Lips Service

Lips Service
Lips Service ● Bab 50


__ADS_3


Fatih, meski bukan ibu kota, tetapi kota ini hampir setiap pagi mengalami kemacetan. Selain aktivitas kantor, sekolah dan kampus menjadi alasan bagi sebagian orang untuk keluar di pagi hari.


Namun kemacetan di kota Fatih terpantau padat merayap hanya dalam 2 hingga 3 jam. Tidak seperti Istanbul yang bisa lebih dari 3 jam setiap paginya. Sama seperti sekarang, saat Baris pergi menjemput Beyza dari Zeytinburnu ke rumah sakit bersama dengan Rubby.


Benar, pagi hari sebelum Baris pergi, Aishe lebih dulu memberi perintah pada Rubby untuk menjemput gadis itu. Baris yang kebetulan berada di kediaman utama pun, langsung mengajak Rubby untuk pergi bersama.


Butuh setidaknya 2 jam perjalanan bagi mereka mengurai kemacetan di jalan tol. Hingga akhirnya, mereka berdua tiba di rumah sakit sekitar pukul 10 pagi.


Begitu sampai, Baris langsung mengurus administrasi. Sedangkan Rubby, pergi menemui Beyza untuk membantunya berkemas. Namun siapa yang menyangka, gadis muda itu ternyata sudah selesai berkemas. Bahkan selang infusnya pun sudah dilepas.


"Beyza?" panggil Rubby lirih saat ia baru saja membuka pintu kamar, dan melihat Beyza berdiri mengemas tasnya dengan pakaian rapi.


"Oh, Bibi Rubby," jawabnya saat menoleh, menatap Rubby sedang berjalan masuk.


"Bagaimana keadaanmu? Sudah lebih baik?" tanyanya.


Beyza mengangguk, dengan seulas senyum yang terlukis di wajah cantiknya. Wajah cerah penuh semangat, seperti kejadian menyeramkan yang hampir merenggut nyawanya tidak pernah terjadi.


"Ya, jauh lebih baik dari sebelumnya. Bahkan, aku sudah bisa bekerja hari ini."


"Tidak, tidak!" Rubby menggeleng cepat. "Aku belum memberimu izin untuk bekerja hari ini!"


"Kenapa?" tanyanya sambil memasang raut wajah heran.


"Aku sudah lebih baik, Bibi. Jangan khawatir," tegas Beyza menatap nanar ke arah Rubby.


Hela napas Rubby terdengar panjang dan berat. Tentu masalah ini bukan hanya menyangkut kesehatan Beyza, tetapi juga sesuatu yang lebih penting dari itu.

__ADS_1


"Beyza, aku kemari bukan hanya menjemputmu semata, tapi juga menerima perintah dari nyonya."


Raut wajah kebingungan pun tergambar dengan jelas. Beyza tidak berani menebak, atau berpikiran macam-macam, lantaran itu menyangkut perintah nyonya besar. Namun meski begitu, gadis muda itu memberanikan diri untuk bertanya pada Rubby.


"Perintah apa itu, Bibi?"


Entah mengapa, mendengar Beyza bertanya, dua sudut bibir Rubby terangkat sekilas. Seperti ada raut wajah puas, yang pada akhirnya membuat seulas senyumnya tergambar meski hanya beberapa detik.


"Membawamu kembali ke kediaman utama!"


DEGH!


Degup jantung Beyza terasa berdetak dengan kencang. Seperti gendang yang ditabuh dengan kekuatan penuh. Meski hanya satu kali, tetapi tabuhan itu berhasil membuat Beyza terkejut.


Kenapa? Apa alasannya?


Kali ini, gadis bertubuh semampai itu tidak berani bertanya apapun pada Rubby. Dia terdiam, memikirkan banyak pertanyaan tanpa jawaban sendirian.


"Tidak. Bukan begitu!" Beyza menggeleng dengan cepat. "Hanya terlalu mendadak, jadi aku sedikit terkejut."


Lagi dan lagi, Rubby memamerkan seulas senyum singkatnya pada Beyza. Seolah menjelaskan jika dia sudah mengerti penjelasan Beyza.


"Kau sudah selesai berkemas?" tanya Rubby yang langsung dijawab anggukan kepala Beyza.


"Kalau begitu, kita pergi sekarang!"


Rubby berjalan keluar lebih dulu, disusul oleh Beyza yang mengikuti dari belakang sambil menenteng tas.


"Apa ada yang ingin kau bawa dari rumah tuan muda?" tanya Rubby saat mereka berjalan di koridor.

__ADS_1


Beyza terdiam sesaat, sebelum akhirnya dia menjawab. "Ya, ya ada. Aku perlu mengambil beberapa buku."


Rubby tidak memberi jawaban. Wanita itu hanya mengangguk dan terus melanjutkan langkah kakinya. Bahkan sampai keduanya masuk ke dalam mobil bersama dengan Baris yang sudah selesai mengurus administrasi.


Namun meski Rubby diam saja, dia tetap menyuruh Baris untuk mengantar mereka ke kediaman Elder terlebih dahulu.


"Beyza," sapa Samantha yang terkejut melihat Beyza.


"Astaga, Beyza! Bagaimana keadaanmu? Apa sudah lebih baik?" timpal Rea.


Dua maid yang sama-sama bekerja di kediam Elder terlihat terkejut sekaligus senang melihat Beyza telah kembali. Namun ekspresi itu hanya sesaat saja. Wajah suram keduanya pun terlihat jelas, ketika Beyza mengatakan bahwa ia akan berada di kediaman utama untuk sementara waktu.


"Beyza, kita tidak punya waktu. Nyonya sudah menunggu," sela Rubby saat mereka berdua memeluk Beyza dengan erat.


"Maaf, Bibi Rubby. Aku akan segera bersiap."


Entah mengapa, kaki Beyza terasa sangat berat saat berjalan. Seperti ada batu yang amat berat terikat di kedua betisnya. Namun ternyata, tidak hanya kakinya yang terasa berat saat ia pergi ke kamar untuk berkemas. Hatinya pun terasa berat dan sesak secara tiba-tiba.


Bahkan ketika ia selesai berkemas. Kedua matanya masih melirik menatap sekitar, melihat pintu kamar Elder yang tertutup rapat. Begitu juga ruang kerjanya, tempat dimana mereka melakukan Lips Service.


Benar! Setelah ini, bagaimana dengan layanan itu? Apakah sudah berakhir?


...☆TBC☆...



Neng Bey mau di kasih pelatihan sama Momy Ishe nih keknya. Biar tangguh menghadapi guncangan velakor 😏😏


Babang El auto cemberut nih kalau tau 🤣

__ADS_1


Jempol jangan lupa di tekan sebelum ganti bab 😌


__ADS_2