
Yu Ming sebenarnya tidak terlalu ambil perduli dengan Yu Long.
Dia yakin Yu Long yang sepanjang pertempuran hanya memilih bertarung dengan lawan lawan enteng.
Dia tidak akan mungkin, ada masalah.
Yu Ming hanya sekedar basa basi, yang sebenarnya, dia hanya ingin tahu kabar Ping Ru Meng.
Hanya saja, dia tidak mungkin menanyakan hal itu ke Dewa Er Lang.
Jadi dia hanya bisa menyerempet ke Yu Long, karena Ping Ru Meng datangnya bersama Yu Long.
Yu Ming yakin perginya juga, tentu akan mengikuti Yu Long.
Dewa Er Lang tersenyum pahit dan berkata,
"Adik kedua mu, sudah pulang duluan, untuk melaporkan kemenangan kita.."
"Anak itu,.. bertempur paling belakang, tapi begitu menang, dia yang berebut jasa paling depan.."
"Ming Er kamu harus waspada dengan ambisi adik kedua mu itu.."
Ucap Dewa Er Lang mengemukakan pendapat nya.
Yu Ming tersenyum dan berkata,
"Bukankah cuma ingin menggantikan tahta ayah saja,? tak perlu berebut seperti itu.."
"Minta baik baik, juga akan ku berikan, terus terang saja kakak misan."
"Terhadap hal itu, Ming Er sama sekali tidak tertarik dan menaruh perhatian.."
"Kalau boleh memilih, Ming Er malah lebih baik, tidak mau posisi putra mahkota ini.."
"Hanya menimbulkan masalah, yang tidak nyaman diantara sesama saudara sendiri saja.."
Dewa Er Lang menghela nafas panjang dan berkata,
"Kamu berpikir begitu belum tentu orang lain juga berpikiran sama.."
"Pokoknya saran ku, lebih baik waspada dan berhati-hati saja.."
"Musuh yang berada ditempat terang, mudah kita hadapi, tapi musuh yang bersembunyi di dalam gelap, itu adalah musuh yang kita mesti waspadai.."
"Karena kita tidak tahu langkah apa yang akan mereka lakukan ke kita."
Ucap Dewa Er Lang, mengingatkan Yu Ming.
"Terimakasih kak, nasehatnya,Ming Er akan selalu mengingatnya.."
Ucap Yu Ming setulus hati.
Sesaat kemudian, mereka berempat bersama sama, berkeliling memeriksa kesiapan pengawalan pasukan kahyangan.
Agar tidak sampai terjadi kesalahan saat dalam perjalanan menuju Nan Thian Men.
Yu Ming yang ikut berkeliling bersama Dewa Er Lang, akhirnya secara kebetulan bertemu dengan Yu Lek dan Siau Sien Ce.
Kedua orang itu terlihat sedang mengobrol, sambil mengamati Burung Garuda Putih yang kini dengan jinak bertengger di lengan Siau Sien Ce, yang mengenakan bantalan pelindung lengan.
bantalan pelindung lengan itu bisa mencegah, lengan Siau Sien Ce terluka, oleh kuku kuku burung Garuda itu, yang runcing dan tajam.
Setelah mereka bertiga mengobrol sejenak, Yu Lek pun berkata,
"Kakak,.. kini kamu sudah datang, baiklah Siau Sien Ce aku kembalikan ke kakak.."
__ADS_1
"Aku mau pergi bersiap siap untuk pulang.."
Ucap Yu Lek sambil tertawa ceria.
Yu Ming tersenyum dan berkata,
"Pergilah, sebentar lagi kami juga akan menyusul.."
Setelah Yu Lek pergi, Siau Sien Ce dengan wajah sedikit lesu berkata pelan,
"Kakak di sini Siau Sien Ce juga mau sekalian pamit kak.."
Yu Ming menatap Siau Sien Ce dengan serius dan berkata,
"Siau Sien Ce apa maksud mu ?"
"Kamu mau pamit kemana..?"
Siau Sien Ce menghela nafas panjang, dia sepertinya juga berat.
Dengan suara pelan, dia berkata,
"Kakak burung ku kini sudah ketemu, sudah saatnya, aku juga harus kembali ketempat guru ku.."
"Siau Sien Ce sudah cukup lama meninggalkan guru."
"Siau Sien Ce agak khawatir dengan keadaan guru, karena selama beberapa waktu ini, Siau Sien Ce tidak berada di sisinya.."
Ucap Siau Sien Ce dengan wajah yang terlihat sedikit murung.
Yu Ming merasa berat dan sedikit kehilangan, bila harus berpisah dari temannya, yang meski banyak keanehan.
Tapi selama ini, dengan setia selalu menemaninya, juga sangat mengerti dirinya.
"Siau Sien Ce, bagaimana bila kamu ikut dulu dengan ku, ke Istana Halimun Mukjizat, melaporkan hasil tugas ku.."
Ucap Yu Ming, mencoba untuk menahan teman satu satunya ini, agar tidak pergi meninggalkan dirinya.
Siau Sien Ce tersenyum pahit, menggelengkan kepalanya dan berkata,
"Tidak kak, Siau Sien Ce sudah putuskan, mungkin ini adalah saat paling tepat untuk kita berpisah.."
"Tiada pesta yang tidak usai, begitu pula dengan pertemuan kita.."
"Bila kelak berjodoh, kita pasti akan bertemu kembali..'
Ucap Siau Sien Ce sambil berusaha tersenyum.
Yu Ming menghela nafas panjang dan berkata kembali,
"Tidak kah kamu bisa mempertimbangkan nya lagi keputusan mu.?"
Siau Sien Ce menggelengkan kepalanya dan berkata,
"Tidak kak, sebelum ini aku sudah memikirkannya berulang kali.."
"Saat inilah waktu paling tepat.."
"Maafkan Siau Sien Ce kak, sekali ini Siau Sien Ce benar benar tidak bisa lagi, ikut dengan kakak kembali ke tempat kakak.."
"Siau Sien Ce tidak ada permintaan lain, Siau Sien Ce hanya berharap selama Siau Sien Ce tidak berada di sisi kakak,
kakak bisa jaga diri dengan baik, .."
"Itu saja cukup.."
__ADS_1
Ucap Siau Sien Ce sambil mengangkat kepalanya menatap kearah mata Yu Ming dengan serius.
Yu Ming sekali lagi menghela nafas berat dan berkata,
"Baiklah,.. bukannya cuma langit lapis ke 9 saja, tempat itu dan tempat tinggal ku tidaklah jauh.."
"Ada waktu, nanti aku pasti akan pergi mencari mu..'
"Kamu juga bila bosan, kapanpun boleh datang mencari ku, kamu bawalah ini."
"Agar lebih mudah untuk keluar masuk Nan Thian Men, tanpa perlu pemeriksaan.."
Ucap Yu Ming sambil menyerahkan plakat emas miliknya, yang menunjukkan pemegang plakat itu adalah sama dengan wakil dirinya.
Siau Sien Ce menerima plakat itu, sambil tersenyum pahit, , dia kemudian menyimpan nya kedalam saku baju.
"Senang mengenal dan bisa berpetualang bersama kakak,.."
"Jangan lupakan Siau Sien Ce ya kak..?"
Ucap Siau Sien Ce sambil menatap mata Yu Ming lekat lekat.
Yu Ming mengangguk cepat dan berkata dengan penuh keyakinan,
"Tidak akan pernah, kakak pasti akan selalu mengingat mu, sebagai sahabat satu satunya, terbaik yang kakak punya.."
Siau Sien Ce tersenyum sedih, dan berkata,
"Saat menikah nanti, jangan lupa kirimkan undangan buat Siau Sien Ce, ya kak..?"
"Siau Sien Ce ingin bersulang untuk kebahagiaan kakak.."
Ucap Siau Sien Ce dengan sepasang mata mulai basah.
Yu Ming tanpa sadar ikut terbawa suasana, dia juga tidak bisa menahan airmata haru nya, ikut jatuh menitik.
Yu Ming buru buru menghapusnya dan berkata,
"Kamu ini si Niang Niang Ciang, bisa aja, kamu membuat kakak jadi tertular.."
"Sudahlah mau pergi,.. pergilah.."
"Jaga diri mu baik baik.."
"Ada waktu datanglah berkunjung.."
Siau Sien Ce menarik wajahnya menjadi cemberut, dia secara reflek langsung melayangkan tangannya menampar pundak Yu Ming.
"Plakkkk..!"
"Dasar kakak ini, selalu aja panggil aku itu.."
"Sudahlah aku pergi dulu,.dasar nyebelin.."
Ucap Siau Sien Ce, dengan bibir cemberut, lalu dia membalikkan badannya, dan bergerak terbang meninggalkan tempat itu.
Yu Ming berdiri termenung menatap kepergian sahabat satu satunya itu.
Beberapa saat kemudian, Yu Ming pun menghela nafas panjang dan berkata,
"Niang Niang Ciang itu benar, tiada pesta yang tiada usai.."
"Tiada pertemuan tanpa perpisahan.."
"Bisa bertemu adalah jodoh, saat berpisah berarti jodoh sudah usai.."
__ADS_1
"Bila masih berjodoh, kelak kita tentu akan bertemu kembali, tidak ada yang perlu di sesali dan di sedihkan.."
Ucap Yu Ming bergumam sendiri.