Legenda Pendekar Pedang Naga

Legenda Pendekar Pedang Naga
BAB 40. Kakek Tua Misterius ll


__ADS_3

"Yu'er! Kenapa kamu keluar...." Kakek tua itu berteriak pada gadis kecil yang baru saja keluar dari persembunyiannya dengan wajah memucat.


Karena apa yang dia takutkan sungguh terjadi, tadi sebelum orang orang melihat dia meminta cucunya untuk bersembunyi. Serta memintanya apapun yang terjadi jangan pernah keluar dari persembunyiannya.


Jika sampai itu terjadi maka akan sia sia sudah perjuangannya selama ini. Apabila cucunya sampai tertangkap oleh pria paruh baya yang ada dihadapannya maka semua akan berakhir serta musnah.


"Karena mereka semua ingin membunuh kakek. Yu'er tidak mau kehilangan Kakek." Jawab gadis kecil itu tidak kalah lantang meskipun tubuhnya terlihat bergetar karena ketakutan, semua itu bisa dilihat dari bahunya yang terlihat naik turun.


Kemunculan gadis kecil dari balik semak semak pohon membuat konsentrasi sang kakek tua pecah, sehingga menimbulkan celah dan itu tidak di sia siakan oleh lawan.


Dengan gerakan cepat salah satu dari mereka langsung mendarat pukulan tepat mengenai di dada sang kakek tua. Sehingga membuatnya tubuh kakek tua terpental mundur beberapa langkah kebelakang sampai menghantam sebatang pohon baru bisa berhenti.


Rasa nyeri langsung menyerang bagian tubuhnya yang terluka, pukulan itu tepat mengenai dada dengan telak. Kakek tua itu langsung memuntahkan seteguk darah dari mulut.


Gadis kecil itu ingin cepat menghampiri kakeknya yang sedang terluka dengan cara berlari. Tetapi baru saja dia berlari beberapa langkah saja, kini dia sudah dihadang oleh beberapa orang yang tadi mengepung kakeknya. Maka dengan cepat gadis kecil itu langsung menghentikan langkah kakinya dan dia nampak ketakutan sekali.


"Bangsat!!! Jangan kau sentuh cucuku!!! Urusanmu denganku...."


Belum selesai dia berkata kakek tua itu sudah memuntahkan kembali darah dari mulutnya. Kelihatannya kakek tua itu mengalami luka dalam yang cukup serius.


"Huk.... Huk...." Kakek tua batuk karena tersedak darahnya sendiri.


Seolah olah tidak mendengar kata kata dari kakek tua itu, pria paruh baya tetap saja melangkahkan kakinya kearah gadis kecil yang ada di hadapannya dengan wajah garang.


Gadis kecil itu terus saja memundurkan langkah kakinya kebelakang, sampai dia membentur sebatang pohon yang ada di belakangnya. Kini gadis kecil itu sudah tidak dapat bergerak lagi, sementara lelaki paruh baya itu semakin mendekat lalu dia mengeluarkan seringaiannya.

__ADS_1


"Tolong jangan mendekat tuan...." Air mata gadis kecil sudah membanjiri wajah imutnya terlihat memucat karena rasa takut yang dia alami.


Yong yang melihat semuanya dari kejauhan tampak mengepalkan tangannya karena merasa sangat geram. Sementara itu Changyi Yuwen hanya terdiam namun tatapan matanya nampak dingin sekali.


"Ha... Ha... Gadis kecil!!! Berikan kalung dan liontin itu padaku sekarang jika kamu tidak ingin terluka!" Sambil mengulurkan tangannya.


Kini tangan lelaki paruh baya sudah tinggal satu jengkal saja sampai leher gadis kecil itu. Namun secara tiba tiba muncul sebuah segel mengurung gadis kecil didalamnya.


Pria paruh baya itu nampak kebingungan dengan situasi yang ada di hadapannya saat ini. Dia berusaha sebisa mungkin untuk menggapai tubuh gadis kecil namun tidak bisa. Dalam hati dia berkata "Siapa yang berani beraninya ikut campur masalahnya?"


Belum hilang rasa terkejut dengan munculnya segel yang telah mengurung gadis kecil dihadapannya. Kini sudah muncul seorang pemuda gagah dan tampan namun memiliki sorot mata tajam seperti hewan buas yang siap menguliti mangsa.


"Si... siapa kau!!!" Hardik pria tua paruh baya terbata bata dari rasa terkejutnya.


"Jangan ikut campur. Cepat tinggalkan tempat ini. Sebelum aku buat perhitungan dengan mu." Ucapnya pada pemuda yang ada di hadapannya.


Dia tidak bodoh, jika pemuda itu bisa muncul secara tiba-tiba serta dia tidak bisa merasakan hawa keberadaannya sebelumnya. Pastilah pemuda ini mempunyai kemampuan beladiri yang cukup tinggi sehingga dia berusaha sebisa mungkin untuk menghindari selisih paham dengan pemuda itu.


"Sebenarnya aku tidak suka ikut campur urusan orang lain. Namun tindakanmu sebelumnya membuat aku merasa terganggu." Jawab pemuda itu santai seperti tidak ada rasa takut sama sekali.


Merasa tidak ada jalan lain, maka pria paruh baya itu menyerang pemuda terlebih dahulu. Karena dalam setiap pertarungan siapa yang menyerang terlebih dahulu dia akan mempunyai peluang kemenangan lebih tinggi.


Dengan gerakan cepat serta jurus andalan yang dimilikinya pria paruh baya itu sebisa mungkin menyerang titik vital tubuh lawan. Tetapi pemuda itu pun tidak kalah gesit, dia bisa menghindari semua serangan lawan bahkan terkadang dia menyerang balik kearah lawan.


Lima belas menit telah berlalu dan puluhan jurus telah dimainkan. Namun masih belum ada yang kalah, meskipun pertarungan bisa di katakan tidak seimbang sebab sang pemuda lebih mendominasi pertarungan itu.

__ADS_1


"Kenapa kalian diam saja!!! Cepat bantu menghabis orang ini." Perintah pria paruh baya pada anak buahnya.


Setelah dia merasa tidak mungkin menang jika hanya mengandalkan kekuatan diri sendiri. Maka dia ingin menekan lawannya mengunakan jumlah yang menurutnya lebih efektif.


"Baik ketua." Jawab serentak anak buahnya dan langsung menyerang pemuda gagah itu dengan kekuatan penuh yang mereka miliki.


Pemuda yang mendapat serangan serentak dari berbagai sisi dari anak buah pria paruh baya langsung mengambil kuda kuda. Pertarungan yang awalnya didominasi oleh sekelompok orang itu kini perlahan lahan mulai berbalik.


Pemuda itu sudah banyak sekali memberikan luka tebasan mau pun luka cakaran, bahkan beberapa orang dari mereka sudah tumbang ketanah tanpa nyawa.


Melihat anak buahnya sudah banyak yang mati karena keganasan sang pemuda. Membuat pria paruh baya semakin marah dan tidak memikirkan lagi hati hati atau pun waspada, yang ada di hatinya sekarang hanya membunuh pemuda di hadapannya.


Kini hatinya serasa tercabik cabik dan darahnya serasa mendidih melihat anak buahnya sudah dibantai semua tepat di depan matanya sendiri.


"Biadab!!! Kau harus mati sekarang!" Teriak pria paruh baya sambil mengayunkan pedang menyerang pemuda dihadapannya.


Pemuda itu hanya tersenyum sinis ketika menangapi ucapan pria paruh baya itu. Dengan kaki sebelah kanan yang telah dialiri cukup tenaga dalam pemuda itu menerima serangan itu serta memberikan serangan balik dengan tendangan beruntun.


Karena tidak menduga akan mendapatkan serangan balik yang demikian cepat, membuatnya tak sempat menghindar lebih jauh. Yang pada akhirnya serangan itu mendarat sempurna ditubuh, membuatnya terhuyung-huyung sampai jatuh berlutut sambil memuntahkan seteguk darah dari mulutnya.


Belum sempat pria paruh baya itu bergerak terlalu jauh, pemuda itu sudah melepaskan energi petir membelah tubuh pria paruh baya menjadi dua bagian membuatnya langsung tewas seketika.


"Kamu terlalu berlebihan! Hingga nampak mengerikan seperti ini." Gerutu seorang pemuda lagi pelan namun terdengar jelas sekali ditelinga pemuda yang di tegur. Pemuda yang ditegur cuma bisa tersenyum canggung, dan tentunya pemuda itu adalah Yong.


"Maaf tuan muda. Saya hanya terbawa suasana." Gumamnya lirih.

__ADS_1


__ADS_2