LEGENDA PUTRA KAISAR LANGIT

LEGENDA PUTRA KAISAR LANGIT
LANGIT LAPIS KE 9


__ADS_3

Yu Ming terlihat sedang mengangkat tangannya membelai kepala Hua Sien Ce yang ada di hadapannya dengan lembut.


Tapi Hua Sien Ce tidak bisa melihat dan merasakan nya.


Melihat hal ini Hua Sien Ku segera paham apa yang telah terjadi dengan putra kandungnya itu.


Air mata Hua Sien Ku langsung jatuh bercucuran, mereka belum sempat berkumpul sebagai keluarga yang utuh.


Kini putranya segera akan pergi meninggalkannya selama lamanya.


Hatinya langsung terasa sangat sakit dan sedih.


Sehingga dia tidak bisa menahan airmata nya yang runtuh.


Meski sebenarnya dia sudah mendengar ceritanya dari Hua Sien Ce akan kondisi Yu Ming.


Dia juga paham, putranya itu tidak akan selamat, dia sudah mencoba untuk merelakan kepergiannya.


Tapi kini saat menghadapi nya langsung, situasi ini jelas adalah dua hal yang berbeda.


Hua Sien Ku tidak sanggup menghadapi perasaannya sendiri.


Perlahan-lahan Hua Sien Ku melangkah menghampiri posisi Yu Ming dan Hua Sien Ce.


Hua Sien Ku kemudian menyentuh bahu Hua Sien Ce dan berkata,


"Hua er dia telah tiada, kini hanya ada rohnya yang hadir di hadapan kita.."


Hua Sien Ce buru buru menatap kearah Hua Sien Ku dan berkata dengan suara gugup,


"Ap..apa maksud ibu..?"


Hua Sien Ku tersenyum sedih, dan berkata,


"Hua er mari ibu bantu agar kamu bisa melihatnya.."


Selesai berkata, jari telunjuk dan jari tengah Hua Sien Ku yang mengeluarkan cahaya hijau.


Dia tunjuk kearah kening Hua Sien Ce , setelah itu dia baru mengoleskan cahaya hijau itu di depan mata Hua Sien Ce.


Segera Hua Sien Ce kini bisa melihat Yu Ming yang sedang berdiri di sampingnya.


Yu Ming tersenyum lega saat tahu ibunya ternyata punya kemampuan untuk melihat dan mendengarnya.


Begitu pula dengan Hua Sien Ce kini, sehingga saat ini komunikasi bukan lagi halangan buat mereka.


Yu Ming segera menjatuhkan diri berlutut dan bersujud di hadapan ibunya, mencium kedua ujung kaki ibunya .


"Ibu maafkan Ming Er yang tidak pernah menjalankan bakti ku sebagai anak pada ibu.."


"Kini sudah harus pergi, maafkan juga Ming Er yang kehadirannya hanya menimbulkan sakit dan luka di hati ibu.."


Hua Sien Ku membungkuk mencoba memegang bahu Yu Ming yang tidak bisa dia sentuh.


Sesaat dia tersenyum pahit, dan berkata,


"Ming Er kamu bangunlah, tidak perlu meminta maaf.."

__ADS_1


"Semua yang terjadi adalah takdir karma masa lalu ibu dan ayah mu.."


"Semua tidak ada hubungannya dengan mu, kamu adalah anak yang sangat baik."


"Kamu berdirilah biar ibu melihat mu untuk yang terakhir ."


Yu Ming juga tidak bisa menahan dirinya untuk menangis, saat mendengar ucapan ibunya.


Hatinya juga ikut sedih, dia hanya bisa mengangguk pelan.


Lalu mencoba bangkit berdiri, secara bergantian menatap kearah Ibu nya dan Hua Sien Ce sambil tersenyum sedih.


Hua Sien Ce menatap kearah Yu Ming dengan airmata bercucuran dan berkata,


"Ming ke ke maafkan Hua er, semua karena masalah Hua er.."


"Hua er lah penyebab semua masalah ini.."


Yu Ming menggelengkan kepalanya dan berkata,


"Hua er kamu jangan pernah berpikiran seperti itu, kehidupan istana pada dasarnya memang sangat rumit.."


"Itu makanya aku dulu meminta mu untuk sebisa mungkin menjauhinya, aku sangat takut pada akhirnya kamu akan terluka.."


"Tapi mau gimana lagi, takdir bila sudah tiba mau menghindar pun sudah tidak bisa.."


"Hua er Ming ke ke kini hanya bisa berharap kamu dan ibu hidup berdampingan dengan bahagia di sini.."


"Lupakan saja yang pernah terjadi, dengan begitu aku baru bisa pergi dengan tenang.."


Ucap Yu Ming sambil tersenyum lembut.


Ucap Hua Sien Ce sedih sambil maju memeluk Yu Ming.


Tapi dia segera mendapat kenyataan Yu Ming tidak bisa lagi dia peluk.


Yu Ming tersenyum pahit dan berkata,


"Hua er jagalah dirimu baik baik baik.."


"Ibu kamu juga,.."


"Waktu ku saat ini terbatas , bila kelak ada jodoh mungkin kita akan bertemu kembali.."


Ucap Yu Ming sambil perlahan-lahan melayang mundur menjauhi mereka berdua.


Hua Sien Ku dan Hua Sien Ce mengangguk dengan airmata bercucuran.


Ibu dan anak itu saling berangkulan saling menghibur, melepaskan kepergian Yu Ming yang perlahan lahan sirna dari hadapan mereka.


Hua Sien Ce beberapa saat kemudian melepaskan pelukannya dari ibunya dan berkata,


"Ibu kira kira Yu Ming ke ke rohnya akan pergi kemana saat ini.."


"Apa maksudnya bila berjodoh dia akan kembali menemui kita di sini..?"


Hua Sien Ku menggelengkan kepalanya dan berkata,

__ADS_1


"Untuk hal itu, ibu kurang tahu.."


"Bila kamu ingin tahu jelas, ibu rasa guru mu lebih tahu.."


"Kamu bisa pergi bertanya pada nya.."


Hua Sien Ce terlihat bersemangat, dia segera berkata,


"Baiklah terimakasih ibu, kalau begitu aku sekarang mau pergi mengunjungi guru ku.."


"Aku rasa saat ini, guru juga harusnya sudah pulang.."


Hua Sien Ku mengangguk dan berkata,


"Pergilah bila itu bisa membuat mu tenang, ibu akan selalu mendukung mu.."


Hua Sien Ce dengan gembira segera maju memeluk ibunya dan berkata,


"Ibu memang selalu adalah yang terbaik dan paling mengerti aku.."


"Terimakasih ibu.."


Ucap Hua Sien Ce gembira.


Selesai berkata, dia langsung melesat meninggalkan tempat itu.


Hua Sien Ku menggelengkan kepalanya sambil tersenyum melihat tingkah putri yang di besarkan nya itu.


"Pergilah, semoga kamu menemukan kebahagiaan mu, ibu akan selalu mendoakan mu.."


Ucap Hua Sien Ku pelan sambil menatap bayangan punggung putrinya yang sedang terbang menembus awan di atas sana.


Hua Sien Ce terbang menembus langit demi langit dengan penuh semangat.


Dia akhirnya berhasil tiba di langit tingkat sembilan, di mana istana gurunya berdiri dengan megah.


Hua Sien Ce mendarat ringan di depan halaman istana gurunya dengan penuh semangat dia langsung berlari menaiki undakan anak tangga istana tersebut.


Tapi baru saja dia naik dua anak tangga, di ujung anak tangga bagian atas.


Sudah muncul dua gadis muda berpakaian putih menegurnya.


"Siao Se Mei kamu darimana saja..?"


"Mengapa baru kembali..?"


"Guru sudah lama menanyakan mu, dan selalu menanti mu pulang..?"


Hua Sien Ce segera terbang kehadapan mereka berdua dan berkata,


"Ta Se Cie, Er Se Cie,..apa kabar..?"


"Maafkan Hua Er yang baru kembali dan membuat guru dan se cie berdua khawatir.."


Salah satu dari kedua gadis muda berbaju putih itu segera berkata,


"Sudah tidak perlu banyak basa basi.."

__ADS_1


"Mari ikut dengan kami pergi menemui guru ."


Hua Sien Ce mengangguk cepat, lalu dia segera mengikuti kedua Se Cie nya memasuki istana Ciu Thian Huang Kung.


__ADS_2