
Yu Ming terus menemani dari belakang, mengawasi Ping Ru Meng dan Nacha, yang terlihat antusias dan penasaran dengan berbagai barang dagangan yang di jual di sepanjang jalan.
Tiba-tiba dari arah depan terjadi keributan.
Terlihat seorang pria setengah tua sedang berlutut, menahan kaki seorang pemuda bertubuh gempal.
Berwajah putih dengan sepasang mata sipit.
"Tuan muda Wei, ampun tuan muda..!"
"Tolong jangan di bawa anak gadis ku,..!"
"Aku mohon tuan muda Wei, dia masih terlalu muda untuk itu..!"
"Tolong kasihani kami..!"
"Ibunya baru meninggal,.. tolong tuan muda Wei, berbaik hatilah, lepaskan putri ku.."
"Aku janji,.. aku janji pasti akan segera lunasi hutang kami..!"
Ucap seorang pria bertubuh kurus kerempeng, dengan pakaian kasar dan ada beberapa bagian yang sudah di tambal tambal.
Bila di lihat dari bentuk wajah dan penampilan nya, pria itu terlihat seperti seorang kakek berusia hampir 70 tahun.
Padahal aslinya kakek itu baru hampir mendekati umur 50 tahun saja.
Mungkin akibat kerja keras dan kemiskinan, hidup serba susah dengan berbagai kesulitan.
Sehingga dia jadi terlihat jauh lebih tua dari usia sebenarnya.
Kondisi kakek itu terlihat sangat menyedihkan dan patut di kasihani.
Tapi dengan tanpa belas kasihan, pemuda itu, Dengan sadis menendang dada kakek itu hingga terpelanting berguling guling diatas lantai yang keras.
"Dasar tua Bangka tidak tahu diri,! berani berhutang, ya harus berani terima resikonya, bila tidak bisa bayar..!"
"Putri mu sendiri yang datang mencari ku, menggadaikan diri, meminjam uang..!"
"Kini uang habis, tidak bisa bayar, wajar bila aku menyitanya, bila kamu nanti ada uang, barulah tebus dia..!"
"Atau bila aku sudah bosan nanti, kamu bisa menebusnya di paviliun bunga merah sana..!"
"Ha..ha..ha..!"
Bentak pemuda itu sambil tertawa sadis.
Dia terus menyeret tangan seorang gadis muda berusia 16 tahunan.
Gadis itu tangannya di cekal erat oleh Pemuda itu, dia tidak mampu meronta melepaskan diri.
Dia hanya bisa menangis sedih, sambil mengikuti tarikan tangan pemuda itu.
Baru saat melihat ayahnya, yang mencoba menahan pemuda itu membawanya.
Di tendang hingga terpental jauh, gadis itu langsung meronta kuat dan berteriak khawatir.
"Ayah...! ayah...! kamu bajingan lepaskan aku...!"
"Aku mau lihat ayah ku..!"
"Lepaskan..!"
"Plakkkk..!"
"Dukkkk...!"
"Aduh...!"
Jerit pemuda gemuk putih itu kaget.
Sesaat kemudian dia dengan marah, menyentak tangan gadis itu dengan kuat.
__ADS_1
Hingga tubuh gadis itu tersentak mendekat kearahnya,
"Keparat, kamu berani menampar dan menendang ku..!"
"Dasar ******,..! rasakan ini..!"
Bentak pemuda itu marah, sambil melayangkan tangannya, untuk membalas menempeleng wajah gadis muda itu.
"Tapppp...!"
Tangan pemuda gemuk itu, sudah tertangkap oleh Nacha, yang sudah tidak tahan melihat ketidak adilan terjadi di depan matanya.
"Ehh bocah,..! cari mampus kamu, berani campuri urusan tuan besar mu.?!"
Bentak pria berwajah putih gemuk bermata sipit itu dengan marah.
Dia mencoba menarik tangan nya, lepas dari pegangan tangan Nacha.
Sambil mencoba melepaskan diri, dia melepaskan sebuah tendangan keras diarahkan ke dadanya Nacha.
Tapi usaha nya sia sia, dia tetap tidak mampu melepaskan tangan nya yang di cengkeram oleh Nacha.
Tendangannya juga menemui tempat kosong, karena Nacha sudah menggeser sedikit langkahnya kesamping.
Lalu dengan gerakan cepat, Nacha mengganjal kakinya, yang melayang melewati sampingnya, dengan tangan.
Sambil melakukan gerakan mendorongnya keatas, kemudian di dorongkan sekuat tenaga kedepan.
Di saat bersamaan Nacha juga mengganjal salah satu kakinya, yang bertumpu di atas tanah, dengan kakinya.
Tanpa ampun lagi, tubuh Tuan muda Wei terjungkal kebelakang, dengan kepala belakang mendarat duluan diatas lantai batu yang keras.
Di saat bersamaan Nacha juga, melepaskan pegangan tangannya dari tangan tuan muda Wei.
Kemudian secepat kilat Nacha menotok bagian punggung tangan Tuan muda Wei.
Dalam keadaan kesakitan, kebas, hingga kesemutan, dia terpaksa harus melepaskan pegangan tangannya dari tangan gadis muda yang di seretnya.
"Tukkk..!"
"Dukkkk..!"
"Brakkk...!"
Pemuda berwajah putih gemuk itu, langsung terjungkal kebelakang dengan kepala mendarat duluan di atas lantai yang keras.
Pemuda itu langsung merasa kepala belakang nya yang membentur lantai, sakit luar biasa.
Hingga pandangan matanya menjadi nanar, wajah Nacha yang sedang tertawa mengejeknya.
Terlihat berubah menjadi 8 bayangan.
Saat dia mencoba meraba kepala belakang nya, dia segera meringis kesakitan.
Karena kepala belakangnya kini telah muncul benjolan sebesar telur bebek.
"Aduh..!"
Jerit pemuda berwajah putih gemuk, bermata sipit itu kesakitan.
Dia dengan susah payah mencoba bangkit untuk duduk.
Beberapa pengawal nya buru buru buru maju mencoba membantunya untuk bangkit berdiri.
"Aduh Mak..! Pinggang ku..!"
Jerit Pemuda berwajah putih gemuk itu kesakitan.
"Lepaskan tangan kalian,..!"
"Lebih baik segera tangkap dan siksa bocah kurang ajar itu..!"
__ADS_1
Bentak Tuan muda Wei marah marah.
Puluhan pengawal nya, segera bergerak maju mengepung Nacha.
"Hyaaahhh..!"
Sambil mengeluarkan teriakan keras, mereka satu persatu segera maju menyerang Nacha dengan tinju mereka, yang besar besar.
Nacha bergerak santai, memainkan langkah kakinya bergeser sedikit kemudian dengan kecepatan tinggi.
Menghajar ulu hati dan wajah penyerangnya satu persatu, dengan gerakan secepat kilat.
Hanya dalam hitungan detik belasan pengawal Tuan muda Wei, sudah bergelimpangan merintih rintih diatas tanah.
Mereka tidak ada yang sanggup bangun untuk menghadapi Nacha lagi, apalagi hendak mencoba meringkus Nacha.
Tuan muda Wei terbelalak pucat melihat hal itu, dia segera melarikan diri.
Sambil melarikan diri, dia berteriak,
"Bocah busuk, tunggu kamu..!"
"Aku pasti akan kembali membalas mu..!"
Nacha menanggapi nya dengan cuek, dia tidak ambil perduli dengan ancaman Tuan muda Wei itu.
Ping Ru Meng sudah berada di dekat pria, yang bernasib malang itu.
Pria itu terlihat sedang di papah oleh putri nya.
Pria itu terus batuk batuk, karena dadanya tadi terluka dalam oleh tendangan Tuan muda Wei yang jahat itu.
"Paman bagaimana keadaan luka mu, bagaimana bila kami antar pergi cari tabib..?"
Ucap Ping Ru Meng penuh perhatian.
Pria tua itu menggoyang goyangkan tangan nya, dengan masih batuk batuk kecil.
Dia berkata sebisanya,
"Tidak usah nona,.. terimakasih banyak.."
"Uhukkk..! Uhukkk..! Uhukkk..!"
"Lebih...lebih..baik kita...kita.. tinggalkan kota ini.."
"Daripada banyak urusan...!"
"Tuan muda Wei itu,..Uhukkk..! Uhukkk..!"
"Dia bukan orang... orang yang bisa kita usik...!"
Ucap paman tua itu dengan suara terbata bata.
Putri nya juga mengangguk dengan airmata bercucuran dan berkata,
"Ayah benar, lebih baik kita segera tinggalkan tempat ini.."
"Lagipula dari awal, memang aku yang salah, aku yang pergi pinjam uang darinya, untuk menebus obat untuk ibu ku..'
"Tapi karena obat datang terlambat, ibu ku meninggal obat tidak terpakai.."
"Uang habis, tidak bisa membayar hutang, makanya ada kejadian seperti ini.."
Ucap gadis muda itu penuh penyesalan.
"Kakak tak perlu takut, ada aku di sini.."
"Dia berani datang lagi, aku pasti akan menghajarnya lebih berat lagi.."
Ucap Nacha bersemangat.
__ADS_1