menceritakan tentang kakek Feng Ying karena dia sudah berjanji untuk menjaga rahasianya.
__ADS_1