
Mentari pagi hari bersinar dengan cerahnya, menyinari pepohonan rindang yang nampak indah karena bunga persik sedang bermekaran membentang luas.
Ditengah maraknya bunga persik berguguran terlihat banyak sekali orang orang yang sibuk dengan aktivitas masing-masing. Mulai dari yang membersihkan halaman, berlatih ilmu beladiri serta orang orang berjalan mondar mandir menata segala sesuatu untuk persiapan penyambutan tamu turnamen pendekar muda di sekte mereka.
"Tetua Li Jian, bagaimana dengan persiapan penyambutan para tamu undangan. Apakah ada kendala?" Tanya seorang pria berjubah biru terang yang duduk di depan menghadap semua orang yang ada dihadapannya.
Nampaknya pria berjubah biru terang ini orang yang sedang memimpin pertemuan didalam aula itu. Pria ini memiliki karisma serta aura kepemimpinan yang sangat mendominasi bagi siapa saja yang menatapnya.
"Tidak ada Patrick. Semuanya berjalan lancar sudah sesuai dengan kesepakatan yang telah kita rencanakan."Tertua Li Jian menjawab ketua sekte mereka yaitu Patrick Zhang Zhuran yang tengah memimpin pertemuan kali ini.
"Bagus kalau begitu. Bagaimana dengan persiapan yang lain? Apa ada yang menemui kendala?" Tanya Patrick Zhang Zhuran kepada semua orang yang hadir dalam pertemuan tersebut.
Acara pertemuan itu berlangsung cukup lama, meskipun ada beberapa hal yang harus dibahas ulang. Namun semua itu tidak dapat diatasi dengan mudah.
Ketika di aula pertemuan para tetua dan kepala sekte sedang sibuk membahas berbagai hal menyambut acara turnamen pendekar muda.
#####
Di sebuah tempat yang berbeda, nampak sebuah pertarungan yang cukup sengit. Dimana dua orang gadis cantik mengenakan gaun mewah berwarna putih bersih terlihat mahal. Itu menunjukkan kalau gadis itu bukanlah gadis yang mempunyai latar belakang biasa.
"Saudara Qian Qian, anda tidak apa apa?" Tanya seorang gadis cantik lainnya. Ketika dia baru saja lolos dari serangan lawannya.
"Aku tidak tidak apa-apa saudara Lan." Jawab gadis yang dipanggil saudara Qian Qian sambil memegangi dadanya yang terasa sesak kare tadi sempat terkena tendangan lawan yang tidak sempat dia hindari.
"Serahkan barang kalian jika tidak ingin mati!!!" Seru salah seorang pria yang memakai cadar hitam serta baju serba hitam pada kedua gadis cantik yang ada di hadapannya.
"Sudah aku bilang. Bahwa aku tidak mempunyai barang berharga seperti kalian kira. Kami hanyalah pengelana biasa jadi tidak memiliki banyak barang berharga." Jawab gadis yang dipanggil saudara Lan itu dengan tegas.
__ADS_1
Tangannya masih tetap menggenggam erat pedang pedang, tanpa mengurangi kewaspadaannya karena bisa saja salah satu dari mereka menyerang secara tiba tiba.
"Kalian memang tidak bisa diajak baik baik. Baiklah kalian memang harus mati!"
"Baik baik bagaimana? Kalian ingin merampok barang kami di bilang baik. Lalu kebaikan kalian ada di sisi mana? Aku jadi bingung memikirkan perkataan kalian...." Senyuman mengejek terbit dari gadis yang dipanggil saudara Lan tersebut.
Mendengar kata-kata yang keluar dari gadis cantik yang ada di hadapannya, serta senyuman mengejek yang diarahkan kepadanya membuat pria bercadar hitam itu marah.
"Kalian semua jangan diam saja. Serang mereka sekarang juga."
Tanpa menunggu perintah untuk kedua kalinya orang orang yang memakai cadar hitam langsung saja bergerak menyerang dua gadis. Sementara kedua gadis itu sudah siap serta memasang kuda-kuda untuk menyambut serangan lawan.
Dengan gerakan sangat lincah namun mematikan kedua gadis cantik itu, berusaha menghindari serangan lawan serta berusaha untuk menyerang balik lawannya.
Pada awal mula pertarungan itu di mulai kembali sekelompok orang orang yang mengunakan cadar hitam lebih lebih unggul kare jumlah mereka. Namun lama kelamaan kedua gadis cantik itu mulai bisa mendesak lawan dan pada akhirnya lebih mendominasi.
Melihat anak buahnya yang susah payah dia kumpulkan di bantai begitu saja hal membuat pemimpin dari kelompok itu terlihat sangat murka, ingin secepatnya menghabis kedua gadis itu.
Namun ketika rencana yang dia pikirkan untuk menghabisi kedua gadis cantik ingin mulai dia laksanakan. Dari arah berlawanan muncul tiga orang menunggangi tiga ekor kuda gagah.
Melihat hal tersebut pemimpin dari sekelompok orang orang bercadar hanya bisa meng umpat kesal. Karena jika di tetap nekat ingi bertarung dengan orang orang itu sudah bisa di pastikan dia akan kalah dan kemungkinan besar terbunuh.
Dia tidak ingin mengambil resiko terlalu jauh, maka dengan cepat di memerintahkan pad seluruh anak buahnya yang masih tersisa untuk segera meninggalkan tempat itu.
Meski pun kedua gadis terlihat lebih unggul dari lawan lawannya. Sebenarnya kedua gadis cantik itu sudah sangat kelelahan andaikan pertarungan masih tetap dilanjutkan kedua gadis cantik itu belum tentu bisa bertahan lebih jauh.
Walau pun dapat mengalahkan mereka semua namun ada harga mahal yang harus dia bayar yaitu kemungkinan besar terluka parah atau kehilangan salah satu anggota tubuhnya.
__ADS_1
Gadis kecil yang tadi nampak tangguh kini mulai terkulai lemah ketika orang orang yang menjadi lawannya meninggalkan tempat itu.
Kini kedua gadis itu menatap arah munculnya suara telapak kaki kuda yang semakin mendekat ke arah mereka terduduk.
"Apakah anda baik baik saja nona nona...." Tanya gadis dalam rombongan penunggang kuda yang baru saja sampai.
Gadis penunggang kuda itu langsung saja meloncat dari kudanya ketika sudah sampai tempat terjadinya pertarungan. Tadinya mereka mengendarai kuda dengan santai, namun ketika dia mendengar seperti suara pedang sedang berbenturan. Dia sangat yakin kalau sedang ada pertempuran yang tidak terlalu jauh didepannya.
Maka dia memacu kudanya lebih kencang agar cepat sampai tempat terjadinya pertarungan. Namun tidak dia sangka ketika dia baru saja tiba di sambut oleh pemandangan yang sangat mengejutkan.
Banyak sekali mayat-mayat yang bergelimpangan dan ditengah banyaknya mayat nampak dua orang gadis cantik terlihat lemah dengan tubuh serta baju banyak sekali darah meskipun tidak yakin kalau itu darahnya sendiri.
"Terima kasih. Kami baik baik saja, nona...." Jawab salah satu gadis yang ditolongnya dengan sopan.
"Sebenarnya apa yang terjadi? Sampai kondisi nona seperti ini?" Tanyanya padis penunggang kuda itu sambil membantu salah satu gadis kecil itu mencari tempat yang lebih nyaman untuk beristirahat sejenak.
"Kami sedang menghadapi sekelompok perampok. Berkat kedatangan anda semua, mereka melepaskan kami sebelum anda tiba. Bolehkah kami tahu siapa anda sekalian?"
"Namaku Kang Lian, ini saudara Cong Lin serta itu tetua kami Bai Xiao. Nama kalian siapa?"
"Perkenalkan kami dari Sekte Gunung Awan. Namaku Ye Qianyu dan ini saudara seperguruanku Xing Lan."
"Apakah kalian ingin menuju sekte bunga persik?"
"Benar saudara Lian. Apakah anda juga ingin kesana untuk menghadiri turnamen pendekar muda?"
"Benar. Itu berarti tujuan kita sama. Kalau begitu bagaimana kalau kita lanjutkan perjalanan ini bersama sama."
__ADS_1
"Ide yang sangat bagus. Tapi sebelum itu berikan kami waktu sebentar untuk memulihkan tenaga kami sebelum melanjutkan perjalanan." Jawab Ye Qianyu sebelum memejamkan mata untuk memulihkan diri mengunakan tenaga dalamnya.