Legenda Pendekar Pedang Naga

Legenda Pendekar Pedang Naga
BAB. 68 Masalah perjodohan.


__ADS_3

Patriak Kang Jian tidak mempedulikan pertanyaan yang diajukan oleh putrinya. Kini dia justru serius bertanya pada putrinya.


"Lian'er bisakah kamu menceritakan ciri ciri dari pemuda bernama Fang Yuwen ini. Atau apa saja yang ada hubungannya dengan pemuda bernama Fang Yuwen ini?" patriak Kang Jian bertanya pada putrinya dengan wajah serius.


"Memangnya kenapa yah? Apakah ayah mengenal Fang Yuwen ini?" Tanya Kang Lian penasaran.


Kini Kang Lian jadi penasaran dengan ayahnya, sebenarnya apa yang dirahasiakan oleh ayahnya. Dan apa hubungannya pemuda bernama Fang Yuwen dengan ayahnya.


"Ciri ciri Fang Yuwen, usia 16 atau 17 tahun, dia memiliki aura yang aneh, karena itu pertama kali dirinya merasakan aura seperti itu. Dia berasal dari kota Huang An. Dia juga memiliki pedang naga. Makanya dia dijuluki sebagai Dewa Pedang Naga." Kang Lian memberikan gambaran tentang Fang Yuwen pada ayahnya sesuai dengan ingatannya.


"Apakah kamu bisa menjelaskan ciri-ciri dari pedang naga yang dimiliki oleh Fang Yuwen?" Tanya Patriak Kang Jian lebih lanjut.


"Seingat ku... Sebentar." Kang Lian menekan pelipisnya dengan jari telunjuknya sambil berusaha mengingat ingat kembali gambaran pedang naga milik Changyi Yuwen.


"Aku ingat sekarang. Pedang naga itu memiliki sarung berwarna biru terang dan di gagang pedang itu terdapat simbol ukiran naga berwarna putih salju."


Kang Lian menjelaskan ciri-ciri pedang naga yang dia ingat. Karena pada saat bertarung di babak final dengan Changyi Yuwen, Kang Lian bisa melihat dengan jelas pedang milik Changyi Yuwen saat ini.


"Tidak salah lagi!!! Semuanya sama." Ucap Patriak Kang Jian pelan namun dapat didengar jelas oleh Mei Yin dan Kang Lian karena mereka memang tidak jauh dari tempat duduknya.


"Ayah kenapa? Apakah ayah baik baik saja?" Tanya Kang Lian terlihat khawatir yang melihat tingkah ayahnya yang sangat aneh menurutnya.


"Suamiku apakah ada sesuatu yang menggangu pikiranmu saat ini?" Kali ini istrinya pun juga ikut penasaran dengan perubahan sikap suaminya, karena tidak biasanya suaminya bersikap seperti itu.


"Mei Mei apakah kamu masih mengingat mendiang istri Changyi Jun dari sekte bintang timur?"


"Iya aku masih mengingatnya. Kenapa kamu tiba-tiba bertanya tentang mereka?"


"Apakah kamu masih mengingat nama putra mereka?"


"Ya. Aku masih mengingatnya, kalau tidak salah bernama Changyi Yuwen. Memangnya kenapa? Bukankah saat ini dia sedang menjalani latihan tertutup sesuai dengan kabar yang kita terima dari Patriak Changyi Jiao." Mei Yin dibuat pusing sendiri karena pertanyaan suaminya.

__ADS_1


"Apakah kamu masih mengingat pedang naga milik Fang Yin?" patriak Kang Jian masih saja engan menjawab pertanyaan anak dan istrinya justru melanjutkan pertanyaannya.


"Iya. Pedang yang tidak bisa ditarik keluar dari sarungnya itu kan yang kamu maksud...."


"Iya kamu benar. Apakah kamu masih mengingat ciri ciri pedang naga milik Fang Yin?"


"Pedang itu memiliki sarung berwarna biru terang dan di gagang pedang ada ukiran kepala naga." Ketika menyebutkan ciri-ciri pedang Fang Yin sama dengan ciri ciri pedang milik Fang Yuwen.


"Tidak mungkin!!! Jadi...." Teriak Mei Yin ketika baru saja menyadari kata katanya sendiri.


Dia baru menyadari kesamaan antara pedang milik Fang Yuwen dengan pedang milik sahabatnya Fang Yin.


Dia dapat mengenali pedang naga milik Fang Yin dengan baik karena dia pernah mencoba menarik pedang itu dari sarungnya tetapi tidak pernah bisa.


"Sebenarnya kalian berdua ini kenapa?" Kang Lian di buat semakin bingung. Kali ini ibunya juga ikut ikutan aneh seperti ayahnya.


"Jadi menurutmu Fang Yuwen sebenarnya Changyi Yuwen putra dari Changyi Jun dengan Fang Yin. Changyi Yuwen sengaja mengubah marga ayahnya menjadi marga ibunya agar orang lain tidak mengetahuinya identitas sebenarnya."


"Tepat!" Jawab Patriak Kang Jian dengan cepat pada istrinya.


"Kenapa aku jadi pusing sendiri? Melihat kelakuan kalian, yang seperti orang kesurupan."


"Hush...."


"Ngawur!!!"


Patriak Kang Jian dan Mei Yin serentak menjawab perkataan putrinya itu.


"Bagaimana wajah Fang Yuwen?"


"Apakah dia tampan?"

__ADS_1


"Apakah kamu menyukainya?"


Kali ini Mei Yin memberikan pertanyaan pada putrinya tanpa jeda.


"Ibu!!!" Kang Lian justru berteriak ketika menanggapi pertanyaan ibunya.


"Lian'er jika pemuda bernama Fang Yuwen itu benar Changyi Yuwen. Maka pemuda itu adalah tunanganmu sendiri. Kalian sudah terikat perjodohkan dengannya sejak kalian masih kecil dulu." Kali ini Patriak Kang Jian yang bersuara.


"Tetapi kami tidak pernah saling mengenal ayah? Kenapa harus ada perjodohan seperti itu?" Tanya Kang Lian ragu.


Sejujurnya didalam hatinya ada senang, ketika dirinya memiliki hubungan seperti ini dengan pemuda tampan, berkemampuan beladiri tinggi. Tentu tidak akan ada gadis manapun mau menolaknya.


Namun dia ragu dan tidak bisa yakin jika pemuda itu akan memiliki perasaan padanya. Dia masih mengingat bagaimana sikap dan cara memperlakukan orang lain dengan dinginnya.


Dia seolah tidak perduli pada siapapun. Mau dia itu laki-laki atau pun perempuan dia akan bersikap sama.


Saat kecil sebenarnya Changyi Yuwen memiliki sifat yang periang dan sangat manja sekali pada ibunya. Semuanya langsung berubah 180 drajat, ketika dia melihat sendiri kedua orang tuanya di bunuh oleh sekte kalajengking hitam.


Pelan pelan sifatnya berubah menjadi sangat dingin tidak suka banyak bicara kalau tidak penting. Yang ada di hati selama ini Changyi Yuwen hanya belajar dan berlatih dengan giat.


Agar secepatnya memiliki keahlian tinggi untuk membalaskan kematian kedua orang tuanya. Dia tidak akan pernah bisa tenang sebelum menghancurkan sekte kalajengking hitam dengan tangannya sendiri.


"Karena itu impian terakhir Changyi Jun dan Mei Yin yang belum terwujud. Dan kami ingin mewujudkannya. Dengan menjodohkan kamu dengan Changyi Yuwen."


"Tapi bagaimana kalau Changyi Yuwen menolak perjodohan ini ayah?"


"Kenapa dia harus menolaknya kamu cantik. Kalian sama-sama masih muda, jenius dalam ahli beladiri."


"Ayah sudah cukup jangan dibahas lagi masalah ini. Karena semuanya masih menjadi misteri. Kalau kami memang berjodoh suatu saat nanti kami pasti akan di pertemuan kembali. Tetapi kalau kami memang tidak berjodoh aku berharap ayah janganlah memaksakan kehendak pada kami." Kang Lian berusaha memberikan pengertian pada kedua orang tuanya.


Karena dia tidak ingin terjebak dalam hubungan yang tidak pasti, yang justru akan membelenggu langkah kakinya.

__ADS_1


Dia ingin semuanya berjalan apa adanya tanpa ada rekayasa atau pun keterpaksaan. Biar semuanya berjalan layaknya air mengalir sesuai dengan alurnya.


Kalau memang mereka berjodoh dimana pun mereka berada pasti akan mempertemukan oleh takdir. Dan hati mereka akan disatukan oleh indahnya surga cinta.


__ADS_2