
Patriak Fang Tao dan Changyi Yuwen kini telah sampai di depan pintu rumah tetua Rou Lan Ping. Rumah tetua Rou Lan Ping tidak seperti rumah Patriak Fang Tao atau pun rumah wakil ketua sekte Tian Long yang di jaga ketat.
Setelah beberapa kali mengetuk pintu rumah tetua Rou Lan Ping. Akhirnya terdengar suara dari dalam rumah yang sepertinya baru saja terbangun karena mendengar pintu rumahnya di ketuk dari luar.
Meskipun rasa kantuk masih menderanya tapi tetua Rou Lan Ping tetap bangun dari tempat tidurnya karena harus pergi membukakan pintu. Dia ingin melihat siapa orang yang telah membangunkannya di tengah malam buta seperti ini.
Rasa jengkel dan marahnya menguar begitu saja ketika menyadari siapa orang yang ada di balik pintu saat ini. Dia merasa masih seperti mimpi karena ditengah malam kepala sektenya bertamu ke rumahnya.
"Patriak Fang Tao!!. Anda...." Tetua Rou Lan Ping spontan memanggil namanya.
"Biarkan kami masuk terlebih dahulu. Baru kita berbicara di dalam." Sahut Patriak Fang Tao cepat.
"Maaf Patriak. Silahkan masuk." Tetua Rou Lan Ping memberikan jalan pada kedua tamunya untuk masuk ke dalam baru dia mengikuti dari belakang.
Sebenarnya saat ini pikiran Patriak Fang Tao tidak bisa fokus karena ulah cucunya itu. Sebenarnya ilmu apa yang telah di gunakan oleh cucunya, untuk bisa berpindah tempat secepat itu.
"Maaf Patriak. Sebenarnya ada masalah apa? Sampai ada datang sendiri ke rumah saya di tengah malam seperti ini?" Tanya tetua Rou Lan Ping yang sudah tidak bisa lagi menahan rasa penasarannya ketika mereka sudah duduk di ruang tamunya.
Tidak lama berselang beberapa pelayan datang mengantar menghampiri mereka untuk mengantarkan teh serta beberapa makanan ringan pada tamu tuannya.
"Tetua Rou Lan Ping saat ini anda dalam bahaya. Saat ini wakil ketua sekte Tian Long sedang...." Patriak Fang Tao pun menceritakan semua kejadian yang baru saja di ceritakan oleh Changyi Yuwen.
Tetua Rou Lan Ping mengepalkan tangannya karena merasa sangat geram dengan kebiadaban wakil ketua sekte Tian Long.
Sayangnya dia tidak bisa berbuat apa-apa sekarang, jika dugaan Patriak Fang Tao benar kalau dia akan di jebak oleh wakil ketua sekte Tian Long. Maka dia harus segera membuat persiapan untuk menghadapinya.
"Lalu menurut Patriak apa yang harus aku lakukan saat ini?" Tanya tetua Rou Lan Ping pada patriak Fang Tao meminta solusi darinya.
__ADS_1
Patriak Fang Tao pun membisikkan sesuatu pada tetua Rou Lan Ping. Dia sengaja mengatakan secara berbisik karena dia takut ada mata mata yang mendengar pembicaraannya.
Tetua Rou Lan Ping beberapa kali menganggukkan kepalanya sebagai tanda kalau dia mengerti apa yang dimaksud oleh patriak Fang Tao. Sementara itu Changyi Yuwen hanya diam saja karena tidak ingin mengganggu pembicaraan mereka.
"Bagaimana apa kamu sudah mengerti?"
"Sudah Patriak."
"Apakah kamu masih punya ganjalan di hati terkait dengan rencana ini?"
"Tidak ada. Saya sudah mengerti semuanya.
Maaf kalau boleh tau siapakah tuan muda yang bersama dengan anda ini." Tanya tetua Rou Lan Ping pada patriak Fang Tao sambil menoleh ke arah Changyi Yuwen yang tengah duduk di antara mereka berdua.
"Saat ini cukup kamu tau namanya Yuwen. Nanti apabila sudah tepat waktunya akan aku ceritakan semuanya padamu." Ucap patriak Fang Tao sambil tersenyum ketika memberikan penjelasan tentang cucunya yang masih harus di tutupi identitasnya.
"Karena semua sudah selesai. Maka aku akan segera kembali. Ingat perkataanku tadi. Jangan bertindak gegabah. Apa kamu mengerti." Patriak Fang Tao mengingatkan sekali lagi sebelum pergi meninggalkan rumah tetua Rou Lan Ping.
"Saya mengerti Patriak. Saya akan bertindak sesuai dengan arahan anda."
"Baiklah kalau begitu. Aku pamit pulang."
"Silahkan patriak. Saya antar anda ke depan."
"Tidak perlu." Setelah berkata demikian Patriak Fang Tao menoleh ke arah Changyi Yuwen. Mereka pun bangkit dari duduknya dan berjalan ke luar rumah tetua Rou Lan Ping.
Ketika mereka sudah keluar dari rumah tetua Rou Lan Ping Changyi Yuwen segera meraih pergelangan tangan kakeknya. Kali ini Changyi Yuwen membawa kakeknya ke tempat rahasia sektenya. Yang lokasinya berada di belakang dekat dengan danau yang banyak sekali di tumbuhi oleh teratai.
__ADS_1
Changyi Yuwen segera mencari tuas disela sela batu besar untuk membuka pintu goa tersebut. Ketika pintu goa itu terbuka Changyi Yuwen segera mengajak kakeknya untuk masuk.
Patriak Fang Tao tidak menyangka kalau tempat rahasia miliknya akan menjadi tempat penampungan mantan tawanan wakil ketua sekte Tian Long.
Mata patriak Fang Tao seperti tidak bisa di kedipkan dalam waktu cukup lama karena melihat kondisi orang orang itu. Bahkan di mengenali mereka sebagai anggota dari sekte teratai emas yang telah dinyatakan hilang sampai mati.
Namun kali ini dengan mata kepalanya sendiri melihat orang orang itu masih hidup walau pun dalam kondisi yang sangat mengenaskan.
"Tetua Qing Liu Han ada masih hidup!!" Seru Patriak Fang Tao pada seorang pria dengan penampilan lusuh serta kondisi tubuhnya yang terlihat kurus kering. Sepertinya dia sudah mengalami penyiksaan ini dalam jangka waktu yang cukup panjang.
Tetua Qing Liu Han yang tidak menyadari keberadaan ketika sektenya ada didalam ruangan tersebut. Karena dari tadi dia hanya memejamkan matanya saja, sebab dia menahan rasa sakit akibat dari luka dalam serta kelelahan yang dia alami.
"Patriak anda...." Tetua Qing Liu Han ketika menyadari ketika membuka matanya.
Karena ada orang yang memangil namanya suaranya terdengar sangat familiar di telinganya. Makanya dia berusaha untuk membuka matanya yang terasa berat untuk memastikan kebenaran dugaannya.
"Tetua Qing Liu Han kenapa anda bisa berakhir pada kondisi seperti ini?" Patriak Fang Tao mendekat ke arah tetua Qing Liu Han yang tengah duduk bersandar di dinding goa itu.
"Ceritanya sangat panjang Patriak. Jika ada kesempatan aku akan menjelaskan semuanya pada anda. Tetapi yang terpenting sekarang ini. Anda harus menangani wakil ketua sekte Tian Long yang telah begitu kejam terhadap kami semua."
"Tenanglah kami sudah membuat rencana untuk menjebak wakil ketua sekte Tian Long bersama dengan tetua Rou Lan Ping." Ucapan Patriak Fang Tao sambil menggenggam pergelangan tangan Qing Liu Han untuk memeriksa denyut nadinya.
"Tetua Qing Liu Han. Bagaimana bisa anda mengalami luka dalam separah ini?"
Patriak Fang Tao sungguh tidak menyangka kalau orang kepercayaannya itu masih hidup dan sekarang dalam kondisi mengenaskan seperti ini. Changyi Yuwen yang mendengar percakapan mereka berdua bergegas mendekatinya.
"Bolehkah aku memeriksa anda. Siapa tau aku bisa sedikit membantu...." Tanya Changyi Yuwen pada Qing Liu Han.
__ADS_1