
"Surat dari siapa tuan muda?" Tanya Yong penasaran. Karena setelah selesai membaca surat itu Changyi Yuwen nampak mengulas senyum tipis.
"Kakek." Jawab Yong singkat.
"Apakah makanan ini juga darinya."
"Iya."
"Wah! Wah! Ternyata anda sudah bertemu dengan beliau. Bagaimana tadi ceritanya?" Tanya Yong seperti biasanya selalu suka penasaran.
"Iya tadi aku menemuinya. Tidak ada yang perlu diceritakan. Karena tidak ada sesuatu yang penting."
"Kenapa sekarang anda jadi pelit padaku dan tidak mau lagi berbagi cerita denganku."
"Yong kenapa aku merasa akhir akhir ini kau menjadi lebih cerewet. Dan lebih suka banyak bicara, tidak seperti biasanya. Apakah telah terjadi sesuatu denganmu?" Tanya Changyi Yuwen pada Yong dengan menyipitkan matanya, karena merasa ada sesuatu yang aneh pada diri Yong.
"Itu perasaan anda saja tuan muda. Buktinya tidak ada yang berubah dari diriku ini." Jawab Yong mengelak.
"Ya sudah. Ayo kita makan dulu. Nanti keburu dingin makanan ini."
Ajak Changyi Yuwen menyantap hidangan di atas meja dan lebih memilih mengakhiri perdebatannya dengan Yong. Seandainya perdebatan itu diteruskan pun tidak akan ada gunanya. Jadi lebih baik mengalah saja pikir Changyi Yuwen.
Yong memanyunkan bibirnya karena sedang merajuk. Mirip anak perempuan yang lagi ngambek. Changyi Yuwen yang melihat tingkah Yong hanya tersenyum tipis karena merasa lucu.
Akhirnya mereka menyantap hidangan yang ada di atas meja bersih sampai tidak ada yang tersisa. Entah karena memang lapar atau karena moodnya yang sedang buruk sehingga Yong melampiaskan pada makanan.
Changyi Yuwen yang memperhatikan tingkah Yong hanya bisa geleng-geleng kepala dengan kelakuannya. Sementara orang yang jadi pusat perhatian hanya bersikap masa bodoh.
Setelah selesai mereka menghabiskan makanan yang ada di atas meja. Tidak lama kemudian datanglah seorang pelayan bertugas merapikan meja yang dipenuhi oleh piring kosong.
#####
__ADS_1
Hari sudah mulai gelap karena matahari sudah terbenam. Tetapi masih ada cahaya temaram dari sinar rembulan bulan.
Dibawah pohon yang rindang, duduklah seorang gadis cantik sedang memandang sinar rembulan yang memantul di atas permukaan air danau.
Tatapan mata gadis itu nampak kosong terlihat jelas kalau dia sedang melamun. Dari raut wajahnya terlihat jelas kalau gadis itu sedang sedih.
"Kenapa semuanya menjadi seperti ini?" Gumamnya lirih.
"Andaikan saja kalian masih hidup. Mungkin aku tidak akan mengalami nasib seperti ini...."
"Ayah, ibu. Aku sangat merindukan kalian."
"Andaikan saja bukan karena ingin membalaskan kematian kalian. Aku lebih memilih menemani kalian di surga. Dari pada harus hidup sebatang kara seperti ini."
Gadis itu mengutarakan isi hatinya, walau tidak ada yang mendengar. Tapi dengan cara seperti itulah dia bisa meluapkan perasaan. Dan suasana hatinya akan lebih cepat membaik. Jika dia sedang teringat dengan kenangan orang tuanya.
Gadis itu bernama Qing Liu Fei. Gadis yang hampir saja mati tenggelam di danau. Kalau saja saat itu Yong terlambat menolong, mungkin gadis itu sudah tidak bernyawa lagi. Dan dia tidak mungkin bisa duduk dibawah pohon seperti sekarang ini.
Sebenarnya gadis ini dulunya mempunyai sifat cerita dan cerewet. Tetapi semenjak kematian kedua orang tuanya, saat menjalankan misi rahasia sekte.
Sifat Qing Liu Fei langsung berubah menjadi pendiam dan tertutup. Gadis itu lebih memilih menghabiskan waktu untuk berlatih ilmu beladiri di kediamannya dari pada bergaul dengan murid lain atau pun gadis seumuran dengannya.
Orang tua Qing Liu Fei dulunya salah satu tetua dari teratai emas dan memiliki rumah pribadi yang sekarang menjadi tempat tinggal Qing Liu Fei.
Setelah selesai makanan Yong pergi keluar karena malam masih terlalu awal untuk tidur. Jadi dia memilih untuk keluar dari kamarnya dan mencari angin segar. Yong terus saja melangkah sampai tidak menyadari kalau saat ini dia menuju danau lagi.
Kali ini Yong tidur di atas rumput yang ada di tepi danau sambil memandang sinar rembulan. Meskipun malam ini bukan bulan purnama namun sinarnya cukup untuk menerangi gelapnya malam.
"Hei kau. Mana barang yang aku minta?" Terdengar suara laki-laki berkata kasar pada gadis cantik yang sedang duduk sambil memeluk lututnya.
"Apa kau tuli?" Bentak pemuda itu lagi dengan sombongnya.
__ADS_1
Sementara itu Qing Liu Fei hanya diam saja. Dia tidak bergeming sedikitpun dari tempatnya duduk menoleh pun tidak. Sikap Qing Liu Fei semakin membuat pemuda itu semakin naik pitam. Ketika perkataannya di acuhkan begitu saja.
Seketika ada dua orang lain yang mengikuti pemuda yang dari tadi berkata kasar pada Qing Liu Fei ingin bergerak dan memberikan pelajaran pada gadis tersebut.
Namun belum sempat dua orang itu bergerak dari tempatnya berdiri. Tubuhnya mendapat tekanan aura pembunuh yang sangat kuat menyerang mereka bertiga.
Tubuh tiga orang pria muda yang mendapat tekanan aura pembunuh langsung mundur beberapa langkah dari tempatnya berdiri. Instingnya sebagai seorang pendekar mengatakan kalau saat itu sedang ada bahaya mengancam.
Walaupun aura pembunuh yang menekannya hanya beberapa detik saja. Namun cukup memberikan rasa takut pada tiga pemuda tersebut dan lebih memilih untuk pergi meninggalkan tempat itu segera.
Sementara Qing Liu Fei yang masih duduk di bawah pohon merasa heran. Karena tidak biasanya ketiga pemuda itu pergi begitu saja sebelum menyerang dirinya.
Qing Liu Fei jelas tidak menyadari kalau ketiga pemuda itu telah mendapat tekanan aura pembunuh yang sangat kuat sampai membuat tubuh mereka berkeringat dingin.
Karena orang yang memberikan tekanan aura kasih itu adalah Yong. Dan tekanan aura pembunuh itu hanya di arahkan pada ketiga orang pemuda, yang tengah mengganggu gadis dibawah pohon.
Yong tidak tahu kalau gadis yang ada di bawah pohon itu gadis yang telah ditolongnya tadi. Tadi ketika dirinya tengah menikmati keindahan malam dikejutkan oleh suara mengintimidasi.
Ketika Yong mendekati dari mana asal sumber suara. Yong melihat ada dua orang hendak memberi pelajaran pada gadis yang duduk sambil memeluk lututnya.
Yong mengira gadis itu sedang takut dan gemetaran karena di intimidasi oleh tiga orang pria yang ada di hadapannya.
Padahal sebenarnya Qing Liu Fei sengaja membiarkan tiga orang pria itu berbuat sesuka hatinya. Sebelum dia memberikan balasan yang setimpal pada ketiganya.
Sebenarnya ini bukan pertama kalinya Qing Liu Fei mendapatkan perlakuan seperti itu. Selama ini banyak sekali orang yang ingin mengganggunya, karena gadis itu biasanya hanya mengalah saja. Dia hanya tidak ingin memancing keributan yang akan melibatkan orang tua mereka ikut campur.
Yong yang tadinya tidak memperhatikan dengan jelas gadis itu. Kini nampak terkejut karena gadis itu adalah gadis yang telah ditolongnya tadi.
Qing Liu Fei pun ikut terkejut karena tidak menyangka akan bertemu kembali dengan pemuda yang telah menolongnya.
"Wah! Wah! Ternyata kamu lagi?" Ucap Yong pelan pada gadis itu.
__ADS_1