
Yu Ming menemukan sesosok wajah polos datar tanpa ekspresi, dengan bagian dagu atas bibir dan kedua sisi bibir hingga ke dagu, di hiasi oleh bulu bulu tipis.
Yu Ming mencoba menotok dan mengurut leher, kening, hingga pundaknya.
"Huff..!"
Terdengar suara keluhan kecil, tapi sepasang matanya masih saja terpejam rapat.
Melihat hal ini Yu Ming mengulurkan tangannya kearah aliran sungai kecil di sisi kanannya itu.
Air sungai tersedot melayang kearah Yu Ming, membentuk ulir air yang melayang mengambang di udara.
Sambil bergerak menyingkir, Yu Ming mengarahkan air tersebut ke pria yang berwajah datar itu.
"Byuuur..!!!"
"Auuuk..!"
"Uhuk..! Uhuk..! Uhuk..! "
Pria itu langsung terbatuk-batuk dan gelagapan di buatnya.
"Ufghhh...!"
"Siapa kamu..!?"
teriak pria berwajah datar itu menatap kearah Yu Ming dengan kaget
"Aku ada di mana..!?"
tanya pria itu sambil melihat kesekitarnya, dengan tatapan mata cemas dan takut takut.
"Tubuh mu jelas memancarkan hawa dewa, kamu jelas termasuk salah seorang dewa kahyangan.. mengapa nyali mu justru begitu kecil memalukan..?"
Ucap Yu Ming sambil tersenyum menggoda pria di hadapannya.
Pria itu tidak menanggapi godaan Yu Ming, dia malah balik bertanya,
"Kamu siapa ? mengapa kita bisa ada di sini..?"
"Mana burung sialan itu..?"
"Takkk..!"
"Aduhhhh..!"
Jerit pria itu tertahan, sambil memegangi kening nya berubah jadi merah, karena di sentil oleh Yu Ming barusan.
"Kamu ini, kalau bertanya satu satu, sudah di jawab baru nanya lagi.."
"Ini satu belum di jawab, muncul 3, 3 belum dijawab muncul 4, gimana aku mau menjawabnya ?"
"Ingat pun tidak,.. dasar..aneh.."
Ucap Yu Ming sambil berjalan pergi mengumpulkan kayu kering di sekitar sana.
"Hei tunggu kamu mau kemana..!?"
Tanya pria berwajah datar itu setengah berteriak panik.
Yu Ming menggelengkan kepalanya dan berkata,
"Kamu gak lihat aku sedang mengumpulkan apa ? bukannya membantu malah kembali bertanya..?"
"Mengapa bisa begitu banyak pertanyaan di otak mu..?"
__ADS_1
"Harusnya kamu belajar ilmu mata batin dewa, yang bisa membaca pikiran orang, jadi kelak kamu tidak perlu banyak tanya, seperti sekarang ini lagi.."
Ucap Yu Ming sambil kembali meneruskan pekerjaannya, mengumpulkan ranting pohon di sekitar sana.
Mendengar Omelan Yu Ming, pria berwajah datar itu, sambil bersungut-sungut, dia segera bangkit berdiri membantu Yu Ming mengumpulkan ranting kering.
Dia tidak berbicara, juga bertanya lagi.
Yu Ming melirik kearah teman barunya itu dan berkata,
"Loh kenapa jadi diam ? tersinggung ? marah..?"
Pria berwajah datar itu tidak menanggapi nya, dia hanya menjebikan bibir nya yang merah, sambil terus bekerja tidak mau bicara dengan Yu Ming.
Yu Ming tersenyum lebar , sambil menggelengkan kepalanya dan berkata,
"Dasar kamu ini, begitu mudah tersinggung,.. seperti Niang Niang Ciang saja.."
"Niang Niang Ciang adalah istilah untuk pria yang bersikap seperti wanita, alias banci."
"Kamu yang Niang Niang Ciang..!"
"Gubrakkkk...!"
Kayu kering yang di kumpulkan oleh pria wajah datar itu, langsung dia banting ke hadapan Yu Ming.
"Ehhh kamu makan obat peledak kah..?"
"Orang kecil mengapa emosi begitu besar..?"
ucap Yu Ming kaget dengan perubahan sikap si banci itu.
"Kamu yang makan peledak dan minum air comberan..!"
Bentak si banci sambil berkacak pinggang.
Yu Ming awalnya kaget, tapi sesaat kemudian, dia malah menutupi mulutnya menahan tawa.
Lalu tanpa memperdulikan pria berwajah datar, yang sedang melotot kearahnya.
Yu Ming mengibaskan tangannya kearah tumpukan kayu kering itu. Seberkas cahaya merah melesat keluar dari telapak tangan Yu Ming.
Dengan cepat api pun menyala berkobar kobar.
Pria berwajah datar yang berdiri terlalu dekat, hampir saja tersambar api unggun yang menyala besar.
Secara reflek pria itu langsung melompat mundur, dia langsung menunjuk kearah Yu Ming dengan kesal, hingga ujung jarinya gemetaran..
"Kau...!"
bentaknya marah, hanya kata itu yang keluar dari mulutnya saking keki nya.
Sedangkan Yu Ming dengan gerakan santai malah memilih duduk santai, sambil mengulurkan kedua tangannya kedepan, menghangatkan diri dalam cuaca yang semakin dingin.
Karena matahari mulai terbenam, kembali ke peraduannya.
Sesaat kemudian pria berwajah datar itu itupun, akhirnya terpaksa ikut duduk berhadapan hadapan dengan Yu Ming.
Mengulurkan sepasang tangannya yang kurus kecil kedepan, untuk ikut menghangatkan diri.
Setelah beberapa waktu berlalu dalam keheningan, Yu Ming akhirnya mengalah dan berkata,
"Nama ku Yu Ming,.. aku tinggal di kahyangan, tepatnya di langit lapis keempat.."
"Kamu sendiri,.. siapa nama mu ? darimana asal mu...?"
__ADS_1
"Aku Siau Sien Ce, tinggal di langit lapis ke 9.."
Yu Ming menatap kearah Siau Sien Ce dan berkata,
"Adik Sien.. boleh aku panggil kamu adik Sien..?"
Siau Sien Ce menggelengkan kepalanya dan berkata,
"Panggi aku kakak Sien lebih cocok, kamu lihat wajah mu, kumis aja tidak ada, licin seperti pantat bayi.."
"Mau panggil aku adik, ogah."
"Nanti aku yang jadi tertawaan orang.."
Yu Ming menghela nafas menahan sabar, dia malas meladeni Niang Niang Ciang, yang picik itu.
Di ladeni malah jadi panjang, Niang Niang Ciang begitu, biasanya sensitif, mau menang sendiri.
Ngeledek orang boleh, tapi bila di balas, dia akan marah.
Jadi cara terbaik menghadapi nya, adalah bersabar dan berlapang dada, dengan begitu pertemanan akan lebih lancar.
Batin Yu Ming dalam hati.
Jadi dia hanya menanggapi ucapan menghina dari Siau Sien Ce dengan senyum pahit.
"Baiklah, kalau begitu aku panggil kamu kakak Sien.."
"Kakak Sien, apa kamu kenal dengan Ciu Thian Sen Ni, dia juga tinggal di langit lapis ke sembilan.."
"Beliau guru ku,..aku muridnya.."
Ucap Siau Sien Ce bangga.
Yu Ming langsung batuk batuk tersedak nafasnya sendiri.
"Uhukk..! Uhukk..! Uhukk..!"
"Kamu kenapa kaget..?"
"Makanya,.. jangan sombong,.. di atas langit masih ada langit.."
"Sekarang baru kaget kan..?"
Ucap Siau Sien Ce bangga.
Yu Ming hampir menunjuk wajah Siau Sien Ce dan tertawa terpingkal-pingkal.
Dia kaget bukan karena takut, dia kaget karena mendengar bualan Siau Sien Ce.
Dia tadi tersedak juga karena kaget, Siau Sien Ce berani berbual sebesar itu.
Ciu Thian Sen Ni adalah siapa, kesaktian nya tiada dua, dia bahkan mampu menghidupkan segala mahluk dari kematian.
Bagaimana mungkin, dia bisa punya murid yang tidak berguna seperti Siau Sien Ce ini.
Baru menghadapi siluman burung rendahan saja, sudah pake klenger segala.
Bagaimana bisa di sandingkan dengan predikat murid Ciu Thian Sen Ni, ini jelas adalah bualan yang super konyol.
Tapi semua ini tentu hanya Yu Ming simpan dalam hati, tidak dia tunjukkan apalagi ucapkan.
Sebaliknya sambil tersenyum penuh kagum menatap Siau Sien Ce, Yu Ming sengaja berkata,
"Kakak Sien, sebenarnya apa yang terjadi ? mengapa kakak Sien bisa ada di sini, bersama burung jahat itu..?"
__ADS_1