Legenda Pendekar Pedang Naga

Legenda Pendekar Pedang Naga
BAB. 56 Changyi Sia vs Yong ll.


__ADS_3

"Jurus ketiga pemetik bintang." Gumam Changyi Sia, dengan gerakan lincahnya dia mengayunkan pedang awan ke arah titik vital lawannya.


Karena jurus ketiga dari pedang penghancur adalah jurus pemetik bintang yaitu serangan yang sangat mematikan serta tajam. Serangan ini menitik beratkan pada titik vital lawan seperti jantung atau orang dalam lainnya.


Jurus ketiga pemetik bintang dari ilmu pedang penghancur ini adalah ilmu terkuat yang dimiliki oleh Changyi Sia. Dia memang sengaja menggunakan kemampuan terbaik yang dia miliki.


Karena jika dia menggunakan ilmu yang lebih lemah dari ini untuk menyerang Yong hanya akan sia sia serta membuang tenaga saja. Karena dia tau Yong memiliki kemampuan beladiri yang sangat tinggi.


Setelah melihat sendiri pertarungan demi pertarungan yang telah Yong lalui selama turnamen pendekar muda kali ini. Menurut pengamatannya Yong menyembunyikan kemampuan yang sebenarnya selama ini.


Oleh karena itu Changyi Sia langsung saja menggunakan kemampuan tertingginya. Jika dengan teknik tertingginya saja masih tidak bisa mendesak Yong, maka dia lebih baik mengakui kekalahannya saja.


Karena seandainya pertandingan diteruskan pun hanya akan berakhir sia-sia belaka. Sudah dapat dipastikan dia akan mengalami kekalahan bahkan beresiko besar terluka parah karenanya.


Yong yang mendapat serangan terkuat milik Changyi Sia maka dengan cepat membuat lapisan pelindung energi yang terbuat dari tenaga dalam.


Dia sangat tau betul seberapa hebatnya jurus ketiga ilmu pemetik bintang ini. Karena dia dulu sering berlatih dengan Changyi Yuwen selama di hutan kematian menggunakan jurus ini.

__ADS_1


Meskipun Changyi Sia tidak dapat menggunakan ilmu pedang penghancur secara sempurna seperti Changyi Yuwen. Namun dia juga tidak ingin meremehkan jurus pemetik bintang milik Changyi Sia seandainya dia lengah sedikit saja maka bisa berakibat fatal untuk dirinya sendiri.


Yong sudah bersiap menerima serangan Changyi Sia dengan cakar halilintar miliknya. Kini Yong mulai mengalirkan tenaga dalam jumlah besar dan menitik beratkan pada kuku kukunya yang berbentuk cakar runcing serta tajam. Ketajaman cakar halilintar milik Yong tidak dapat diragukan lagi, terlebih lagi jika sudah dialiri oleh tenaga dalam.


Sekuat serta setebal apa pun itu akan dengan mudah tercabik-cabik bahkan terpotong menjadi potongan kecil kecil.


Meskipun dia telah mengalirkan tenaga dalam besar ke cakarnya, namun sebisa mungkin untuk tidak ingin menyakiti gadis cantik itu apa lagi sampai melukainya.


Jika sampai itu terjadi, maka dia pasti akan berurusan dengan tuan mudanya. Meskipun tuan mudanya terlihat sangat dingin dan cuek namun jika sudah menyangkut orang terdekatnya maka dia akan berubah menjadi kejam tanpa perasaan. Itulah kenapa dia sangat patuh dan sangat menghormati tuan mudanya itu.


"Jeddaaaar...."


"Jeddaaaar...."


"Jeddaaaar...."


Semua orang tidak ada yang menyangka jika akan terjadi suara ledakan seperti itu. Padahal dari pengamatan mereka seharusnya tidak akan sampai menimbulkan suara ledakan. Tidak semua orang dapat mengetahui kalau saat itu Yong menggunakan lapisan pelindung energi dari tenaga dalam.

__ADS_1


Keterkejutan itu tidak hanya di rasakan oleh para penonton saja, Changyi Sia sendiri sampai tidak bisa mengendalikan dirinya sendiri. Jantungnya berdetak lebih kencang dari biasanya, tangannya dan tubuhnya tidak bisa berhenti bergetar.


Saat melihat Yong sungguh masih baik baik saja di hadapannya, meskipun sudah mendapatkan serangan pamungkas miliknya. Yong berdiri dengan gagahnya tanpa mengalami luka sedikitpun justru kini terlihat senyuman tipis menghiasi wajahnya.


Changyi Sia baru tersadar dari lamunannya ketika tetua Li Jian menepuk pundaknya. Kemudian berkata sesuatu di dekat telinga Changyi Sia.


"Bagaimana apa kamu sudah puas memandangi wajah tampan pemuda itu?" Tanya tetua Li Jian lirih, ketika tetua Li Jian selesai berkata demikian. Wajah Changyi Sia langsung berubah seketika pipinya merah seperti tomat karena sangat malu.


"A... Aku... Aku... Ahk...." Jawab Changyi Sia terbata bata.


"Bagaimana apa masih ingin melanjutkan pertandingan ini?" Tetua Li Jian bertanya pada Yong.


Yong hanya terdiam ketika mendapat pertanyaan dari tetua Li Jian, kini pandangan matanya justru teralihkan pada Changyi Sia. Sementara Changyi Sia yang ditatap oleh Yong justru lebih gugup lagi dan semakin salah tingkah.


"Bagaimana menurutmu apakah masih tetap ingin melanjutkan pertandingan ini?" Tetua Li Jian kali ini bertanya pada Changyi Sia.


"Tidak! Aku menyerah. Aku mengaku kalah pada saudara Yong." Dengan cepat Changyi Sia menjawab pertanyaan tetua Li Jian.

__ADS_1


Yong yang masih berdiri tidak jauh dari Changyi Sia dan tertua Li Jian hanya terdiam namun pandangannya masih tertuju pada mereka.


Wasit tetua Li Jian mengumumkan bahwa pertandingan kali ini dimenangkan oleh Yong dari kota Huang An. Sorak sorai dari para penonton bergemuruh memecah keheningan yang baru saja terjadi akibat suara benturan pedang awan dengan lapisan pelindung energi.


__ADS_2