Lips Service

Lips Service
Lips Service ● Bab 16


__ADS_3

Kilatan cahaya melintas dengan cepat di depan mata Beyza. Bersamaan dengan perasaan aneh yang membuat hatinya tidak nyaman setelah mendengar kata-kata yang keluar dari mulut Diana.


Apa itu sebuah pengakuan?


Tentu saja tidak sesederhana itu. Namun perkenalan singkat itu sudah berhasil membuat Beyza diam, tidak tahu harus memberikan respon seperti apa. Beruntung, Elder datang di waktu yang tepat.


"Diana!" panggilnya sedikit lantang usai berlari masuk ke dalam, hingga berhasil membuat seluruh mata tertuju padanya.


"Oh, Sayang! Kamu sudah pulang?" Diana pun langsung memeluk Elder dengan seulas senyum menyeringai.


Namun Elder yang merasa sedikit risih, buru-buru mendorong tubuh Diana agar melepaskan pelukannya.


"Apa yang kamu lakukan?" tanya pria itu.


"Aku hanya merindukanmu. Kebetulan lokasi pemotretan dekat, jadi aku mampir sebentar."


Diana mencoba untuk bergelayut manja di lengan Elder, bermaksud memamerkan kemesraan pada Beyza. Namun Beyza, hanya memasang wajah datar dengan senyum tipis. Hal itu jelas membuat sorot mata Elder berfokus padanya.


Dua pasang mata mereka saling bertemu selama beberapa saat. Tanpa ada isyarat yang tergambar, hanya saling menatap untuk sekedar mencari tahu ekspresi dari keduanya.


Hanya saja, mereka berdua sama-sama tidak mengerti. Beyza yang tersenyum tipis dengan sorot mata datar, dan Elder yang sedikit memicingkan matanya.


"Pukul berapa pemotretan dimulai?" tanya Elder tanpa mengalihkan matanya dari Beyza.

__ADS_1


"Yah, itu … sekitar 3 jam lagi," jawab Diana sedikit ragu, lantaran pemotretan itu hanyalah sebuah alibi yang dia buat.


"Aku harus kembali ke kantor sebentar lagi. Ayo, aku akan mengantarmu ke lokasi."


Diana dengan cepat menggelengkan kepala. Lalu dengan manja, dia mencoba merayu Elder agar mau menemaninya sebentar.


"Kamu mau membiarkan aku menunggu sendirian?" rengeknya, berharap Elder mau menurutinya.


Elder terlihat memijat keningnya sesaat. Lalu menoleh menatap Diana sambil menepis tangan yang sejak tadi bergelayut di lengannya.


"Berhentilah bersikap manja, Diana!" bentak Elder dengan sedikit lantang, hingga membuat Diana ketakutan.


Elder yang semula hanya diam, serta mencoba bersabar dengan sikap manja Diana yang tiba-tiba, kini berubah. Seruat amarah terpancar jelas di kilatan matanya yang menyipit tajam.


"Aahh! Ini sakit, Sayang. Lepaskan!" berontak Diana, tetapi diabaikan oleh Elder. Hingga akhirnya Elder memojokkan Diana ke dinding.


"Aku sudah memberimu banyak hal, tapi apa yang kau lakukan?" Suara Elder sedikit menyeruak. "Jangan melebihi batasanmu, Diana!"


Mendengar hal itu, ada rasa takut yang perlahan menyambar tubuh Diana. Perasaan yang membuat kakinya lemas dalam sekejap, bahkan jantungnya yang berdegup sedikit cepat.


Semua karena hal yang dikatakan Elder, menyangkut tentang kisah mereka berdua. Berawal dari Diana yang menawarkan diri sebagai kekasih Elder karena perasaan suka. Juga, Elder yang menerima tawaran Diana dengan dalih sebagai kelinci percobaan atas phobianya.


Keduanya menjalin asmara dengan beberapa kesepakatan. Salah satu diantaranya adalah mengganggu pekerjaan dan hal yang lainnya adalah masalah kehidupan pribadi Elder, termasuk untuk datang ke rumah.

__ADS_1


Setelah mengingatkan Diana, Elder pun langsung pergi begitu saja. Membiarkan Diana yang sedang gemetar ketakutan, bahkan tanpa menoleh. Seakan tidak lagi peduli pada gadis itu.


Namun, obsesinya pada Elder dengan cepat meruntuhkan rasa takutnya dalam sekejap. Bahkan, rasa takut itu telah berubah menjadi bara api yang tiba-tiba tersulut oleh kecemburuan.


Sial! Dia berani memperingatkanku di depan para pembantu sialannya!


Diana mengeratkan dua baris giginya. Rahangnya mengetat, bersamaan dengan tangan yang dikepal kuat. Tanpa menoleh, ia pun pergi meninggalkan rumah Elder, masuk ke dalam mobil yang terparkir di halaman.


Kita lihat saja. Apa setelah ini, kamu bisa menolak atau menghindariku lagi, Elder?


Diana terlihat mengangkat satu sudut bibirnya, dengan kedua mata yang menatap tajam ke depan.


"Ayo, pergi ke Villa Luxury!" ucapnya pada sang asisten yang duduk di kursi pengemudi.


"Untuk apa kita kesana, Nona?" tanya gadis itu.


"Kenapa kau banyak bertanya? Jalankan saja mobilnya dan pergi ke tempat yang aku mau!" ketus Diana memamerkan wajah kesalnya.


...☆TBC☆...


Kira-kira mau ngapain dia ke Vila Luxury?????


Jeng Jeng Jeng ...

__ADS_1


Sajen jangan lupa di tebar 💋💋


__ADS_2