Legenda Pendekar Pedang Naga

Legenda Pendekar Pedang Naga
BAB. 54 Membuka identitasnya pada Changyi Sia.


__ADS_3

Yong yang mendengar pertanyaan dari Changyi Sia terdiam sejenak lalu menoleh ke arah Changyi Yuwen yang duduk di sebelahnya.


"Nona Changyi Sia. Bukan saya tidak ingin menjawab pertanyaan anda. Tapi sungguh saya tidak punya kemampuan untuk itu."


"Silahkan anda bertanya langsung pada tuan muda Fang Yuwen. Karena yang menggunakan ilmu segel tadi adalah dia." Yong yang tidak mau terlalu ikut campur permasalahan tuan mudanya.


Jadi dia berpikir untuk menyerahkan segala keputusan ditangan tuan mudanya sendiri, mau membuka jati dirinya atau tetap menutupinya. Yong akan menghormati apapun itu keputusan tuan mudanya, karena di percaya tuannya tidak akan bertindak tanpa perhitungan.


"Tuan muda Fang Yuwen. Bolehkah saya mengetahui jawaban atas pertanyaan saya tadi...." Kali ini pandangan mata Changyi Sia teralihkan pada Changyi Yuwen.


Dalam sorotan mata gadis itu terlihat jelas ada sebuah harapan. Ya harapan atas semua pertanyaan yang memenuhi pikirannya bisa segera terjawab.


Dia ingin tahu siapa sebenarnya Fang Yuwen? Kenapa dia bisa mempelajari ilmu segel milik sektenya? Apakah Fang Yuwen memiliki hubungan dengan sektenya?


Changyi Yuwen seperti bisa mengetahui apa yang sedang dipikirkan oleh sepupunya tentang dirinya saat ini.


"Sebelum aku menjawab pertanyaan darimu. Tapi bisakah kamu berjanji satu hal padaku?" Changyi Yuwen bertanya pada Changyi Sia sambil mendesah. Seolah olah dia sedang mencari ketenangan dan mencari kekuatan sebelum dia mengungkap semuanya.


Sebenarnya dia tidak ingin membuka jati dirinya secepat ini pada keluarganya terutama pada saudara sepupunya. Tetapi dia juga tidak ingin terus terjebak dalam sandiwara yang akan mempersulitnya dimasa depan.


Maka saat ini dia akan mengambil keputusan yaitu akan membuka jati dirinya pada Changyi Sia. Asal gadis ini mau berjanji bahwa dia tidak akan membocorkan jati dirinya untuk saat ini. Karena masih banyak hal yang harus dia urus sendiri dan tidak ingin melibatkan orang orang terdekatnya.


"Saya harus berjanji apa?"


"Bisakah kamu menyimpan rahasia ini. Cukup dirimu saja yang tahu dan tidak boleh membocorkan rahasia ini pada orang lain termasuk orang terdekatmu sekali pun...."


"Baik. Saya akan menjaga rahasia itu dengan segenap jiwa ragaku."


"Bagus! Aku percaya padamu."


Setelah berkata demikian Changyi Yuwen mengeluarkan sebuah buku kitab ilmu segel transparan. Yang diberikan oleh ayahnya dahulu ketika sebelum beliau meninggal dari gelang mustika dewa.


Changyi Sia yang melihat aksi pemuda di hadapannya memunculkan sebuah buku kitab sungguh membuatnya sangat terkejut. Karena ini pertama kalinya dia melihat ada seseorang memunculkan sesuatu dari dalam ruang hampa.

__ADS_1


Matanya terbelalak, dia merasa saat ini sedang bermimpi, namun kejadian ini terlalu nyata jika disebut mimpi. Beberapa saat kemudian barulah dia tersadar dari lamunannya lau tersenyum sedikit canggung.


"Maaf... Saya hanya terkejut saja...."


Changyi Yuwen langsung memotong perkataan Changyi Sia karena tidak ingin sepupunya lebih canggung lagi apalagi sampai salah tingkah di depannya. Jadi dia berusaha untuk mengubah topik yang lain.


"Sudah tidak usah terlalu dipikirkan. Apakah kamu mengenal buku ini?" Changyi Yuwen menyerahkan buku kitab segel pada sepupunya itu.


"Ini!!!" Matanya langsung terkesiap menatap buku yang ada di tangannya saat ini.


"Apa kamu mengenalinya?" Changyi Sia hanya mengangguk saja ketika mendapat pertanyaan dari Changyi Yuwen. Namun matanya tidak berpindah dari buku yang ada di tangannya.


"Apakah yang kamu tahu tentang buku itu?"


"Iya aku tahu. Menurut cerita dari ayah. Buku ini dibuat berpasangan oleh kakek. Dan kedua buku itu diberikan pada kedua putranya yaitu ayahku dan adik ayah. Namun paman Changyi Jun sudah meninggal dunia beberapa tahun yang lalu lalu putranya Changyi Yuwen...." Changyi Sia langsung menutup mulutnya sendiri ketika dia baru saja menyadari sesuatu dalam pikirannya.


"Kamu benar. Namaku yang sebenarnya adalah Changyi Yuwen, Nama Fang Yuwen itu hanya nama samaran saja. Karena aku ingin menutupi identitasku untuk sementara waktu." Changyi Yuwen menjelaskan tentang dirinya seperti biasa membaca isi pikiran sepupunya itu.


"Jadi...." Gadis itu tidak bisa melanjutkan kata-katanya karena terlalu terkejut dengan kenyataan yang harus dia terima secara tiba-tiba seperti itu.


"Apakah kamu menguasai ilmu membaca pikiran?"


"Tidak. Lalu kenapa kamu bisa tau apa yang sedang aku pikirkan!"


"Karena semuanya terlihat jelas dari wajahmu."


"Benarkah! Apakah wajahku terlihat seperti itu?" Changyi Sia masih sangat penasaran kenapa pemuda yang baru saja mengaku sebagai saudara sepupunya. Bisa membaca pikirannya dengan tepat.


"Iya."


Sebenarnya Changyi Yuwen tidak bisa membaca pikiran Changyi Sia apa lagi memiliki ilmu membaca pikiran. Changyi Yuwen hanya menebaknya saja dan kebetulan saja semua tebakannya benar.


"Aku harus memanggilmu apa? Yuwen Yuwen atau Yuwen'er?"

__ADS_1


"Jangan! Kamu tidak boleh memanggil aku seperti itu."


"Kenapa tidak boleh? Usiaku kan lebih besar dari pada kamu!" Changyi Sia merasa heran, kenapa dia tidak boleh memanggil saudara sepupunya dengan nama seperti itu.


"Bukannya begitu. Masalahnya jika kamu memanggil ku seperti yang kamu sebutkan tadi, maka orang orang akan banyak yang curiga. Mereka akan berfikir kalau kita ini memiliki hubungan khusus. Apa kamu mengerti?"


"Tapi kita memang memiliki hubungan khusus sebagai saudara sepupu. Lalu apa masalahnya?" Changyi Sia masih sedikit bingung dengan perkataan saudaranya itu.


"Saudara Sia. Apakah kamu sudah lupa dengan janjimu barusan?" Changyi Yuwen menekan intonasi suaranya karena merasa geram dengan saudara sepupunya yang tidak paham paham dengan penjelasannya.


"Tidak. Aku masih mengingat janjiku" Changyi Sia menjawab pertanyaan Changyi Yuwen dengan wajah polosnya. Sementara Yong yang melihat perdebatan itu hanya tersenyum tipis melihat wajah tuan mudanya yang mulai berubah karena menahan emosi.


"Saudara Sia dengarkan aku baik baik. Aku ingin kamu bersikap biasa saja seperti dulu. Seolah olah kita tidak saling mengenal dan tidak terikat hubungan saudara. Ini semua demi kebaikan kalian semua karena aku masih harus berurusan dengan Sekte kalajengking hitam. Jadi aku tidak ingin kalian semua dalam bahaya jika aku menghancurkan mereka. Kamu pasti sudah tau alasannya kenapa banyak sekali orang orang aliran hitam memburu...."


"Iya aku mengerti. Jadi bagaimana aku harus memanggilmu? Apakah aku harus memanggilmu saudara Yuwen?"


"Benar. Kamu panggil aku seperti itu saja. Saudara Yuwen."


"Baiklah. Saudara Yuwen aku mengerti."


"Bagus. Ingatlah janjimu jangan sampai rahasia ini bocor, jika sampai itu terjadi maka keselamatan kalian semua taruhannya."


"Aku mengerti saudara Yuwen."


"Sekarang kembalilah kekediaman mu. Jika sudah tidak ada lagi pertanyaan yang ingin kamu tanyakan. Karena waktu sudah semakin malam. Takutnya orang orang akan mencari kamu karena tidak ada ditempat."


"Baiklah kalau begitu. Sampai ketemu besok di pertandingan selanjutnya saudara Yuwen."


Di rasa sudah tidak ada lagi pertanyaan yang ingin dia tanyakan, maka dia setuju dengan usulan Changyi Yuwen untuk segera pulang kekediamannya.


Setelah mengantarkan kepergian Changyi Sia meninggalkan kediaman mereka. Yong dan Changyi Yuwen kembali kedalam namun mereka kini duduk di taman sambil menikmati sinar rembulan malam.


"Tuan muda. Anda yakin dengan keputusan tuan. Dengan membuka identitas anda pada Nona Changyi Sia."

__ADS_1


"Apakah aku masih punya pilihan lain. Semakin aku tutupi maka dia akan semakin penasaran. Toh cepat atau lambat dia juga akan tau pada akhirnya. Menurutku tidak ada salahnya memberi tahu padanya lebih awal."


Jawab Changyi Yuwen sambil mendesah panjang sambil memikirkan langkah apa yang selanjutnya dia ambil.


__ADS_2