
Patriak Changyi Jiao bersama dengan pangeran Tang Liu duduk dibawah gubuk yang ada ditepi danau.
Mereka duduk saling berhadapan dan dipisahkan meja yang terbuat dari batu. Di atas meja batu itu terdapat bidak bidak catur yang sudah tersusun acak.
Kini guru dan murid itu sedang bermain catur sambil berbincang bincang, hal seperti ini memang sering mereka lakukan saat sedang bertukar pikiran.
Patriak Changyi Jiao mengakui kecerdasan pangeran Liu dalam segala hal sangat luar biasa. Meskipun usianya terbilang masih muda tapi cara berpikirnya sangat bijak dan memiliki wawasannya sangat luas.
Pembawaannya juga tenang setiap kali menghadapi masalah, meskipun terkadang akan sangat jahil pada murid yang lain terlebih pada Changyi Sia.
"Sekarang katakan! Ada masalah apa?" Patriak Changyi Jiao membuka percakapan setelah cukup lama berdiam karena sibuk menyusun bidak caturnya.
"Sebelumnya saya mohon maaf pada guru. Mungkin akan terdengar tidak sopan."
"Coba sekarang kamu ceritakan. Biar aku bisa menilai perkataan mu itu sopan atau tidak?"
"Ehm... Aku harus mulai dari mana dulu guru?" Pangeran Liu terlihat canggung dan salah tingkah.
"Lha mana aku tau. Sebenarnya ada apa?" Patriak Changyi Jiao melihat gelagat aneh dari pangeran Tang Liu.
"Begini guru. Se... sebenarnya aku menyukai Changyi Sia guru." Meskipun dengan gugup serta sedikit terbata bata pangeran Liu akhirnya berhasil menyelesaikan ucapannya.
Masih dengan wajah memerah karena menahan rasa malunya yang telah mengungkap rasa suka pada putri gurunya. Patriak Changyi Jiao yang melihat perubahan rona wajah pangeran Tang Liu tertawa kecil.
"Kalau kamu menyukai Sia'er. Lalu kenapa kamu justru menyampaikannya padaku tidak pada Sia'er?" Patriak Changyi Jiao tidak mengerti jalan pikiran muridnya itu.
"Aku bermaksud meminta ijin terlebih dahulu pada guru. Apakah saya boleh memiliki hubungan dengan putri guru."
"Ha... Ha... Kamu ini aneh Liu'er. Biasanya orang akan menjalin hubungan dulu dengan anaknya, baru minta ijin orang tuanya. Tapi kamu? Aku justru suka dengan cara berpikir mu yang seperti ini." Patriak Changyi Jiao tertawa bahagia. Dia merasa salut dengan keberanian pangeran Tang Liu tunjukkan.
"Apakah itu artinya guru memberikan restu. Jika kami memiliki hubungan serius guru."
"Memangnya apa kamu sudah memiliki hubungan serius? Apakah kamu sudah menyatakan perasaanmu pada Sia'er?"
"Belum guru." Wajah pangeran Tang Liu terlihat polos.
__ADS_1
"Ha... Ha... Liu'er... Liu'er."
"Kenapa guru?" Masih dengan tampang polosnya.
"Apa kamu yakin Sia'er mau menerima cintamu?" Tanya Patriak Changyi Jiao penasaran.
"Aku tidak tau guru. Tapi aku akan terus berjuang untuk mendapatkan cinta dari Sia'er guru." Ucap pangeran Tang Liu dan penuh keyakinan bisa mendapatkan cinta gadis pujaannya.
"Baiklah. Aku akan merestui hubungan kalian jika Sia'er mau menerima cintamu. Tapi seandainya Sia'er tidak mau menerima cintamu. Jangan jadikan ini sebagai alasan pemecah hubungan persaudaraan kalian yang telah tercipta begitu lama. Apa kamu mau berjanji Liu'er?" Nasihat Patriak Changyi Jiao pada pangeran Tang Liu apapun yang terjadi hubungan persaudaraan mereka jangan sampai terpecah.
"Baik guru. Murid berjanji meskipun Sia'er menolak cintaku. Persaudaraan kami tidak akan pernah berubah."
"Bagus. Bagus aku suka pria sejati sepertimu ini. Semoga saja Sia'er mau menerima cintamu."
"Karena aku sebagai orang tua tidak ingin memaksakan kehendak pada putriku. Selama ini aku selalu memberikan kebebasan pada Sia'er selama masih di koridor yang benar. Aku hanya ingin melihat putriku bahagia dengan jalannya sendiri."
"Saya mengerti guru. Saya berjanji akan berusaha menjaga dan melindungi Sia'er dengan segala kemampuan saya. Akan saya pastikan dia selalu bahagia guru."
"Aku percaya padamu Liu'er."
Perbincangan antara guru dan murid pun terus berlanjut sampai tidak terasa sudah tiga kali permainan catur mereka lakukan.
Patriak Changyi Jiao meminta pangeran Tang Liu untuk pergi beristirahat lebih dulu. Karena dia baru saja tiba di sekte setelah menempuh perjalanan jauh.
Ketika dia sudah sendirian di sana, dia hanya menghela nafas dari waktu ke waktu. Berbagai kenangan muncul silih berganti, saat mereka masih hidup bersama dengan mendiang ayah dan adiknya.
Kini dia semua telah pergi meninggalkannya, dan dia pun harus memikul tanggung jawab sekte seorang diri.
Ditengah kegundahan hatinya muncul setitik cahaya harapan. Karena Changyi Yuwen sudah kembali, meskipun belum bisa menemuinya secara langsung karena ada alasan tertentu.
Perasaannya kembali bahagia ketika mengingat percakapannya dengan pangeran Tang Liu, yang meminta ijin serta restu padanya.
Dia bukanlah tipe orang tua yang kolot dengan aturan aturan. Dia sudah cukup bahagia, jika melihat putrinya bisa bahagia. Pemikiran yang sederhana tetapi memiliki makna yang mendalam.
#####
__ADS_1
"Putriku... Aku merindukan mu." Teriak nyonya Mei Yin histeris ketika melihat putrinya baru saja memasuki halaman rumahnya.
"Haiss... Ibu ini. Malu dilihat orang." Ucap Kang Lian pelan ketika sang ibu memeluk tubuhnya erat.
Dia merasa malu dengan reaksi ibunya yang menimbulkan perhatian banyak orang. Sementara itu patriak Kang Jian hanya geleng-geleng kepala melihat istrinya.
"Kenapa harus malu. Aku kan merindukan putriku sendiri. Apa tidak boleh?" Mei Yin melepaskan pelukannya berkata dengan wajah cemberut
"Boleh Bu. Aku juga sangat merindukan ibu. Tetapi tidak perlu berteriak seperti itu juga Bu." Dengan suara lembut ketika melihat ibunya nampak cemberut.
"Sudah... Sudah... Ayo kita masuk ke dalam. Ibumu tadi sudah menyiapkan makanan kesukaan mu Lian'er." Patriak Kang Jian mencoba menenangkan perdebatan antara istri dan putrinya.
Karena jika ini di biarkan saja maka tidak akan ada habisnya. Patriak Kang menggiring kedua wanita kesayangannya itu untuk memasuki kediamannya.
Kini mereka tengah menikmati waktu makan bersama. Patriak Kang Jian bertanya pada putrinya disela sela waktu makannya.
"Ceritakan pada ayah apa saja pengalaman mu selama mengikuti turnamen pendekar muda di sekte bunga persik."
"Pengalaman dan pelajaran yang aku dapat ketika mengikuti turnamen pendekar muda sangat banyak dan itu membuatku terkesan."
Kang Lian pun menceritakan dimana dirinya membantu seseorang yang juga mengikuti turnamen sedang dirampok.
Dia menceritakan kisah kisahnya tentang pertandingan ketika menghadapi lawannya.
Dia juga menceritakan tentang Fang Yuwen yang bisa dengan mudah menghadapi ilmu terkuat miliknya serta bagaimana dia di kalahkan.
"Fang Yuwen??? Kenapa nama ini terdengar tidak asing ya." Gumam Patriak Kang Jian pelan, dan berusaha untuk mengingat nama yang menurut sangat familiar di telinganya.
"Nama putra Changyi Jun kan juga Yuwen'er. Kalau tidak salah namanya Changyi Yuwen. Tapi ini Fang Yuwen?" Masih berusia memecah teka-teki dalam pikirannya sendiri.
"Tunggu dulu!! Istri Changyi Jun kan Fang Yin. Apa putra Changyi Jun mengubah marga ayahnya dan sekarang mengikuti marga ibunya. Jika dia memakai marga ayahnya pasti banyak yang mengenal identitasnya. Dan kembali menjadi incaran orang aliran hitam." Gumamnya dalam hati.
"Masuk akal!!!" Ucapnya cukup keras.
"Apanya yang masuk akal yah." Tanya Kang Lian pada ayahnya yang tiba-tiba teriak seperti itu.
__ADS_1