Legenda Pendekar Pedang Naga

Legenda Pendekar Pedang Naga
BAB 39. Kakek Tua Misterius


__ADS_3

Changyi Yuwen bersama dengan Yong menuju kota Cang Ling hanya dengan berjalan kaki saja. Karena dia ingin menggunakan kesempatan kali ini untuk lebih memperdalam pengetahuan dan juga menambahkan pengalaman.


Mereka memiliki waktu kurang lebih satu bulan sampai tujuan. Mengingat mereka memiliki waktu yang masih cukup lama maka mereka berjalan dengan santai. Jika pun keadaan memaksa mereka untuk cepat sampai tujuan maka mereka cukup mengunakan ilmu teleportasi mudahkan itu yang ada dalam pikiran keduanya.


Akhirnya mereka memasuki sebuah kota yang sangat ramai, setelah menempuh dua hari perjalanan. Mereka memutuskan untuk mencari restoran untuk mengisi perut dengan makanan hangat. Setelah beberapa hari ini mereka hanya makan roti kering dan daging bakar hasil buruan yang tersimpan dalam gelang mustika dewa. Changyi Yuwen Juga ingin mengisi perbekalan dengan makanan yang layak.


Ketika Changyi Yuwen dan Yong memasuki pintu restoran mereka segera di sambut oleh pelayan restoran dengan ramah. "Maaf tuan muda. Apa ada yang bisa saya bantu?"


"Kami ingin makan. Apakah masih ada kamar kosong untuk kami berdua?"Jawab Changyi Yuwen sambil mengedarkan pandangannya kearah restoran untuk mencari tempat duduk yang masih kosong. Ketika matanya melihat ada bangku yang kosong maka dia segera melangkahkan kakinya menuju tempat itu dan langsung mendudukkan dirinya.


"Hidangan makanan terbaik yang kalian miliki!!" Setelah berkata demikian Changyi Yuwen mengeluarkan tiga keping koin emas dan meletakkan di atas meja. "Ini untuk biaya makan dan kamar kami berdua. Apakah masih kurang?"


"Tidak tuan muda. Ini sudah cukup. Tunggu sebentar kami akan mempersiapkan pesanan anda." Pelayan itu dengan cepat meraih koin emas tersebut dan segera meninggalkan Changyi Yuwen dan Yong tanpa menanyakan menu apa saja.


Seharusnya dengan koin emas itu cukup untuk membayar makanan Changyi Yuwen dan Yong selama beberapa hari. Satu keping koin emas setara dengan seratus koin perak. Satu koin perak setara dengan seratus koin perunggu. Sementara biaya penginapan ini permalam hanya sepuluh koin perunggu setiap satu kamarnya.


Dan untuk hidangan terbaik yang ada dalam restoran ini tidak sampai menghabiskan lima puluh keping koin perunggu. Itu artinya tiga keping koin emas yang diberikan oleh Changyi Yuwen mempunyai nilai yang cukup besar.


Tidak perlu menunggu lama sudah ada beberapa pelayan mengantarkan beberapa hidangan, yang masih mengepul karena baru selesai dimasak serta mengeluarkan aroma menggugah selera ke arah meja yang mereka tempati.


Changyi Yuwen dan Yong langsung mengambil mangkok dan mengisi dengan sup ayam yang masih panas. Rasanya sungguh nikmat sekali karena mereka sudah sangat lama tidak pernah menikmati makanan hangat seperti ini.


"Ijinkan saya masuk. Saya punya uang untuk membayar makanan disini!" Suara seorang kakek tua berkata pada salah seorang pelayan restoran.

__ADS_1


"Pergilah!! Apa kamu pikir kamu punya uang lantas bisa makan di restoran ini. Kehadiran mu bisa menggangu pengunjung restoran ini!" Hardik pelayan restoran itu sambil terus berusaha membuat kakek tua itu untuk segera pergi meninggalkan restoran.


"Ku mohon ijinkan untuk masuk. Aku sudah benar lapar...." Suara kakek tua terdengar sangat lemah terdengar menyayat hati.


Tetapi pelayan itu seperti tidak punya hati tetap tidak mengijinkan kakek tua itu untuk masuk. Changyi Yuwen yang melihat kejadian itu merasa tidak tega pada kakek tua yang ada di depan pintu masuk restoran.


"Pelayan sudah jangan usir lagi kakek itu. Sekarang bungkus kan saja makanan dari mejaku ini. Lalu berikan pada kakek tua itu."


"Baik tuan muda."


Setelah berkata demikian pelayan itu langsung membungkus makanan yang ada di atas meja Changyi Yuwen dan memberikan pada kakek tua itu. Dari kejauhan Changyi Yuwen bisa melihat betapa senangnya kakek tua itu mendapatkan bungkusan makanan.


"Pelayan siapkan lagi makanan untuk kami!"


"Baik tuan muda. Tunggu sebentar kami siapkan makanan untuk anda." Jawab pelayan itu dengan semangat karena hari ini bisa mendapatkan banyak sekali untung dari Changyi Yuwen.


Setelah selesai menghabiskan makanan di restoran Changyi Yuwen dan Yong meninggalkan tempat itu. Kini kedua berjalan menuju kamar yang telah disediakan oleh pemilik penginapan sekaligus pemilik restoran.


Keesokan harinya setelah selesai sarapan pagi Changyi Yuwen dan Yong meninggalkan penginapan itu. Kini mereka berjalan kearah hutan, menurut peta yang dia baca saat ini dia memang harus melewati hutan yang ada di hadapannya untuk bisa mencapai dermaga penyeberangan.


"Tuan muda!! Sepertinya didepan kita ada suara pertarungan."


"Kau benar Yong. Mari kita lihat...."

__ADS_1


Hanya dengan beberapa tarikan nafas saja Changyi Yuwen dan Yong sudah sampai lokasi terjadinya pertarungan. Mata Changyi Yuwen menyipit dia seperti sedang mengingat ingat sesuatu.


"Bukankah itu Kakek tua yang ada di restoran kemarin!" Gumam Changyi Yuwen pelan namun masih bisa didengar oleh telinga Yong yang sangat tajam itu.


"Anda benar tuan muda!!" Sahut Yong singkat.


"Jangan ikut campur. Kita lihat dulu dari sini, agar kita tahu sebenarnya apa yang terjadi dengan mereka."


Selesai berkata demikian Changyi Yuwen langsung mencari tempat yang nyaman di atas dahan pohon besar yang tidak jauh dari arena pertarungan itu. Yong pun juga mengikuti apa yang dilakukan oleh Changyi Yuwen yaitu duduk di atas dahan pohon.


"Tua Bangka cepat berikan benda itu. Jika kamu masih ingin hidup!!!" Teriak seorang laki laki yang memiliki wajah garang dan ada bekas luka memanjang dari pipi bawah keatas sampai dekat mata menambah kesan sangar serta seram.


Sementara itu kakek tua yang menjadi lawannya, meskipun di tengah kepungan musuh dari berbagai sisi tidak membuatnya gentar. Justru kakek tua itu tersenyum mengejek dan memprovokasi lawannya.


"Benda apa yang ingin kau cari? Sudah aku bilang berulang kali bahwa aku tidak memilikinya. Lihatlah dirimu yang begitu menyedihkan itu, kamu ingin memberikan aku kesempatan untuk hidup. Bukankah itu terlalu berlebihan...."


"Matilah kau tau Bangka!!!" Teriak pria paruh baya itu. Lalu berteriak kembali kali ini dia memerintahkan anak buahnya. "Kalian semua dengar bunuh tua bangka itu!!!"


Setelah mendengar perintah pria paruh baya itu, orang orang yang mengepung kakek tua bergerak cepat untuk menyerang dalam sebuah formasi. Serta mengeluarkan nafsu membunuh untuk menekan lawan yang ada di hadapannya.


Sementara itu kakek tua yang merasa dirinya tengah terancam langsung mencari celah untuk menghindari kepungan musuh. Karena dia tidak cukup gila menghadapi musuh yang jauh lebih kuat darinya. Ketika dia tengah sibuk mencari celah untuk bisa lolos dari kepungan musuh, muncul seorang gadis kecil dari balik pohon.


"Jangan bunuh kakek!!!" Teriak gadis kecil itu.

__ADS_1


" Ha... ha... Akhirnya aku menemukannya...." ucap pria paruh baya dengan seringainya.


__ADS_2