
Sementara acara di luar sana berlangsung dengan sangat meriah, Yu Ming terlihat sangat sibuk bersulang kesana kemari
Ping Ru Meng di dalam kamar pengantin, justru terlihat duduk diatas ranjang dengan kepala tertunduk tertutup kain.
Dia terlihat agak gelisah, sepasang tangannya terus saling meremas.
Jantungnya berdebar dengan sangat cepat, hari ini adalah hari berbahagia nya
Wajar saja dia menanti nanti kehadiran suami nya dengan perasaan gelisah.
Semua perasaan bercampur aduk di dalam benaknya.
Ming ke ke ini kemana ? kenapa begitu lama.."
Keluh Ping Ru Meng pelan.
Sementara itu, di tempat yang jauh dari tempat acara sedang berlangsung.
Tepatnya di langit lapis ke 36 di mana merupakan lapis langit tingkat paling rendah.
Hua Sien Ce terlihat sedang duduk seorang diri, di bangku depan rumahnya, yang menghadap kearah taman bunga
Hua Sien Ce duduk di sana seorang diri sambil menatap kearah rembulan bulat bersinar gemilang diatas sana.
Dia duduk diam termenung di sana, sambil terus menatap kearah rembulan dengan wajah bersimbah airmata.
"Ming ke ke mengapa begitu sulit aku menerima kenyataan dan melupakan mu..?"
"Ming ke ke, apa yang sedang kamu lakukan di sana..?"
"Apakah kamu sedang berbahagia bersamanya..?"
"Akankah kamu masih ingat dengan Hua Sien Ce..?"
"Aku sungguh merindukan saat saat kebersamaan kita dahulu.."
"Apa Ming ke ke merasakan hal yang sama..?"
"Tentu tidak,.. Ming Ke ke sudah bahagia bersamanya.."
"Ming ke ke pasti sudah lupa.."
"Hua Sien Ce nasib mu sungguh malang, kehadiran mu adalah suatu kesalahan.."
"Seumur hidup hanya ada kemalangan, dan tidak akan ada yang perduli kamu ada ataupun tiada.."
Ucap Hua Sien Ce berkeluh kesah sendiri, berbicara dengan rembulan dan bintang diatas sana.
Sinar rembulan yang terang menerangi wajah Siao Sien Ce yang cantik polos alami.
Meski wajahnya terlihat basah bekas airmata, dia tetap terlihat sangat cantik luar biasa.
Siao Sien Ce yang sedang larut dalam perasaan dan pikiran nya sendiri.
Dia tidak menyadari dari tempat gelap di balik sebatang pohon besar.
Seseorang yang berpakaian serba hitam, secara diam diam, sedang mengamati seluruh gerak geriknya, sambil tersenyum licik.
Setelah beberapa saat mengamati situasi, sosok di balik pohon itu, akhirnya melayang keluar.
Kemudian mendarat ringan di belakang Hua Sien Ce.
Begitu mendarat tangannya langsung terulur kedepan ingin menotok tengkuk Hua Sien Ce.
Tapi serangannya gagal, hanya menemui tempat kosong.
__ADS_1
Karena Hua Sien Ce dengan langkah ajaibnya, sudah bergerak menghindari serangan tersebut.
Saat dia terbang melayang kearah Hua Sien Ce, pakaian nya yang berkibaran tertiup angin.
Serta angin pergerakan tangan nya, yang ingin menotok tengkuk Hua Sien Ce.
Sudah tertangkap oleh pendengaran Hua Sien Ce yang tajam.
Sehingga baru saja dia bergerak ingin menotok Hua Sien Ce,
Hua Sien Ce sudah bergerak menghindar menjauhinya.
"Siapa kamu,..?!"
"Apa yang mau kamu lakukan di sini..!?"
Bentak Hua Sien Ce marah.
Sosok berbaju hitam itu tidak menjawabnya, dia malah menjawabnya dengan gerakan yang jauh lebih cepat berusaha ingin mencengkram bahu Hua Sien Ce.
"Srettt..! Srettt..! Srettt..!"
Hua Sien Ce melakukan gerak langkah ajaib, Ciu Cuan Mi Hun Pu. Sembilan Putaran Langkah Penyesat..
Ilmu ini Hua Sien Ce dapatkan dari gurunya, agar dia dapat menjaga diri, bila ada bahaya mengancam.
Dulu dia malas berlatih, tapi sejak berpisah dari Yu Ming, Hua Sien Ce mengusir kejenuhan nya, dengan latihan.
Sehingga dia mengalami perkembangan pesat, terutama dalam hal ilmu ringan tubuh, dan ilmu langkah ajaib ini.
"Wuttt...! Wuttt...! Wuttt...!"
Cengkraman tangan sosok manusia berpakaian hitam itu, selalu menemui tepat kosong.
Setelah beberapa kali berhasil lolos dengan sedikit susah payah, Hua Sien Ce yang sadar akan bahaya.
"Ibu tolong..!!"
Hua Sien Ku yang mendengar suara ribut ribut di depan pondok kediamannya.
Dia segera melesat keluar dari dalam rumah,
Begitu keluar dari dalam rumah.
Melihat putrinya sedang dalam keadaan bahaya, di bawah tekanan sosok berpakaian hitam, yang terus menyerangnya .
Hua Sien Ku langsung melayang ringan kearah arena pertempuran.
Orangnya belum tiba, kedua selendangnya sudah tiba duluan.
Selendang Hua Sien Ku bergerak lincah, bagaikan dua ekor ular hidup datang menyambar mangsa.
"Wutttt..!"
"Wutttt..!"
"Blaaarrr..!!"
"Blaaarrr..!!"
Serangan Hua Sien Ku berhasil di hindari oleh sosok itu dengan mudah.
Akibatnya tanah tempat sosok itu berdiri, meledak menimbulkan sebuah lubang sedalam 30 cm.
"Siapa kamu..?"
__ADS_1
"Apa mau mu, hingga datang membuat keributan di tempat ini..?!"
Bentak Hua Sien Ku marah.
Hua Sien Ce dengan cerdik sudah bergeser berlindung di belakang ibunya, saat sosok itu sedang bergerak menghindari serangan dari Hua Sien Ku.
Sosok itu hanya menjawabnya dengan jengekan dingin, dia langsung meneruskan serangan sepasang cakarnya yang mengeluarkan cahaya merah.
Menerjang kearah Hua Sien Ku, Hua Sien Ku yang pernah lama hidup bersama Raja Iblis Che You.
Tentu saja dia mengenali jurus rahasia suaminya ini.
"Hei,..Cakar Pembunuh Naga..!!"
"Dari mana kamu bisa menguasainya..!?"
Bentak Hua Sien Ku sambil bergerak menghindar dan memutar kedua selendangnya.
Untuk menangkis serangan yang datang.
"Breeet..!!"
"Breeet..!!"
Kedua ujung selendang Hua Sien Ku yang terkena cengkraman sepasang cakar sosok itu langsung pecah hancur berhamburan di udara.
Hua Sien Ku, menyadari bahaya, dia segera berkata,
"Hua er cepat pergi ketempat guru mu..!"
"Di sini berbahaya..!"
Hua Sien Ce menggelengkan kepalanya dan berkata,
"Tidak ibu, Hua Er tidak mungkin membiarkan ibu menghadapi bahaya seorang diri..."
Hua Sien Ku tidak sempat berbantahan dengan putrinya, karena sosok berbaju hitam itu dengan sepasang cakarnya yang mengeluarkan sinar merah.
Telah datang menyerangnya secara bertubi-tubi, sehingga Hua Sien Ku harus mati matian memutar sepasang selendangnya, untuk melindungi diri.
"Wutttt..! Wutttt..! Wutttt.! Wutttt.!"
"Wutttt..! Wutttt..! Wutttt.! Wutttt.!"
"Desss..! Desss..! Desss..! Desss.!"
"Breeet..! Breeet..! Breeet..!"
Sepasang selendang Hua Sien Ku, menjadi semakin pendek setelah berulang kali hancur berkeping-keping terkena cengkraman cakar sosok itu.
Tapi tendangan Hua Sien Ku yang di lepaskan secara tidak terduga, berhasil memaksa sosok itu, terdorong mundur menjauhinya.
Memanfaatkan situasi ini, Hua Sien Ku sekali lagi berkata,
"Hua er cepat pergi ketempat guru mu mencari bantuan..!"
"Atau kamu mau melihat kita semua mati sia sia disini baru puas..!"
Bentak Hua Sien Ku kesal.
"Baik Bu,.. Ibu harus jaga diri dengan baik.."
"Hua Er pergi sebentar.. langsung kembali kesini.."
"Tunggu Hua Er,.. Bu.."
__ADS_1
Ucap Hua Sien Ce dengan airmata bercucuran.
Hua Sien Ce akhirnya terpaksa melompat pergi dari sana dengan wajah basah airmata.