
Setelah Yu Ming kembali duduk gagah dan nyaman di atas punggung tunggangan nya.
Semua penonton di sekitarnya, pada bertepuk tangan dengan meriah.
Yu Ming membalas ke mereka semua, dengan sikap bersoja, dengan kedua tangan terkepal dia memberi hormat ke sekelilingnya.
Si pedagang kuda kembali menghampiri Ping Ru Meng. Setelah berbicara sejenak.
Ping Ru Meng pun mengeluarkan beberapa keping perak, untuk membayar si pedagang kuda itu.
Tak lama kemudian dia dan Yu Ming menunggangi kuda mereka masing masing, mulai bergerak meninggalkan pasar tersebut.
Sambil menjalankan kuda masing masing, Yu Ming bertanya ke Ping Ru Meng.
"Bagaimana hasil negosiasi kalian tadi .?"
Ping Ru Meng sambil tersenyum berkata,
"Pedagang kuda tadi bilang kuda ini, sudah di coba oleh ratusan orang.."
"Tapi tidak ada yang berhasil terpilih sebagai tuannya.."
"Dari sekian banyak peserta, yang mencobanya, ada 5 orang yang kurang beruntung tewas di tangan nya.
"Sedangkan yang cedera sudah tidak terhitung lagi jumlah nya."
Cerita Ping Ru Meng dengan bersemangat.
Yu Ming hanya menjadi pendengar setia tanpa berkomentar.
"Pedagang itu tadi juga memberikan potongan harga 50% untuk harga kuda ini.."
"Sedangkan pelana dan tali kekang itu, dia berikan secara cuma cuma.."
"Bila di hitung secara total justru kuda jelek ku ini jauh lebih mahal.."
Ucap Ping Ru Meng.
Begitu mendengar ucapan Ping Ru Meng, kuda tunggangan nya, seperti mengerti.
Dia langsung meringkik keras,
"Hieeehh...!"
Lalu kuda Ping Ru Meng melompat kedepan, berlari dengan sangat cepat, meninggalkan Yu Ming dan tunggangannya.
Kuda Ping Ru Meng seolah olah tidak terima di katakan kuda jelek, dia ingin memberikan pembuktian diri ke tuannya.
Melihat Ping Ru Meng dan kudanya sudah pergi jauh,Yu Ming yang khawatir dengan keadaan tunangannya.
Dia segera berbisik di dekat telinga kuda hitamnya.
"Nama mu sekarang Hei Lung Ma.."
"Ayo Hei Lung Ma, tunjukkan kemampuan mu, kejar mereka.."
__ADS_1
Ucap Yu Ming sambil menepuk leher tunggangan nya.
Mendengar perintah dari Yu Ming, Hei Lung Ma langsung melesat kedepan secepat angin.
Dia berpacu melakukan pengejaran kearah kuda tunggangan Ping Ru Meng, yang sudah berada di kejauhan sana.
Daerah Padang rumput hijau yang luas, memudahkan Hei Lung Ma dan Yu Ming mengikuti pergerakan kuda tunggangan Ping Ru Meng.
Yu Ming yang hanya menguasai sedikit ilmu menunggang kuda secara umum dari Ping Ru Meng.
Dia hanya bisa berusaha sebisanya mengimbangi pergerakan kudanya.
Agar tidak sampai terlempar jatuh kebawah.
Setelah melewati bukit kedua, perlahan-lahan kuda Ping Ru Meng mulai tersusul oleh Hei Lung Ma, yang mampu berlari dengan kecepatan stabil dan pernafasan teratur.
Begitu kuda tunggangan Ping Ru Meng, yang tidak mau kalah tadi, tersusul.
Kuda Ping Ru Meng segera melompat kedepan mempercepat lajunya.
Tapi setelah melewati bukit ketiga, kuda tunggangan Ping Ru Meng, yang nafasnya hampir putus dengan lidah terjulur keluar akhirnya menyerah.
Dia memang bukan tandingan Hei Lung Ma, yang terlihat masih stabil, nafasnya pun masih teratur.
Perbedaan kualitas terlihat jelas, Yu Ming yang merasa kasihan dengan kuda Ping Ru Meng.
Dia pun berbisik dan memberi kode agar Hei Lung Ma menghentikan laju latinnya.
Beberapa saat kemudian, Yu Ming dan Ping Ru Meng terlihat berbaring santai di atas hamparan rumput luas yang mirip permadani hijau.
Yu Ming berbaring santai, menggunakan kedua tangannya menjadi alas kepala.
Sedangkan Ping Ru Meng terlihat berbaring Menggunakan lengan Yu Ming, menjadi bantalan kepalanya.
Dia berbaring dengan posisi miring menghadap kearah Yu Ming.
"Meng Er dari sini ketempat tujuan kita masih berapa jauh ? apa tempat itu ada namanya..?"
Ucap Yu Ming santai, sambil menatap kearah awan seputih kapas, yang sedang berarak di langit biru yang cerah.
"Tidak jauh dari sini, ada sebatang anak sungai, yang tidak begitu dalam."
"Kuda kita mampu melintasinya.."
"Setelah menyeberangi sungai, melewati sebuah celah, yang di apit oleh dua dinding tebing gunung."
"Kita akan segera tiba di lokasi, tempat tinggal lama ku, yang oleh ayah ku di sebut Lembah Naga.."
"Karena lembah tersebut ada sebatang anak sungai, yang bila di lihat dari ketinggian mirip dengan seekor Naga.."
Ucap Ping Ru Meng menjelaskan.
Yu Ming mengangguk pelan, menanggapii penjelasan tunangan nya.
Sesaat kemudian Yu Ming kembali bertanya,
__ADS_1
"Apa di sana ada penduduknya, mirip sebuah desa kecil gitu..?"
"Atau hanya ada ayah dan ibu mu saja yang tinggal di sana..?"
Tanya Yu Ming pelan.
"Ada,.. tentu saja ada,para penduduk tinggal di kaki bukit yang tidak jauh dari sungai berbentuk ular itu, tempat itu namanya lembah ketenangan.."
"Sedangkan ayah ibu ku, milih tinggal di atas bukit lembah ketenangan itu ."
Jawab Ping Ru Meng.
"Meng Er bagaimana kisahnya ayah mu yang seorang dewa, bisa berjumpa, kemudian menikah dengan ibu mu..?"
"Aku rasa kisahnya pasti menarik.."
Ucap Yu Ming sambil terus menatap kearah langit biru.
Ping Ru Meng ikut termenung menatap kearah awan dan berkata,
"Perjumpaan pertama ayah dan ibu, terjadi di daerah Padang pasir tandus di sebelah barat."
"Menurut ayah ku, dia di tugaskan untuk menangkap pembelot dari Kerajaan Es Abadi, yang melarikan diri ke dunia manusia.."
"Ayah ku mengejarnya hingga ke daerah gurun pasir sebelah barat sana.."
"Meski akhirnya berhasil menewaskan pembelot itu, ayah ku mengalami luka luka ."
"Dalam keadaan terluka dan kehilangan sebagian besar hawa dewannya, ayah ku jadi tersesat di gurun pasir yang tak berujung."
"Saat ayah ku hampir mati kering kehausan, antara sadar dan tidak, dia ditolong oleh rombongan kerajaan, yang sedang melakukan perjalanan ke barat..."
"Rombongan itu kebetulan menemukan ayah, saat mereka sedang melakukan perjalanan ke Kerajaan Bhutan."
"Mereka melakukan perjalanan jauh itu, dalam rangka tugas.."
"Mengantar putri Li Yang, untuk melakukan perkawinan politik, dengan Pangeran Mahkota kerajaan Bhutan.."
"Berkat perawatan dari Putri Li Yang Ibu kandung ku, akhirnya ayah ku berhasil di selamatkan.."
"Setelah ayah ku pulih, ayah ku yang merasa berhutang Budi pada ibu ku dan rombongannya.."
"Ayah memutuskan untuk mengawal rombongan tersebut, hingga tiba dengan selamat di kerajaan Bhutan.."
"Dalam perjalanan panjang menghadapi berbagai rintangan dan kesulitan bersama.."
"Ayah ibuku akhirnya saling jatuh cinta, tapi karena status dan tanggung jawab ibu ku yang mengemban misi negri nya.."
"Juga status ayah ku adalah seorang Dewa, yang ada larangan untuk menikah dengan manusia.."
"Akhirnya mereka hanya bisa menyimpan perasaan itu, dalam dalam di dalam hati mereka masing masing."
"Ayah ku terus mengawal rombongan itu, hingga tiba dengan selamat di Kerajaan Bhutan."
"Tapi setibanya di Kerajaan Bhutan, masalah baru pun muncul.."
__ADS_1