
Acara turnamen pendekar muda akhirnya di mulai setelah semu peserta hadir. Peserta yang hadir sangat banyak mencapai lima ratus orang. Para peserta yang mengikuti turnamen pendekar muda terlihat sangat berbakat semua, dapat di lihat dari aura mereka serta tingkatan kultivasinya yang cukup tinggi untuk pemuda seumurannya.
"Hari ini di sekte bunga persik akan menjadi saksi. Munculnya kembali pendekar muda berbakat yang akan membawa kedamaian serta pilar untuk aliran putih dimasa depan. Aku sebagai kepala sekte bunga persik dengan ini menyatakan TURNAMEN PENDEKAR MUDA di mulai." Patrick Zhang Zhuran terdengar lantang.
Meskipun tanpa mengunakan alat pengeras suara, namun suara Patrick Zhang Zhuran mampu terdengar hingga puluhan meter. Karena dia mengunakan tenaga dalam, jadi itu menunjukkan betapa tingginya tenaga dalam yang dia miliki serta pengontrolan sangat baik.
"Adapun aturan dari turnamen pendekar muda akan dijelaskan lebih lanjut oleh tetua Li Jian selaku wasit dalam pertandingan turnamen pendekar muda kali ini. Untuk waktu dan tempat kami persilahkan pada tertua Li Jian." Setelah berkata demikian Patrick Zhang Zhuran meninggalkan podium arena pertandingan menuju tempat duduk yang sudah dipersiapkan untuk para tetua.
Tidak lama setelah Patrick Zhang Zhuran turun dari podium kini tetua Li Jian memasuki podium. Dia nampak sangat berwibawa tidak berbeda dengan Patrick Zhang Zhuran, tetua Li Jian juga mengunakan tenaga dalam untuk mengeraskan suaranya.
"Perkenalkan namaku Li Jian. Dalam turnamen pendekar muda ini aku yang akan menjadi wasit untuk kalian semua. Dalam turnamen ini memiliki peraturan yang harus kalian ingat dengan baik jika kalian melanggar peraturan ini maka kalian akan langsung di diskualifikasi." Tetua Li Jian berhenti sejenak untuk menjeda kata katanya.
"Adapun peraturannya adalah sebagai berikut :
Tidak boleh saling membunuh lawan apapun itu alasannya.
Tidak boleh menggunakan racun.
Tidak boleh mengunakan senjata rahasia.
Peserta akan dinyatakan kalah apa bila keluar dari arena pertandingan.
Peserta akan dinyatakan kalah apabila terjatuh dan tidak mampu lagi melawan.
__ADS_1
Bagaimana apakah kalian semua sudah paham? Atau mungkin ada sesuatu yang ingin kalian tanyakan. Sebelum acara ini kita mulai...." Tetua Li Jian terdiam sementara waktu dan memperhatikan semua peserta turnamen siapa tahu ada peserta yang ingin bertanya namun tidak ada satu pun yang mengeluarkan suara.
"Baiklah. Karena sudah tidak ada yang perlu ditanyakan lagi. Mari kita mulai acara turnamen ini mengingat waktu juga sudah semakin siang."
Setelah tetua Li Jian berkata demikian terdengar suara menggelegar diikuti oleh percik api di langit, meskipun hari masih siang namun kembang api itu nampak indah. Kembang api yang dinyalakan keatas langit sebagai tanda bahwa turnamen pendekar muda di mulai.
Satu persatu peserta dipanggil ke podium sesuai dengan nomor urutnya, untuk mencari pemenang dalam babak penyisihan kali ini. Dalam babak penyisihan ini akan mengambil peserta yang menang dan akan memilihnya lagi sampai 100 peserta saja untuk bisa masuk babak utama.
Dalam babak utama ke satu ini setiap peserta akan bertarung dengan satu lawan. Bagi siapa saja yang memenangkan pertandingan maka akan punya kesempatan untuk maju ke babak selanjutnya. Yaitu itu babak utama ke dua mencari 20 peserta yang akan maju ke babak selanjutnya yaitu semi final.
Dalam babak semifinal ini masih akan dipilih lagi untuk biasa maju ke final. Untuk merebut kan juara pertama, Lima orang yang terpilih akan bertanding dengan semua peserta untuk memperebutkan peringkat satu, dua, tiga, empat dan lima.
Hari sudah senja ketika babak penyisihan berakhir. Dalam babak penyisihan pertama ini menyisakan 250 peserta, besok masih akan ada babak penyisihan kedua yaitu mencari 100 peserta yang akan masuki babak utama.
Banyak peserta yang pulang kembali ke kediaman mereka dengan wajah lesu tak bersemangat karena telah gugur di babak penyisihan ini. Namun berbeda halnya bagi mereka yang menang, mereka kembali kekediamannya dengan senyum merekah serta ada harapan untuk hari esok lebih baik lagi.
Begitulah pertandingan bagi yang menang akan sangat bahagia tapi bagi yang kalah akan merasa sedih. Menang kalah sudah menjadi hal biasa dalam sebuah perlombaan yang terpenting adalah kekalahan bukan akhir dari segalanya.
Dari kekalahan kita belajar kata sabar dan memotivasi kita untuk lebih baik kedepannya, anggap saja sebagai cambuk yang melecut semangat berjuang untuk berpacu lebih baik.
Dihari kedua pertandingan turnamen berjalan dengan lancar tidak ada kendala yang berarti. Tidak terasa hari hari berlalu dengan cepat dan kini sudah memasuki babak semifinal yang hanya menyisakan 20 orang peserta saja.
Peserta yang masuk dalam babak penyisihan kali ini sangat istimewa karena mereka semua memiliki bakat beladiri yang hebat. Paserta dalam babak semifinal ini ada banyak misalnya Changyi Yuwen, Yong, Changyi Sia, Tang Liu, Kang Lian, Cong Lin, Ye Qianyu, Xing Lan, Mo Shao, Cu Fei, dan masih banyak lagi yang lainnya.
__ADS_1
"Untuk peserta yang maju dibabak pertama Yong perwakilan dari kota Huang An melawan Cong Lin perwakilan dari sekte menara salju. Bagi peserta yang namanya dipanggil silahkan naik keatas podium." Suara pembawa acara turnamen pendekar muda yang berasal dari Sekte Bunga Persik.
Dengan langkah pasti dan rasa kepercayaan diri tinggi pemuda yang bernama Cong Lin maju keatas arena. Tidak lama kemudian di susul oleh Yong seperti biasa wajah datar tanpa ekspresi.
"Cong Lin dari sekte menara salju." Memperkenalkan dirinya sambil membungkukkan badannya.
"Yong dari kota Huang An." Begitu juga dengan Yong memperkenalkan dirinya sendiri sambil membungkukkan badannya.
Ketika mereka sudah siap di atas arena wasit Li Jian mengumumkan bahwa pertandingan akan segera dimulai. Dengan tanda suara peluit panjang maka pertandingan resmi di mulai.
Tanpa menunggu lebih lama Cong Lin langsung menarik pedangnya yang masih tersarung di pinggang. Lain dengan Yong yang lebih suka bertarung tangan kosong, namun jika dalam keadaan terdesak maka dia akan mengubah jari kukunya menjadi seperti pedang yang ketajamannya tidak kalah dengan pedang pusaka.
Cong Lin bergerak maju memberikan tebasan pada tubuh Yong. Namun Yong dengan gesit menghindari tebasan itu dengan mudah. Dengan gerakan memutar Yong mendaratkan sebuah tendangan mengenai punggung lawan.
Cong Lin yang masih belum siap dari posisinya langsung terkejut dan berusaha untuk menghindari namun sayangnya tendangan Yong jauh lebih cepat hingga punggungnya terhantam oleh kaki Yong.
Meskipun sakit Cong Lin berusaha untuk menahannya, maka dengan cepat Cong Lin bersiap dan lebih waspada. Yong yang baru saja berhasil memberikan tendangan tetap tidak menunjukkan ekspresi apapun.
Kali ini Yong maju lebih dulu dengan mengunakan tehnik cakar pedangnya Cong Lin menyambut serangan itu dengan konsentrasi penuh karena dia tidak ingin gegabah seperti tadi yang sempat meremehkan lawannya.
Jurus demi jurus sudah mereka mainkan dengan baik namun belum ada yang kalah.
Cong Lin mulai meningkatkan retme permainan Yong pun mengikuti apa yang dilakukan oleh Cong Lin.
Sebenarnya kalau serius Yong tidak perlu waktu lama untuk mengalahkannya. Yong sengaja ingin mempermainkan serta memberikan pelajaran berharga pada Cong Lin. Pemuda yang terlihat baik namun sebenarnya sombong karena merasa dirinya hebat dengan pencapaian saat ini.
__ADS_1