Legenda Pendekar Pedang Naga

Legenda Pendekar Pedang Naga
BAB. 80 Tiba di sekte Teratai Emas.


__ADS_3

Bao Ning Hwa gadis kecil yang baru berusia 12 tahun. Dia putri ketiga dari keluarga inti dari bangsawan Bao. Ayahnya kepala keluarga Bao bernama Bao Cheng dan ibunya bernama Fang Jia Li. Fang Jia Li adik kandung dari Fang Tao, Patriak sekte teratai emas.


Itu artinya Bao Ning Hwa masih memiliki hubungan saudara dengan Changyi Yuwen. Meskipun usia Bao Ning Hwa masih kecil namun secara garis keturunan, Changyi Yuwen seharusnya memangil bibi pada Bao Ning Hwa.


Namun rahasia ini masih belum bisa terkuak untuk saat ini, karena mereka memang belum saling mengenal. Lagi pula Changyi Yuwen tidak mau membuka identitasnya jadi hubungan mereka akan tetap menjadi rahasia untuk waktu yang panjang.


Untuk bisa sampai ke sekte teratai emas membutuhkan waktu 3 hari perjalanan mengunakan kereta kuda. Sebenarnya Changyi Yuwen dan Yong bisa saja menggunakan ilmu teleportasi.


Hanya dengan satu kali tarikan nafas mereka sudah berpindah tempat. Tetapi demi tetap menjaga indentitasnya, dia harus rela menunggangi kuda untuk menempuh perjalanan ini.


#####


Ketika Changyi Yuwen masih menempuh perjalanan menuju sekte teratai emas. Di tempat yang lain yaitu sekte teratai emas. Mereka tengah disibukkan oleh kabar dari keluarga bangsawan Bao.


Yang mengatakan bahwa seharusnya putri mereka Bao Ning Hwa sudah tiba beberapa hari yang lalu. Namun sampai dengan detik ini belum ada kabar kalau putri mereka telah sampai di sekte teratai emas milik kakak Fang Jia Li.


Patriak Fang Tao yang mendengar berita tersebut menjadi takut terjadi sesuatu pada Bao Ning Hwa yang sudah dia anggap seperti putrinya sendiri. Patriak Fang Tao memiliki trauma mendalam karena telah beberapa kali mengalami kehilangan orang yang dia sayangi.


Pertama kali dia merasakan kehilangan orang yang disayangi. Pada saat sang istri mati terbunuh oleh sekte gagak hitam hitam, lalu putrinya Fang Yin dan menantu Changyi Jun terbunuh karena sekte kalajengking hitam.


Dan sampai dengan detik ini dia masih belum mengetahui keberadaan cucunya yaitu Changyi Yuwen. Namun satu hal yang membuatnya merasa tenang, karena mengetahui kalau cucunya Changyi Yuwen masih hidup.


Sepengetahuan Patriak Fang Tao saat ini cucunya sedang melakukan latihan tertutup di suatu tempat yang sangat dirahasiakan. Meskipun dia sangat merindukan cucunya itu, Tetapi dia tidak ada yang bisa perbuatnya selain menunggu keajaiban yang entah kapan datangnya.


"Kalian cari keberadaan Bao Ning Hwa. Dan bawalah beberapa murid yang lain untuk membantu."


"Baik Patriak. Kami akan berangkat sekarang juga." Jawab tetua sekte teratai emas itu.

__ADS_1


Patriak Fang Tao memerintahkan pada beberapa murid sekte teratai emas untuk mencari keberadaan Bao Ning Hwa yang seharusnya sudah sampai namun sampai dengan sekarang belum sampai.


Dia tidak bisa membayangkan kalau Bao Ning Hwa sampai mengalami hal buruk, mungkin seumur hidupnya dia tidak akan bisa berhenti untuk menyalahkan dirinya sendiri.


Karena kedatangan Bao Ning Hwa ke sekte teratai emas ada hubungannya dengan dirinya. Dia secara pribadi meminta pada adik iparnya Bao Cheng untuk mendidik serta mengasuh putri ketiganya Bao Ning Hwa di sekte teratai emas.


Mengingat Patriak Fang Tao sudah tidak memiliki siapa siapa lagi selain adiknya Fang Jia Li. Karena pertimbangan itulah kepala keluarga Bao Cheng mengijinkan putrinya Bao Ning Hwa boleh diasuh oleh Patriak Fang Tao.


Tiga hari telah berlalu, setelah beberapa hari terakhir Patriak Fang Tao hanya menerima kabar kabar buruk tentang Bao Ning Hwa masih belum bisa di ketemukan.


Akhirnya hari ini Patriak Fang Tao mendapatkan kabar yang baik kalau Bao Ning Hwa sudah di ketemukan. Menurut laporan yang diterima dari beberapa murid yang mencari keberadaan Bao Ning Hwa.


Saat ini rombongan dari Bao Ning Hwa sudah dekat dengan sektenya. Mungkin kurang dari dua jam saja rombongan itu akan tiba di sekte teratai emas.


Patriak Fang Tao memerintahkan pada beberapa pelayan yang ada di kediamannya, untuk mempersiapkan beberapa hidangan untuk menyambut kedatangan Bao Ning Hwa.


"Bagaimana kamar yang akan di tempati nona Hwa? Apakah sudah kalian bersihkan?" Tanya Patriak Fang Tao pada para pelayan itu.


"Semua sudah beres Patriak." Jawab. pelayan itu dengan sopan.


"Bagus. Bagus. Lalu bagaimana dengan persiapan hidangannya apa sudah siap?" Tanyanya lagi.


"Sebagian sudah. Yang lainnya masih di masak patriak." Jawab pelayan itu kembali.


Setelah selesai memastikan semuanya Patriak Fang Tao pergi ke halaman depan, dia berdiri di depan pintu gerbang sekte teratai emas miliknya. Setelah menunggu cukup lama akhirnya rombongan yang membawa Bao Ning Hwa pun mulai terlihat dari kejauhan.


"Huuh... Akhirnya mereka tiba." Gumam Patriak Fang Tao lega ketika melihat rombongan yang ditunggu dari tadi mulai terlihat.

__ADS_1


"Paman...." Seru Bao Ning Hwa ketika melihat pamannya tengah berdiri di depan pintu gerbang sekte.


Bao Ning Hwa dari kejauhan memang sudah melihat sang paman berdiri di depan pintu gerbang sekte. Jadi ketika rombongan kereta kudanya berhenti dia segera turun dan berlari kearah Patriak Fang Tao.


"Hais! Pelan pelan jangan berlari seperti itu." Patriak Fang Tao berkata pada Bao Ning Hwa namun gadis kecil itu tidak memperdulikan perkataan sang paman.


"Paman Tao. Aku merindukan paman." Ucap Bao Ning Hwa sambil bergelayut manja pada pamannya. Bao Ning Hwa terlihat manja sekali pada Patriak Fang Tao seperti ayahnya sendiri.


"Paman juga merindukan Hwa'er. Sekarang kita masuk ke dalam untuk istirahat." Jawab Patriak Fang Tao.


"Hui Min tolong ajak semua orang orangmu ketempat kalian biasanya beristirahat." Patriak Fang Tao memberikan perintah pada pengawal keluarga bangsawan Bao Hui Min.


Hui Min memang sering sekali datang ke sekte teratai emas karena mengawal nyonya Fang Jia Li ketika sedang berkunjung. Jadi dia sudah hafal tempatnya untuk beristirahat ketika datang ke sekte teratai emas.


"Baik Patriak." Jawab Hui Min sambil memberi hormat.


"Beristirahatlah dulu. Kalian pasti sudah sangat lelah. Nanti setelah selesai beristirahat temui aku. Karena ada yang ingin aku tanyakan pada kalian." Ucap Patriak Fang Tao lagi.


"Baik Patriak. Kalau begitu kami mohon undur diri dulu."


"Iya silahkan."


Setelah rombongan itu pergi meninggalkan tempat itu. Patriak Fang Tao mengajak Bao Ning Hwa masuk ke dalam rumahnya.


Changyi Yuwen yang melihat Bao Ning Hwa bersikap manja serta memanggilnya dengan sebutan paman pada kakeknya sempat kaget. Dia tidak menyangka kalau Bao Ning Hwa ternyata masih memiliki hubungan saudara dengannya.


Saat Changyi Yuwen menatap wajah kakeknya matanya sempat berkaca-kaca, namun dia sembunyikan karena tidak ingin membuat orang lain curiga. Kali ini Changyi Yuwen melihat wajah kakeknya jauh lebih tua dari ingatan terakhirnya.

__ADS_1


Changyi Yuwen dapat memaklumi kalau kakeknya lupa dengan dirinya. Mengingat memang sudah sangat lama mereka tidak berjumpa. Belum lagi dia di kabarkan sedang menjalani latihan tertutup jadi Patriak Fang Tao tidak berfikir kalau ada cucunya ada di dalam rombongan tersebut.


__ADS_2