Legenda Pendekar Pedang Naga

Legenda Pendekar Pedang Naga
BAB. 64. Wen Zilan selalu dalam bahaya.


__ADS_3

Rombongan keluarga bangsawan Wen Zilan memasuki pintu gerbang masuk sekte ketika tengah hari.


Karena sebelumnya Wen Zilan sudah memberikan kabar lewat surat. Kalau dia akan datang mengunjungi sekte cahaya bulan.


Matriak Qing Lan yang pada hari biasa akan sulit untuk dijumpai. Tapi hari ini dari semenjak pagi sudah sibuk.


Mungkin karena sudah cukup lama tidak bertemu dengan cucunya, yang memang jarang bertemu karena sama sama sibuk.


Matriak Qing Lan jarang sekali keluar dari sektenya kalau tidak ada masalah benar benar penting. Orang tua Wen Zilan pun juga sulit meninggalkan tanggung jawabnya sebagai kepala keluarga besar Wen.


Sementara membiarkan sang putri Wen Zilan pergi sendiri tanpa dirinya membuatnya tidak tenang. Karena banyak sekali orang yang berniat jahat menculik putrinya karena bakat yang dimilikinya.


Memiliki putri yang sangat berbakat dan jenius seperti Wen Zilan, sejujurnya memberikan banyak tekanan. Kepala keluarga Wen Qiong seperti di hadapkan pada dua sisi mata pedang.


Di satu sisi dia sebagai orang tua merasa bangga mempunyai putri yang berbakat dan masa depan yang sangat cerah. Namun di sisi yang lain di merasa was-was dan takut akan keselamatan nyawa putrinya yang selalu diintai bahaya.


Kali ini saja kepergian Wen Zilan harus dilakukan secara diam diam. Mereka menyamar sebagai keluarga bangsawan kecil karena takut ada yang akan mengenalinya.


Tujuan dari kedatangan Wen Zilan ke sekte cahaya bulan selain mengunjungi neneknya juga ada kaitannya dengan masalah keselamatannya.


Kepala keluarga Wen Zilan sengaja mengirim putrinya ke sekte cahaya bulan agar bisa mendalami ilmu beladiri lebih baik.


Sebenarnya selama tinggal di rumah keluarga Wen, Wen Zilan sudah mempelajari ilmu beladiri namun masih dalam tingkat dasar saja.


Kali ini dia ingin mempelajari ilmu beladiri sampai batas maksimal yang dia miliki. Karena dia sadar nyawanya selalu dalam bahaya jadi dia harus mempersiapkan diri jika sewaktu-waktu dalam bahaya.


Karena tidak mungkin selamanya dia akan menjadi beban bagi orang lain. Dan juga tidak selamanya di saat sedang dalam bahaya selalu ada orang disampingnya untuk menolong.


Berdasarkan keyakinan inilah hati Wen Zilan tergugah, ketika dia menyampaikan keinginannya pada ayahnya Wen Qiong. Ayahnya pun mendukung sepenuhnya keputusan sang putri sebenarnya dia juga memiliki pikiran yang sama dengan putrinya.


"Nenek!!! Aku merindukan mu...." Wen Zilan berlarian ke arah matriak Qing Lan berada. Dua orang berbeda generasi ini saling melepas rindukan dengan pelukan hangat.

__ADS_1


"Nenek juga sangat merindukan mu sayang...." Matriak Qing Lan menimpali perkataan cucunya itu.


"Mari kita masuk kedalam sayang...."


Setelah merasa puas karena telah melepas rindukan mereka dengan cara berpelukan seperti tadi. Kini matriak menuntun Wen Zilan masuk ke dalam rumah kepala sekte.


"Jian Ming. Tolong antar tuan Dai Yu dan pengawal ke kamarnya."


Sebelum melangkah terlalu jauh matriak Qing Lan memberikan perintah pada salah satu murid inti sekte. Untuk mengantarkan para pengawal Wen Zilan beristirahat di kamar yang telah disediakan.


"Baik guru." Jian Ming menjawab perintah gurunya dengan sopan dan hormat.


"Tuan Dai Yu dan semuanya. Mari ikuti saya." Jian Ming mengantarkan pengawal Wen Zilan setelah menjawab perintah dari gurunya tersebut.


Jian Ming adalah murid yang didik langsung oleh matriak Qing Lan. Jian Ming ditemukan oleh matriak Qing Lan ketika masih sangat kecil.


Pada saat dirinya menemukan Jian Ming anak itu terluka parah dan tergeletak di antara puluhan mayat yang bergelimpangan di sampingnya.


Andaikan saja saat itu Jian Ming kecil tidak di temukan oleh matriak Qing Lan pasti mati jika melihat kondisinya saat itu.


Jian Ming kini berusia 20 tahun, dia sudah sering pergi mengobati para penduduk sekitar yang minta pertolongan pada sektenya.


Semua orang meyakini kalau Jian Ming yang nantinya akan ditunjuk menjadi penerus kepala sekte cahaya bulan selanjutnya. Jian Ming mempunyai kepribadian rendah hati, berbudi luhur serta suka menolong.


Setelah semua orang pergi menuju tempat masing masing suasana aula depan sekte kembali hening. Karena semua kembali pada rutinitasnya sendiri seperti sebelumnya.


###


Hari penyerahan hadiah bagi para pemenang pertandingan telah berlalu. Semua berjalan dengan lancar tidak ada kendala yang berarti sehingga membuat semuanya berjalan sebagaimana mestinya.


Pagi hari selanjutnya sudah banyak peserta serta para undangan yang hadir dalam turnamen pendekar muda kembali lagi ke sekte masing masing.

__ADS_1


Begitu juga dengan Ye Qianyu, Xing Ling, Kang Lian, Cong Lin, Mo Shao, Changyi Yuwen, Yong. Changyi Sia, pangeran Tang Liu dan masih banyak lagi yang lainnya.


Semuanya saling mengucapkan salam perpisahan dan berjanji akan bertemu kembali di lain kesempatan. Mereka satu persatu meninggalkan sekte bunga persik.


Meskipun pertemuan mereka sangat singkat namun menyimpan kenangan yang sangat mendalam di hati semua orang.


Awalnya mereka semua adalah orang asing tapi hanya dalam beberapa hari saja perasaan di hati mereka berubah menjadi saudara.


Dalam acara turnamen pendekar muda kali ini banyak sekali pelajaran berharga yang dapat mereka petik.


Salah satu contohnya kekuatan yang selama ini mereka bangga banggakan ternyata masih kalah jauh jika dibandingkan dengan yang lainnya.


Mereka yang selama ini dianggap paling jenius di sekte mereka masing-masing ternyata hanya seperti butiran pasir kecil saja di dunia persilatan yang sebenarnya.


Dengan adanya turnamen seperti ini bisa membuka hati serta wawasan mereka, bahwa dunia persilatan ini sangat luas.


'Di atas langit masih ada lagi langit ' pepatah ini memang benar benar menggambarkan situasi saat ini.


Tidak terasa semua sudah pergi hanya tinggal beberapa orang saja yang masih ada di tempat itu. Mereka yang masih belum pergi Changyi Yuwen, Yong, Changyi Sia karena ada beberapa hal yang akan mereka bicarakan.


Sementara itu pangeran Tang Liu menemani keponakannya pangeran Tang di kawal oleh jendral Lin Siau menemui Patriak Zhang Zhuran dan para tetua sekte bunga persik.


"Saudara Yuwen. Setelah ini kamu akan pergi ke mana?"


"Aku tidak bisa menjelaskan secara rinci kemana tujuanku selanjutnya. Karena sejujurnya aku juga aku masih belum tau. Tetapi yang jelas aku akan mencari sekte kalajengking hitam sudah waktunya menurut balas. Karena tidak mudah menemukan sekte mereka yang tertutup dengan dunia luar."


"Apakah kamu tidak ingin menemui ayah dulu sebelum melanjutkan petualangan mu itu? Beliau pasti akan sangat senang melihatmu telah kembali?"


"Sejujurnya aku juga sangat merindukan paman dan kalian semua. Tapi jika aku tetap menemui kalian semua, maka keselamatan kalian semua akan dalam bahaya. Aku hanya bisa menitipkan surat ini pada paman. Semoga dengan beliau dapat mengerti." Seraya menyerahkan sepucuk surat pada Changyi Sia, gadis itu lalu menyimpannya.


"Baiklah kalau begitu. Berhati hatilah selama dalam perjalananmu nanti. Kalau ada kesempatan atau waktu tulislah surat pada kami, paling tidak kami tau kamu dalam keadaan baik baik saja."

__ADS_1


Tidak terasa ada butiran bening merembes dari sudut mata Changyi Sia. Hati gadis itu sangat sedih meskipun mereka sudah bertemu dengan saudara sepupunya namun tetap tidak bisa berkumpul.


Gadis itu sadar dia tidak boleh egois, selain keselamatan keluarga mereka terancam Changyi Yuwen masih punya urusan yang harus diselesaikan sendiri dengan sekte kalajengking hitam.


__ADS_2