LEGENDA PUTRA KAISAR LANGIT

LEGENDA PUTRA KAISAR LANGIT
CIU THIAN SEN NI


__ADS_3

Ciu Thian Sen Ni yang duduk bersila di ruangan meditasi nya tersenyum lembut melihat kedatangan murid terkasihnya.


"Hua er kamu si anak nakal, akhirnya kamu ingat kembali juga.."


"Kamu pasti perlu sesuatu dari guru mu ini, baru kamu ingat pulang ."


Hua Sien Ce tersenyum canggung dan berkata,


"Maafkan Hua er guru, Hua er sejujurnya memang membutuhkan suatu informasi dari guru.."


"Harap guru bisa memberikan sedikit petunjuk pada ku.."


Ciu Thian Sen Ni tersenyum lembut dan berkata,


"Sudah ku duga dasar anak nakal.."


"Terkadang aku justru sedikit merindukan bila kamu bisa sedikit berbohong untuk menyenangkan hati guru mu ini..


"Tapi ya sudahlah,.. katakan saja informasi apa yang ingin kamu ketahui..?"


Hua Sien Ce tertunduk malu, merasa tidak enak hati dengan gurunya.


Tapi dia memang tidak punya pilihan, satu dia tidak bisa, dan tidak biasa berbohong.


Dua dia memang tidak betah tinggal di istana gurunya, terikat segala macam peraturan.


Tiga istana ini begitu besar tapi penghuninya cuma ada beberapa orang, itupun hubungan mereka sangat kaku.


Empat dia memang sangat ingin mengetahui informasi yang dia perlukan dari guru nya.


Ketiga faktor itu lah yang membuat dia akhirnya terjebak oleh Siluman Burung Garuda Putih.


Sehingga mengikutinya kabur ke dunia .


Kini demi informasi itu, mau tidak mau dia harus kembali, untuk mencaritahu kemari.


Hua Sien Ce dengan kepala tertunduk, tidak berani menatap guru nya, dia akhirnya berkata,


"Begini guru, yang ingin Hua Er tanyakan ke guru adalah sebagai dewa Dewi kahyangan bila kita suatu hari meninggal, roh kita akan pergi kemana..?"


Ciu Thian Sen Ni tersenyum sabar dan berkata,


"Hua er mengenai hal itu, kita harus tahu penyebab kematian itu dulu.."


"Beda cara kematian beda pula, arah tujuan roh kita pergi.."


Hua Sien Ce memberi hormat ke gurunya dalam posisi berlutut dan berkata,


"Mohon pencerahannya guru..?"


Ciu Thian Sen Ni mengangguk dan berkata,


"Begini Hua Er bila kematian itu sendiri setelah kita mencapai tahap kesempurnaan dari Siu Lian kita yang sudah maximal.."


"Maka roh kita akan berpindah ke alam yang lebih tinggi dari alam kita saat ini.."

__ADS_1


"Bila kematian kita karena perbuatan melanggar aturan langit.."


"Kita akan di jemput oleh Raja neraka, untuk di kirim ke neraka abadi."


"Kita di sana akan di kurung sesuai masa hukuman yang di tetapkan oleh Yang Mulia Yuan Se Thian Cun.."


"Bila kematian itu sendiri, penyebabnya adalah perbuatan membela kebenaran.."


"Maka Roh kita akan di jemput oleh salah satu maha dewa agung.."


"Mereka akan menentukan kealam mana kita akan di bawa bereinkarnasi.."


"Bisa kealam dewa lagi, ke alam Iblis Siluman dan Raksasa, kealam manusia, kealam bintang, ataupun ke alam tumbuh tumbuhan."


"Semua sesuai pertimbangan dosa dan pahala kita masing masing.."


Ucap Ciu Thian Sen Ni sambil tersenyum lembut.


"Murid ku, kamu ingin bertanya tentang ini, apa ini menyangkut nasib roh bocah tampan yang sering bersama mu itu..?"


Hua Sien Ce sadar meski dia ingin menipu bilang tidak, dia tetap tidak akan pernah bisa menipu gurunya.


Jadi Hua Sien Ce hanya bisa menganggukkan kepalanya membenarkan.


Ciu Thian Sen Ni menganggukkan kepalanya dan berkata dengan sangat serius.


"Hua Er ada satu hal yang ingin guru katakan pada mu.."


"Tapi semua keputusan ada pada mu..mau dengar atau tidak semua terserah pada mu.."


Ucap Hua Sien Ce sambil menatap penasaran ke guru nya.


Ciu Thian Sen Ni menghela nafas panjang dan berkata,


"Yu Ming adalah seorang pemuda yang sangat baik dan pilihan yang jarang ada dua nya.."


"Tapi takdir nya sangatlah jelek, dia sudah menerima kutukan selamanya tidak akan pernah bahagia.."


"Dia sudah di ditakdirkan akan membawa penderitaan dan kemalangan, yang tiada akhir."


"Baik itu bagi dirinya maupun orang di sekitarnya yang punya ikatan kedekatan dengan nya.."


"Jadi guru sarankan sebaiknya kamu jangan pergi mencarinya lagi.."


"Relakan kepergian nya, jalani hidup mu sebagai seorang Dewi kahyangan dengan baik.."


"Kamu akan jauh lebih bahagia, ketimbang terus membiarkan diri mu terseret dalam pusaran cinta asmara yang penuh penderitaan yang tiada habis nya."


Hua Sien Ce menggelengkan kepalanya tidak setuju, dengan bibir cemberut dia berkata,


"Bicara mudah tapi mengenai perasaan itu, prakteknya tidak lah semudah bicara.."


Hua Sien Ce dengan suara kecil mendumel dalam hati.


"Bukankah guru juga sama saja, guru bisa bilang aku tidak bisa bercermin.."

__ADS_1


"Bukankah guru sampai kini juga tidak bisa melupakan pria itu.."


"Sudah tahu dia suami orang, beda ras pula, guru masih saja tetap tidak bisa melupakannya."


Ciu Thian menatap muridnya sambil tersenyum lembut dan berkata,


"Guru tahu apa yang kamu pikirkan, bukankah kamu sedang bilang guru tidak bercermin..?"


"Murid tidak berani guru.."


Ucap Hua Sien Ce gugup, karena pikiran nya terbaca oleh gurunya.


Ciu Thian Sen Ni tersenyum dan berkata,


"Tidak apa apa, guru hanya menasehati mu, sebagai orang yang sudah berpengalaman dan sudah mengalaminya.."


"Guru hanya tidak ingin kamu ambil jalan yang sama, dan terjatuh kedalam lubang yang sama..."


"Tapi mau mendengar atau tidak, tentu semuanya kembali lagi pada diri mu sendiri."


Hua Sien Ce mengangguk pelan dan berkata,


"Terimakasih nasehat dan informasinya, murid akan mengingatnya di dalam hati.."


"Guru bolehkah murid pamit permisi sekarang ."


Ciu Thian Sen Ni tersenyum dan berkata,


"Tidak perlu terburu-buru, bila berjodoh tidak akan kemana mana.."


"Bila tidak berjodoh duduk di samping mu sekalipun dia akan berpaling menjauhi mu.."


"Hua er kamu kemarilah, mendekat ke guru.."


Hua Sien Ce mengangguk pelan, lalu dengan wajah heran dia menghampiri gurunya.


Ciu Thian Sen Ni menunggu hingga muridnya mendekat dia baru berkata,


"Hua er guru sudah tahu penderitaan dan kenangan buruk apa yang kamu alami.."


"Guru akan membantu mu memulihkannya dan menghilangkan kenangan buruk tersebut."


"Kemarikan tangan kiri mu.."


Ucap Ciu Thian Sen Ni sambil mengulurkan telapak tangannya menghadap kebawah.


Hua Sien Ce dengan wajah bingung, memberikan telapak tangan kirinya ke hadapan gurunya.


Ciu Thian Sen Ni langsung meletakkan telapak tangannya yang menghadap kebawah menempel pada telapak tangan kiri muridnya.


Sesaat kemudian dari kedua telapak tangan, yang saling menempel.


Perlahan lahan muncul cahaya merah muda, menyelimuti kedua telapak tangan mereka, yang saling menempel.


Kemudian menyebar menyelimuti seluruh tubuh Hua Sien Ce, beberapa saat kemudian semua cahaya itu berkumpul di satu titik di bawah pusar Hua Sien Ce dan menghilang di sana.

__ADS_1


Bersamaan dengan itu jari telunjuk Ciu Thian Sen Ni menempel di bagian tengah tengah dahi Hua Sien Ce .


__ADS_2