
Ping Ru Meng sedikit bergidik melihat tebing yang begitu curam menurun ke bawah hingga dasarnya tidak terlihat.
Dengan hati hati dia mengincar sebuah tonjolan batu yang menjorok keluar dari tebing curam.
Ping Ru Meng melayang ringan mendarat di tonjolan tersebut,dari sana dia kembali melayang turun ke tonjolan lain nya.
Angin kencang yang berhembus dengan kuat, beberapa kali dia harus berhenti di tempat dia berpijak, sambil menempel kan diri nya di dinding tebing.
Dengan menancapkan pedang es abadi nya ke dinding tebing sebagai pegangan, dia mampu menahan terpaan angin kencang yang melewatinya.
Setelah angin mereda, Ping Ru Meng baru kembali meloncat turun kebawah, mengincar tempat berpijak berikutnya.
Beberapa kali dia terpeleset karena menginjak salju kosong, yang di kiranya tonjolan batu.
Untungnya dia memiliki kemampuan melayang di udara, sehingga tubuhnya tidak sampai langsung terhempas kebawah.
Sambil melayang turun pelan, Ping Ru Meng menggunakan pedangnya, untuk di tancapkan ke dinding tebing, untuk menahan gravitasi tubuhnya.
Setelah stabil, dia baru melanjutkan pergerakan melayang turun kebawah dan terus kebawah.
Dia melakukan hal itu, secara berulang-ulang, hingga akhirnya dia berhasil mendarat dengan selamat di kaki gunung es raksasa, yang dari bawah sana, terlihat menjulang tinggi keatas hingga menembus langit.
Ping Ru Meng melanjutkan perjalanan nya, dengan melayang ringan diatas hamparan salju putih, dan pepohonan Pinus, yang sebagian daunnya tertutup oleh salju yang terus turun tanpa henti.
Untung nya Ping Ru Meng adalah penghuni kerajaan es, dia sudah terbiasa dengan hawa dingin.
Bila orang lain biasa, kemungkinan sudah berubah menjadi patung es, saat angin salju berhembus melewati tubuh nya.
Ping Ru Meng terus berlompatan ringan di atas salju seperti seekor burung besar.
Pergerakan nya, akhirnya mengundang perhatian seekor singa biru yang berbaring malas di atas tumpukan salju.
Beberapa saat memperhatikan Ping Ru Meng secara diam diam, dia akhirnya memutuskan bangkit berdiri.
Singa berbulu putih itu, mengembangkan sepasang sayapnya.
Sebelum kemudian, dia terbang menyusul kearah Ping Ru Meng sedang bergerak.
Ping Ru Meng yang merasakan ada yang diam diam mengikuti nya.
Dia segera menghentikan pergerakan nya, mencoba memutar kepalanya kebelakang.
Untuk memastikan mahluk apa yang sedang bergerak mengikuti nya dari belakang sana.
Dari suara kepak sayapnya, Ping Ru Meng menduga mahluk di belakangnya itu, kemungkinan adalah seekor burung.
Tapi begitu dia melihat mahluk yang sedang bergerak mengikutinya.
Sepasang mata Ping Ru Meng langsung terbelalak lebar.
__ADS_1
Seumur hidup dia belum pernah menyaksikan seekor singa sebesar itu.
Punya gigi taring runcing panjang hingga keluar dari mulutnya, punya tanduk di kepalanya hingga memiliki sepasang sayap yang lebar dan besar.
Sehingga singa putih itu mampu terbang melayang di udara dengan menggunakan sepasang sayapnya.
Keterkejutan Ping Ru Meng tidak bisa berlangsung lama, karena Singa itu dengan gerakan manuver ganas.
Sudah menerjang kearahnya dengan sepasang sayap di katupkan.
Dia mirip peluru besar yang terjun bebas dari udara, menerjang kearah Ping Ru Meng .
Ping Ru Meng buru buru membentuk sebuah tameng perisai es di depan tubuhnya.
Untuk menghadang terjangan dari singa putih yang sedang meluncur cepat menerkam ke arah nya.
"Brakkkk...!"
Tameng es hancur berkeping keping di terjang kedua cakar depan Singa Salju yang sangat kuat.
Setelah menghancurkan perisai es, singa putih itu masih meneruskan laju tubuhnya menerkam kearah posisi Ping Ru Meng sebelum nya..
Tapi dia hanya berhasil mendarat diatas tanah bersalju itu, sedangkan Ping Ru Meng sendiri sudah berpindah ketempat lain.
Singa salju yang kehilangan mangsanya, dia segera mengedarkan pandangannya dengan penuh kemarahan.
Melihat Ping Ru Meng berhasil selamat, berpindah di tempat lain.
"Groowaaarrrrrrr..!"
Saking kerasnya suara Auman singa itu, tubuh Ping Ru Meng yang kecil seperti di terpa angin badai dari raungan singa tersebut.
Gunung es jauh di belakang sana,. sampai mengalami longsoran hebat.
Bunga salju yang menempel di dedaunan dan cabang dahan pohon Pinus, juga ikut berguguran kebawah.
Bunga bunga salju berhamburan beterbangan di udara.
Tubuh Ping Ru Meng sesaat terpaku diam di sana, hingga tamparan cakar besar singa salju itu tiba.
"Wuttttttt...!"
"Breeet...!"
Ping Ru Meng yang terpaku di sana, akhirnya terlempar jatuh berguling guling di atas hamparan salju, yang menutupi tanah keras di bawah nya.
Baru saja Ping Ru Meng mencoba untuk bangun, cakar besar singa salju kembali tiba.
"Breeet..!"
__ADS_1
"Bressss..!"
Tubuh Ping Ru Meng kembali terlempar untuk kedua kalinya.
Bahu dan punggung nya terlihat terluka dan mengalirkan darah.
Ping Ru Meng sambil menggigit bibir bawahnya, menahan rasa sakit dan perih di bahu dan punggung nya.
Dia terus bergulingan kesana kemari menghindari terkaman susulan dari Singa salju, yang terus mengejarnya.
Singa salju itu sangat cerdik,.dia tidak mau memberikan Ping Ru Meng jeda waktu untuk bangkit.
Dia ingin secepatnya menahlukkan mangsanya, sebelum mangsanya sempat melakukan perlawanan.
Ping Ru Meng yang semakin terjepit posisinya, dia hanya bisa terus menghindar kesana kemari dengan cara bergulingan.
Dia bahkan tidak sempat melihat kearah mana dirinya berguling.
"Bressss...!"
"Ahhhhhh....!"
Jerit Ping Ru Meng kaget saat tubuhnya terjeblos kesebuah lubang gelap hitam.
Mulut lubang di atas kecil, di bawahnya sangat lebar dan dalam.
Mulut lubang itu tadinya tertutup salju, sehingga tidak terlihat dari atas sana, ternyata di bawah sana ada sebuah lubang yang begitu dalam.
Singa Salju buru buru mengembangkan sayapnya, terbang mundur menjauh, saat melihat mangsa yang ada di depan matanya, terjeblos masuk kedalam lubang hitam gelap.
Ping Ru Meng sendiri setelah hilang kagetnya, dia mencoba menstabilkan posisinya.
Lalu mengerahkan hawa dewannya, sehingga tubuhnya bisa terbang melayang turun kebawah sana dengan ringan.
Tidak tahu berapa lama Ping Ru Meng melayang turun ke bawah sana.
Akhirnya dia tiba juga di dasar lubang gelap itu.
Saking dalamnya lubang tempat Ping Ru Meng mendarat.
Lubang diatas sana, tempat Ping Ru Meng terperosok hanya terlihat seperti sebuah titik cahaya halus samar samar, kadang muncul kadang hilang.
Keadaan di bawah sana sangat dingin dan gelap, Ping Ru Meng mengeluarkan pemantik api mencoba menyalakan api.
Tapi pemantik selalu gagal menyala, pemantik dalam sekejab berubah menjadi potongan benda beku.
Ping Ru Meng menghela nafas kesal, karena pemantik api nya di tempat ini malah kehilangan fungsi.
Ping Ru Meng tiba tiba teringat dengan tusuk rambut pemberian Yu Ming.
__ADS_1
Selama ini dia selalu sayang untuk menggunakan nya, mainan itu selalu dia simpan.