
Lalu dengan satu putaran pedang Xuan Yuan,, yang membuat kedua tangan Siluman Kelelawar Hijau menempel di pedangnya.
Mengikuti putaran pedang Xuan Yuan, kedua tangannya di hempaskan kesamping.
Lalu Yu Ming dengan cepat menusukan pedang Xuan Yuan, tepat terarah ke bagian jantung Siluman Kelelawar Hijau, yang sedang terbuka.
Siluman Kelelawar Hijau dalam posis berbahaya, dia ingin menggunakan sepasang sayapnya, untuk menghalangi tusukan pedang Xuan Yuan.
Sayangnya gerakan tersebut sudah terbaca oleh Yu Ming, yang sudah menyiapkan telapak tangan kirinya untuk menangkis, datangnya sayap kanan Siluman Kelelawar Hijau .
Sedangkan sayap kiri Siluman Kelelawar Hijau diantisipasi dengan tendangan kaki kanan Yu Ming.
"Plakkkk..!
"Desss..,!"
"Creebbbb...!"
Pedang Xuan Yuan menghujam jantung Siluman Kelelawar Hijau tanpa ampun.
"Arggghhh...!!"
Jerit ngeri Siluman Kelelawar Hijau terdengar membahana memenuhi tempat tersebut.
Cahaya emas memancar dari rongga dada kirinya yang berlubang
Sinar menyilaukan itu menyeruak keluar, menerangi langit yang gelap.
Perlahan-lahan sinar itu meluas dan semakin meluas, hingga dari seluruh tubuh Siluman Kelelawar Hijau.
Muncul retakan yang memunculkan rembesan cahaya emas di mana mana.
"Blaaarrrr...!!"
Tubuh Siluman Kelelawar Hijau meledak hancur berantakan, hingga rohnya pun ikut lenyap tak bersisa.
Dia sepenuhnya musnah, tidak akan pernah bisa reinkarnasi lagi.
Karena sudah di hancurkan total oleh Yu Ming.
Yu Ming perlahan-lahan melayang turun kebawah dan berkata,
"Kamu yang memilih kehancuran mu sendiri, tidak dapat menyalahkan ku.."
"Setelah mendarat ringan di atas tanah, Yu Ming menyimpan pedang nya, lalu dia berjalan menghampiri Ping Ru Meng .
"Meng Er masalah di sini sudah teratasi, kita kembali ke pondok diatas sana untuk istirahat..atau bagaimana..?"
Tanya Yu Ming sambil tersenyum lembut.
"Ming ke ke, aku sedikit penasaran dengan perjalanan cinta sahabat ku A Niu dengan Siu Ni Cie.."
"Boleh kita mampir sebentar kedalam sana, sekalian mengabari mereka Siluman Kelelawar Hijau sudah bukan ancaman lagi.."
"Setelah itu kita bisa pamit kembali ke puncak bukit.."
Ucap Ping Ru Meng sambil tersenyum penuh permohonan ke Yu Ming.
Yu Ming tersenyum lebar dan berkata,
__ADS_1
"Ayo kita kedalam.."
Ping Ru Meng langsung maju menggandeng tangan Yu Ming dengan gembira.
"Di dunia ini selain ayah ku, Ming ke ke memang yang paling baik dan bisa di andalkan.."
"Terimakasih ya.."
Yu Ming tersenyum, dia lalu mencium kepala Ping Ru Meng dengan lembut dan berkata,
"Dan kamu adalah gadis yang paling manis dan paling wangi yang sangat aku sayangi.."
"Jadi aku seumur hidup ini, tidak akan pernah bisa menolak apapun permintaan mu.."
Ucap Yu Ming sambil melangkah mengikuti arah tarikan tangan Ping Ru Meng .
Beberapa saat kemudian mereka pun tiba di depan halaman depan rumah kediaman kepala desa Lu.
Ping Ru Meng tahu persis letak dan seluk beluk desa itu, jadi tanpa penunjuk jalan sekalipun, dia bisa sendiri menuju kediaman kepala desa Lu.
Saat tiba di halaman itu, Yu Ming dan Ping Ru Meng melihat di sana banyak orang berkerumun seperti sedang melihat keramaian.
Ping Ru Meng segera mengajak Yu Ming menyeruak menembus keramaian, agar bisa melihat apa yang sebenarnya sedang terjadi.
"Maaf permisi .!"
Ucap Ping Ru Meng berulang, sambil terus menyeruak maju kedepan.
Aura dewa yang terpancar dari tubuh Yu Ming, membuat orang yang berkerumun pada minggir dengan sendiri nya. memberi jalan untuk Ping Ru Meng dan dia menembus keramaian.
Saat tiba di barisan terdepan, Ping Ru Meng sedikit terbelalak kaget melihat situasi yang ada di sana.
Di sana Ping Ru Meng, melihat ada seorang wanita cantik lain, yang wajahnya agak mirip Siu Ni tapi wanita itu jauh lebih muda,
Tangan lain menggandeng seorang anak laki laki berusia 5 tahunan.
Wajah wanita cantik itu, terlihat penuh dengan linangan air mata.
Dia berdiri diam disana menatap kearah A Niu, yang berdiri di tengah tengah, dengan wajah bingung dan serba salah.
A Niu terlihat seperti orang yang tidak tahu harus berbuat apa.
Sekali lihat Ping Ru Meng sudah bisa menebak wanita itu pastilah Siu Lan istrinya A Niu.
Di posisi lain di arah berlawanan, terlihat Siu Ni berdiri di sana, sambil memeluk putranya Siao San.
Dia juga terlihat basah airmata,
Siu Ni wajahnya masih tetap terlihat cantik, seperti Ping Ru Meng dulu mengenalnya.
Di belakang Siu Ni berturut turut terlihat Kepala desa Lu dan istrinya, yang wajahnya terlihat merah padam, tidak tahu menahan murka ataupun malu
Tidak jauh dari mereka, berdiri Lu Pai yang wajahnya sebentar pucat, sebentar hijau, lalu berubah merah.
Sepasang tangannya terlihat terkepal erat, mulutnya yang sedikit terbuka bergetar, tapi tidak ada suara yang keluar dari sana.
Ping Ru Meng tidak mengerti apa yang sedang terjadi di sana, hingga terdengar ucapan Siu Ni.
"Siao San putra ku, kenali lah pria itu baik baik.."
__ADS_1
"Dia baru ayah mu, yang sebenarnya, dia lah ayah kandung mu.."
"Namanya A Niu ke, A Niu ke itu barulah ayah kandung mu.."
"Kedepannya kamu hanya bisa ikut tinggal bersama nya ."
Ucap suara Siu Ni bergetar.
Dia masih terus memeluk putranya dengan erat, sambil terus menatap kearah A Niu, dengan airmata bercucuran membasahi wajahnya.
Wajahnya semakin lama terlihat semakin pucat, tapi dia tetap tersenyum mesra kearah A Niu.
"A Niu ke,.. maafkan aku yang tidak pernah menceritakan hal ini pada mu.."
"Aku dulu berpikir hal ini, akan baik untuk mu, untuk kita semua.."
"Tapi setelah kejadian malam ini, aku sadar sepenuhnya, ternyata aku salah besar.."
"Maafkan aku A Niu ke.."
Selesai berkata, tanpa memperdulikan respon dari A Niu, Siu Ni kini menoleh kearah suaminya.
Sambil tersenyum pahit dia berkata,
"Pai ke ke maafkan Siu Ni, yang telah membohongi mu selama ini.."
"Di kehidupan ini, Siu Ni dan keluarga terlalu banyak berhutang pada keluarga Lu dan Pai ke ke.."
"Biarlah bila ada kehidupan mendatang, Siu Ni baru akan membalasnya.."
Selesai berkata, dari sudut bibir Siu Ni terlihat mengalir darah segar.
Dia sedikit meringis menahan nyeri.
Sepasang matanya terpejam rapat, perlahan-lahan tubuhnya ambruk kebawah.
Bagian perutnya yang tertancap sebilah belati oleh tangan nya sendiri, terlihat bersimbah darah.
"Ibu....!!"
"Siu Ni..!"
"Kakakkk..!!
"Istri ku...!!"
Teriak 4 orang yang berdiri di posisi berbeda serentak.
Lu Pai yang posisinya paling dekat, adalah orang pertama yang pertama kali sampai dan memeluk tubuh Siu Ni, dengan airmata bercucuran.
Sedangkan Siao San, dia hanya berlutut di sisi ibunya, anak itu terus menarik narik tangan ibunya sambil menangis sedih.
A Niu datang susul menyusul bersama Siu Lan istrinya.
Mereka berdua berlutut di hadapan Siu Ni dengan wajah sedih dan sulit percaya, dengan keputusan nekad yang Siu Ni ambil.
"Ibu...ibu...ibu... bangunlah ibu .!"
"Jangan tinggalkan Siao San ibu..!"
__ADS_1
"Hu..hu..hu..hu..!"
Jerit Siao San sambil menangis sedih, sembari menggoyang, dan menarik narik lengan baju ibunya.