
Tuan dewa ma.. maafkan saya..saya punya mata tidak bisa melihat.."
"Sehingga telah menyalahi tuan dewa.."
Ucap Gubernur Wei sambil menjatuhkan diri berlutut dan memohon pengampunan.
Nacha menanggapinya dengan tersenyum dingin dan berkata,
"Penguasa jahanam seperti kamu ini, tidak pantas di biarkan hidup.."
"Kamu hanya akan terus menyakiti orang lain, yang lebih lemah dari mu.."
"Bersiaplah..!"
Bentak Nacha sambil mengangkat tombaknya, siap di tusukan kearah Gubernur Wei.
Melihat hal ini, Yu Ming segera melesat meninggalkan posisinya.
Dia muncul di samping Nacha.
Menahan tombaknya dan berkata,
"Pangeran ketiga, ingat tugas kita.."
"Kita tidak menerima perintah untuk mencampuri kehidupan manusia.."
"Kita boleh menolong, tapi kita tidak berhak membunuh sembarangan, kecuali untuk pembelaan diri.."
"Urusan gubernur ini, kita serahkan dia, ke masyarakat kota ini untuk mengadilinya.."
"Agar kita tidak sampai terseret dalam arus karma di alam manusia.."
Ucap Yu Ming mencoba mengingatkan rekannya kembali.
Ucapan Yu Ming bagaikan air dingin yang mengguyur kepala Nacha.
Nacha buru buru menghentikan aksinya, tombak dan gelang segera dia simpan.
Nacha buru buru memberi hormat dan berkata,
"Terimakasih banyak, untung pangeran mahkota cepat mengingatkan.."
"Bila tidak, Nacha pasti akan kembali menerima hukuman, saat kita pulang nanti ."
Ucap Nacha sambil menjura penuh hormat kearah Yu Ming.
Yu Ming tersenyum lembut menepuk bahu Nacha dan berkata,
"Pangeran ketiga, tidak perlu sungkan, lebih baik segera serahkan dia ke masyarakat, untuk di hukum.."
Nacha mengangguk, dia segera maju mencengkram kerah baju gubernur Wei.
Lalu dia menyeretnya kehadapan masyarakat yang sedang berkumpul di sana.
"Blukkkkk..!"
Nacha melempar tubuh Gubernur Wei, yang gemuk ke hadapan para warga dan berkata,
"Dia adalah penguasa yang menindas kalian, kini dia sudah bukan siapa siapa.."
"Silahkan saja, kalian yang putuskan hukuman apa yang pantas untuk nya. "
Ucap Nacha santai.
__ADS_1
Setelah itu dia segera mengikuti Yu Ming dan Ru Meng meninggalkan kediaman gubernur Wei.
Mereka langsung menuju ke penginapan dan restoran, di mana Dewa Er Lang dan Dewa Pagoda berada.
Saat mereka bertiga tiba di restoran, restoran terlihat agak sepi..
Mungkin semua orang sedang pergi melihat keramaian di halaman kediaman gubernur
Sehingga dengan mudah mereka langsung menemukan Dewa Er Lang dan Dewa Pagoda sedang duduk santai, sambil menikmati makan minum di hadapan mereka.
Melihat kedatangan Yu Ming, Dewa Pagoda segera berkata,
"Anak anak nakal kemana kalian pergi, mengapa begitu lama..?"
"Ayo makan, kalian pasti sudah lapar, lelah, dan haus.."
Yu Ming Nacha dan Ru Meng segera ikut duduk, bergabung di sana.
Sambil ikut mengambil makanan buat Ru Meng, Yu Ming pun berkata,
"Bagaimana ? apa ada kabar tentang keberadaan Siluman dan Iblis yang kita cari..?"
Dewa Er Lang dengan suara pelan berkata,
"Menurut pelayan tadi, Siluman ular hijau dan ular putih, sudah lama tidak terlihat di sekitar Feng Huang San.."
Hanya saja di sebelah barat gunung Feng Huang, beberapa waktu ini Gunung Shi Feng.
Terjadi perubahan.
Seluruh gunung mengeluarkan cahaya hitam kelam, tidak lagi indah seperti dulu.
Kini Shi Feng San, oleh penduduk di ganti namanya menjadi Hei Yun San ( Gunung Awan Hitam ).
Karena beberapa waktu yang lalu, ada beberapa rombongan pemburu yang berangkat kesana.
Satupun tidak ada yang kembali, saat pasukan keamanan kota di kirim kesana.
Mereka juga mengalami kegagalan, hingga harus kehilangan puluhan orang personil.
Semua yang pergi kesana, tidak ada satupun yang terkecuali
Semuanya yang pergi hampir bisa di pastikan, tidak ada satupun diantara mereka, yang bisa kembali lagi dengan selamat.
Mendengar hal itu, Yu Ming menatap Dewa Er Lang dengan serius dan berkata,
"Kakak Misan, bagaimana bila kita berpisah jalan, biar aku dan Ru Meng yang pergi menyelidiki ke Hei Yun San.."
"Sedangkan kakak misan dan yang lain, coba mencari tahu keberadaan kedua Siluman itu.."
"Dengan adanya Siau Thian Quan, aku rasa bukan hal sulit untuk menemukan keberadaan kedua Siluman ular itu."
Ucap Yu Ming memberi usul.
Dewa Er Lang mengangguk setuju, dia juga sadar dengan kemampuan nya saat ini.
Dia paling paling hanya bisa mengimbangi salah satu iblis itu.
Bila di sana ada hadir kedua iblis itu secara bersamaan.
Dia sendiri ragu,, dengan kemampuan Dewa Pagoda, dan Nacha, mampu membantu nya menghadapi kedua iblis itu.
Mereka tetap saja harus mengandalkan Yu Ming, untuk menahlukkan kedua iblis itu.
__ADS_1
Jadi usulan Yu Ming ini, memang sudah sangatlah tepat.
Mereka pergi cari Siluman ular, sedangkan Yu Ming bisa pergi cari kedua iblis itu.
Bila kedua iblis itu berhasil di tangkap, maka 3/4 misi mereka, sudah boleh di katakan selesai.
Sisanya mereka bisa menanganinya tanpa perlu melibatkan Yu Ming, yang masih ada urusan pribadinya sendiri, yang mesti dia selesaikan.
Dewa Er Lang menoleh kearah Dewa Pagoda dan Nacha, setelah mendapatkan persetujuan dari kedua rekannya.
Dia segera menjawab Yu Ming dengan anggukan kepala dan berkata,
"Baiklah Ming Er, kami semua setuju dengan usul mu, kalian berdua berhati hatilah.."
"Kapan kalian akan berangkat kesana..?"
Tanya Dewa Er Lang.
"Sekarang.."
Jawab Yu Ming cepat.
Dewa Er Lang menatap kearah Yu Ming dan Ru Meng kemudian sambil menahan senyum dia berkata,
"Baiklah, kalau begitu selesai makan, kita masing masing langsung bergerak saja.."
Yu Ming dan Ping Ru Meng yang mengerti arti senyum Dewa Er Lang, meski tidak dia ucapkan.
Yu Ming dan Ping Ru Meng wajahnya langsung bersemu merah.
Mereka tahu persis, Dewa Er Lang sedang menertawai Yu Ming, yang tidak sabar ingin menyelesaikan misi.
Agar bisa segera kembali ke kahyangan, untuk segera melanjutkan perjodohan mereka.
Akibatnya mereka berdua jadi menanggung beban seperti orang yang sedang kebelet kawin.
Hal itu tentu sangat memalukan.
Tanpa banyak bicara, keduanya dengan kepala tertunduk, buru buru menyelesaikan makan mereka.
Setelah nya, mereka segera pamit permisi dari tempat itu.
Tiba di depan restoran, mereka berdua baru bergandengan tangan, bergerak menuju kearah sebelah barat Feng Huang San.
Setelah berada di tepi telaga Si Hu, Yu Ming segera menyewa sebuah perahu kecil.
Lalu dia mendayung sendiri perahu kecil itu, meninggalkan tepian Si Hu.
Perahu bergerak membelah telaga, langsung menuju kaki gunung Feng Huang San, yang terletak di ujung seberang telaga Si Hu yang luas.
Sepanjang perjalanan menyeberangi telaga, Ping Ru Meng berbaring santai bersandaran di dalam pelukan Yu Ming.
Sambil menikmati udara sejuk dan pemandangan telaga Si Hu yang indah, tenang, menghanyutkan.
Mereka berdua terlihat cukup menikmati kemesraan sepanjang perjalanan, dengan menggunakan perahu tersebut.
"Ming ke ke, bila tidak sedang dalam misi penting, aku rasa aku akan betah berlama-lama di sini."
Ucap Ping Ru Meng sambil bersandar manja dalam pelukan Yu Ming.
"Sendirian..?"
Tanya Yu Ming sambil tersenyum.
__ADS_1