
Yu Ming menggelengkan kepalanya dan berkata,
"Dasar aneh, sebentar sebentar wajah mu memerah, kamu ini seperti anak gadis pingitan tapi memilki brewok di wajah.."
"Dasar memalukan.."
Selesai berkata, Yu Ming tanpa memperdulikan reaksi Siau Sien Ce yang terlihat cemberut.
Dengan santai nya, dia meneruskan langkahnya masuk ke bagian dalam istana kuno itu.
Yu Ming memeriksa keadaan di bagian dalam istana, yang terlihat ada beberapa wanita dewasa, pria dewasa dan beberapa anak kecil, yang terlihat juga berubah menjadi patung batu.
Yu Ming menghela nafas sedih, lalu melanjutkan langkah menyusuri bagian lain.
Hingga dia tiba di bagian kamar kamar mewah, juga ada beberapa kolam pemandian, yang airnya berwarna kehijauan sangat jernih.
Melihat hal itu, Yu Ming pun menoleh kearah Siau Sien Ce, yang sedang mengikutinya dengan wajah masih terlihat cemberut menahan kesal.
"Siau Sien Ce, aku gerah mau mandi, kamu mau ikut tidak..?"
"Kalau mau lepaskan saja pakaian mu, kita berendam sama sama."
ucap Yu Ming ringan.
"Kakak duluan saja,.aku tidak gerah.."
ucap Siau Sien Ce ketus, lalu dia segera memutar tubuhnya.
Melangkah meninggalkan tempat itu, dengan wajah merah padam, hingga ke daun telinga pun ikut merah.
"Ha...ha..ha..!"
'Kamu ini benar benar Niang Niang Chiang, yang aneh..!"
Ucap Yu Ming yang sudah melepaskan pakaiannya, lalu masuk kedalam kolam berair jernih itu.
Sambil menertawai Siau Sien Ce, Yu Ming menggunakan air kolam, yang jernih menyiprati teman baru nya itu.
Siau Sien Ce meski kesal,.tapi dia tidak meresponnya, Dia hanya terlihat berwajah cemberut dan terus mempercepat langkahnya, meninggalkan tempat tersebut.
Dia hanya bisa menahan mangkel atas ucapan dan sikap yang di tunjukkan oleh Yu Ming, yang sedang mencandainya.
Siau Sien Ce berjalan seorang diri menelusuri bagian istana, yang lebih dalam seorang diri.
Yu Ming sendiri tidak ambil pusing lagi dengan temannya, dia disana berendam melepas penat, sambil bersantai sesuka hati.
Siau Sien Ce yang berjalan seorang diri dengan wajah masih kesal, dia menendang apapun yang ada di depan kakinya.
Suatu ketika tanpa sengaja, saat kakinya menendang sebuah batu bulat.
Batu bulat sebesar kepalan tangan bayi itu, langsung melesat cepat menghantam bagian tengah dinding, yang ada gambar lingkaran dengan hirup huruf kuno tertera di sana.
"Wuttt..!"
"Tabbb..!"
__ADS_1
Batu bulat Segede kepalan tangan bayi itu, tepat melayang menghantam bagian tengah lingkaran.
Hingga bagian tengah lingkaran tersebut, melesak kedalam.
Sesaat setelah bagian tengah lingkaran melesak kedalam, dinding batu itu tiba-tiba berderak keras.
"Krakkkk..!" Krakkkk..!" Krakkkk..!"
"Krakkkk..!" Krakkkk..!" Krakkkk..!"
"Krakkkk..!" Krakkkk..!" Krakkkk..!"
"Krakkkk..!" Krakkkk..!" Krakkkk..!"
Muncul retakan besar di bagian tengah dinding.
Sebelum kemudian dinding terbelah dua.
Perlahan lahan dinding terbuka ke kanan dan kiri bergeser dengan sendirinya.
Dua cahaya seperti lampu senter LED, berwarna merah terang menyorot keluar dari balik dinding ruangan.
Siau Sien Ce yang kaget, otomatis melangkah mundur dua tindak menjauhi pintu dinding, yang sedang bergerak terbuka.
Setelah dinding terbuka lebar, semuanya terlihat dengan lebih jelas.
Siau Sien Ce pun menghela nafas lega, rasa kagetnya pun hilang, saat melihat apa yang ada di dalam ruangan.
Benda apa yang menyorot terang keluar dari balik dinding, yang terbuka lebar.
Sepasang batu mulia terang itu menjadi sepasang mata, bagi seekor binatang Kirin, yang terukir indah di atas dinding di dalam ruangan.
Keadaan menjadi semakin jelas, saat matahari sinar nya menembus masuk kedalam ruangan tersebut.
Ruangan itu terlihat kosong melompong, tidak terlihat ada apa apa di sana.
Siau Sien Ce yang penasaran kembali melangkah maju, lalu melangkah masuk kedalam ruangan tersebut.
Dia menyapukan pandangannya keseluruh ruangan tersebut.
Siau Sien Ce mencoba memeriksa dinding dinding di dalam ruangan tersebut.
Termasuk menyentuh ukiran halus, di mana binatang Kirin yang menyeramkan itu, terlihat menempel di dinding ruangan tersebut
Saat menyentuh bola mutiara api yang mengeluarkan cahaya hijau, yang juga menempel di dinding.
"Aduhhhh..!"
Jerit Siau Sien Ce pelan.
Jarinya tanpa sengaja terluka oleh sebatang jarum kecil, yang tiba-tiba mencuat dari bagian tengah bola api, yang mengeluarkan cahaya kehijauan itu.
Siau Sien Ce buru buru memasukkan jari telunjuknya ke dalam mulut, lalu dia menghisapnya.
Untuk mengurangi rasa perih di ujung jarinya, setelah itu dia langsung membalikkan badannya, hendak melangkah pergi meninggalkan ruangan tersebut.
__ADS_1
Saat Siau Sien Ce sedang membalikkan badannya, dia tidak melihat perubahan yang terjadi pada bola api hijau, yang ada di depan moncong ukiran binatang Kirin itu.
Di mana noda darah dari jari Siau Sien Ce, yang menempel di sana, membuat bola api itu mengeluarkan cahaya kehijauan uang semakin terang benderang.
Cahaya bola api itu menjalar hingga ke ukiran binatang Kirin di dekatnya.
Saat cahaya matahari masuk menimpa kearah ukiran di dinding itu.
Seketika bagian kepala Kirin itu mulai bergerak gerak, lalu di susul dengan kedua kaki depan nya, ditutup dengan kedua kaki belakangnya yang ikut bergerak gerak.
Sebelum kemudian bola cahaya kehijauan itu di telan oleh moncong kirim api yang terbuka lebar.
Lalu kirim api dengan gerakan ringan melompat keluar dari balik dinding.
Begitu keluar dia langsung mengaum keras.
"Growwww..!"
"Growwww..!"
"Growwww..!"
Siau Sien Ce yang sedang memunggungi Kirin api tersebut.
Saat mendengar suara Auman keras di belakangnya, dia langsung terlonjak kaget
Siau Sien Ce buru buru menoleh kebelakang.
Begitu melihat di belakangnya kini hadir kirin yang seluruh tubuhnya di selimuti oleh api kehijauan.
Wajah Siau Sien Ce langsung pucat, dia buru-buru membalikkan badannya, sambil melangkah mundur menjauhi binatang mengerikan, yang terus menatap tajam kearah nya.
Dia hanya bisa terus bergerak mundur, tapi binatang itu malah bergerak melangkah maju. menghampirinya.
Sambil terus mengeluarkan suara auman keras dan memamerkan kedua taringnya, yang panjang dan menyeramkan.
Siau Sien Ce terlihat semakin pucat ketakutan, dia kini bahkan berdiri mematung di sana, tidak berani bergerak.
Hanya menatap kearah Kirin itu dengan tatapan mata penuh ketakutan, seluruh semangatnya seolah olah sudah di rampas oleh aura perbawaan mahluk menyeramkan itu.
Tiba-tiba Kirin itu melompat menerkam kearah Siau Sien Ce.
Siau Sien Ce yang ketakutan, secara reflek langsung mengangkat kedua tangannya keatas.
Hawa dewa yang pernah di latihnya di bawah bimbingan Yu Ming, seketika mengalir otomatis ke dalam kedua telapak tangannya.
Seberkas sinar kuning keemasan melesat menyambut Kirin api hijau yang sedang menerkam kearah nya.
"Blaaarrr..!!"
Terdengar suara ledakan dahsyat yang membuat dinding ruangan yang menjadi sasaran pukulan nyasar Siau Sien Ce, langsung berlubang.
Kirin api hijau selamat, karena saat melayang di tengah udara, Kirin itu sempat bergerak melejit menghindar kesamping.
Sebelum kemudian kembali melompat menerkam kearah Siau Sien Ce dari samping.
__ADS_1