
"Pada hari ini akan menjadi saksi dan tercatat dalam sejarah dunia persilatan. Sebagai hari lahirnya pendekar muda di generasi ini yang akan menjadi pilar dunia persilatan di masa depan."
"Adapun 6 orang peserta yang akan bertanding dalam babak final kali ini. Untuk babak pertama Yong perwakilan dari kota Huang An melawan Changyi Sia dari sekte bintang timur."
"Untuk babak kedua Kang Lian dari sekte menara salju melawan Ye Qianyu dari sekte bukit bintang dan untuk babak ketiga Fang Yuwen perwakilan dari kota Huang An melawan Mo Shao dari sekte srigala emas."
"Bagi keenam peserta yang menang dalam pertandingan kali ini akan maju lagi dalam pertandingan berikutnya untuk memperebutkan juara pertama, kedua dan ketiga. Oleh karena itu gunakan kesempatan ini sebaik mungkin, agar kemenangan kalian sebagai tiket masuk untuk bisa mengikuti babak selanjutnya."
"Dengan semua penjelasan yang telah aku sampaikan ini apakah masih ada yang kurang jelas? Apakah ada pertanyaan yang tidak kalian mengerti? Sebelum kita mulai acara selanjutnya jika ada masalah tolong untuk disampaikan...."
Tetua Li Jian menatap keenam peserta secara bergantian, siapa tau salah satu dari mereka ada yang ingin bertanya. Namun setelah di tunggu beberapa saat tidak ada tanda-tanda yang ingin bertanya, maka dia melanjutkan kata-katanya.
"Karena tidak ada pertanyaan dari kalian maka akan aku anggap kalian sudah mengerti. Mengingat waktu juga semakin siang jadi lebih baik kita mulai saja acaranya."
"Untuk peserta pertama Yong dan Changyi Sia silahkan naik ke atas arena."
Wasit pertandingan kali ini masih tetap tertua Li Jian mengingat reputasinya yang sangat baik dan adil tidak pernah mau memihak ke salah satu peserta di mana pun. Maka banyak yang menyukai tetua Li Jian sebagai wasit di berbagai perlombaan lainnya.
Beberapa menit kemudian naiklah seorang pemuda gagah berpenampilan sederhana namun memiliki daya tarik tersendiri dan sangat berkharisma.
Dengan sopan dia membungkukkan badan untuk memberikan penghormatan, kepada para tetua sekte dan ketua sekte serta semua orang yang hadir dalam pertandingan kali ini.
Tidak lama setelah itu disusul oleh seorang perempuan muda berparas cantik dan anggun. Dari gerakan dan tingkah lakunya menunjukkan kalau gadis itu beretika dan terdidik dengan baik. Sama seperti dengan yang Yong lakukan gadis itu pun juga memberikan hormatnya kepada semua orang.
__ADS_1
"Yong dari kota Huang An. Senang bertemu dengan Anda nona Changyi Sia" Ucap Yong dengan sopan pada Changyi Sia.
"Changyi Sia dari sekte bintang timur. Senang bertemu dengan Anda saudara Yong." Jawab Changyi Sia atas sapaan Yong.
"Priiiiiiiiit...."
Suara peluit panjang dari wasit sudah di bunyikan. Itu artinya pertandingan babak pertama antara Yong dan Changyi Sia sudah di mulai.
"Maaf jika nanti saya tidak sengaja melukai nona. Karena saya akan menggunakan kemampuan terbaik saya." Yong berkata pelan pada Changyi Sia yang tidak jauh darinya.
"Anda tidak perlu sungkan saudara Yong. Karena aku pun juga akan menggunakan kemampuan terbaik yang aku miliki. Jadi mari kita lihat siapa di antara kita yang akan menjadi pemenang." Changyi Sia menjawab perkataan Yong dengan penuh percaya diri.
Meskipun malam sebelumnya mereka sempat bertemu dan bahkan berbincang bincang cukup lama. Namun keduanya menunjukkan sikap seolah olah mereka belum pernah bertemu secara langsung. Sungguh bagus sekali sandiwara yang mereka perankan, sampai tidak ada satu orang pun yang curiga atas sandiwara mereka.
Sebab jika seseorang yang mempunyai tenaga dalam jumlah besar, namun tidak bisa mengendalikan hanya akan menghancurkan pedang yang dimilikinya saja.
Begitu juga sebaliknya jika seseorang memiliki tenaga dalam berjumlah besar dan bisa mengendalikan dengan baik. Satu batang ranting kecil pun bisa dijadikan senjata tajam dan sangat mematikan.
Oleh karena itu kegunaan dari tenaga dalam sangat penting bagi seorang pendekar. Namun tenaga dalam juga bukanlah sebagai tolak ukur sebagai kemenangan seorang pendekar dalam setiap pertarungan.
Faktor kemenangan lainnya adalah tehnik atau ilmu beladiri yang wajib dimiliki oleh seorang pendekar. Itulah kenapa setiap sekte memiliki ilmu rahasia serta tehnik andalan sendiri sendiri.
Changyi Sia menyerang Yong dengan pedang awan miliknya. Seperti biasanya Yong tidak pernah menggunakan senjata dalam setiap pertarungannya. Karena Yong selaku menggunakan ilmu seni cakar miliknya yaitu cakar halilintar dan tendangan.
__ADS_1
Ketika pedang awan semakin mendekat ke arahnya Yong hanya menggunakan jari jari tangannya yang sudah dilapisi dengan energi dari tenaga dalam. Jadi tidak perlu diragukan lagi kekuatannya, yang tidak akan kalah tajam dengan pedang awan milik Changyi Sia.
" Traaang...." Suara benturan keras terjadi antara pedang awan dengan jari jari tangan Yong.
Serangan demi serangan terus dikerahkan oleh Changyi Sia, namun dari sekian banyak serangan itu belum ada satu pun bisa menembus pertahanan yang dimiliki oleh Yong.
Changyi Sia di buat semakin gusar dan penasaran setinggi apa sebenarnya kemampuan yang dimiliki oleh Yong ini. Ketika Changyi Sia tidak lagi menyerang kini giliran Yong yang memulai aksinya yaitu menyerang gadis itu.
Setiap serangan yang dilancarkan oleh Yong mengandung banyak tenaga dalam sehingga Changyi Sia mulai mulai kewalahan dan sedikit demi sedikit gadis itu mulai tertekan oleh serangan Yong yang terus-menerus seperti air mengalir tiada henti.
Disaat serangan terakhir yang Yong berikan Changyi Sia merasa ragu untuk menerimanya. Instingnya mengatakan itu bukan ide yang baik untuk menerimanya, maka dengan cepat dia melompat mudur beberapa langkah kebelakang untuk menghindarinya sehingga serangan itu tidak jadi mengenainya dengan telak.
Insting Changyi Sia memang tidak salah jika saja dia tidak menghindarinya. Maka dapat dipastikan di akan akan terluka parah bahkan bisa kalah dalam petarung ini.
Karena Yong memang sengaja menggunakan serangan di akhir sebagai serangan pamungkas karena biasanya lawan masih belum siap karena serangan serangan sebelumnya.
"Sungguh hampir saja aku celaka. Jika tadi aku salah mengambil keputusan." Batin Changyi Sia sambil menetralkan deru nafasnya yang masih memburu karena pertarungan sebelumnya yang menguras staminanya.
Sementara itu, disisi lain Yong nampak baik baik saja. Sama sekali tidak merasakan kelelahan sedikit pun, nafasnya tetap beraturan. Seolah olah dia seperti tidak pernah terlihat dapat pertarungan sama sekali.
Changyi Sia yang memperhatikan kondisi Yong yang masih baik baik saja dan ketika dia menyadari perbedaan antara dirinya dengan Yong sebegitu jauhnya dia hanya bisa tersenyum kecut.
"Bagaimana apakah pertandingan masih mau di lanjutkan?" Tanya tetua Li Jian pada mereka berdua. Karena cukup lama mereka hanya diam saja. Keduanya pun menganggukkan kepalanya serentak, sebagai jawaban bahwa pertandingan masih belum berakhir.
__ADS_1
Kali ini Changyi Sia mulai serius dengan menggunakan ilmu andalan yang dimiliki yaitu ilmu pedang penghancur. Dia sadar kali ini lawannya sangat tangguh dan menyimpan kekuatan sangat dalam. Jadi dia tidak boleh gegabah dalam bertindak dan harus lebih waspada.