Lips Service

Lips Service
Lips Service ● Bab 77


__ADS_3


Cuaca terlihat cerah hari ini. Langit biru yang berpadu dengan awan putih, hembusan angin yang bertiup sepoi-sepoi. Serta kawanan tupai yang melompat dari satu pohon ke pohon yang lain.


Begitulah cara alam menyambut beberapa orang yang sedang berlari pagi di taman. Meski hari minggu, semangat mereka tidak luntur sama sekali. Termasuk, beberapa orang yang terlihat sibuk di lokasi pemotretan.


Seorang wanita muda, dengan kacamata berlensa tebal terlihat berlari menyusuri lorong. Tangan kanannya menenteng paper bag berisi kopi yang baru saja ia beli. Lalu di tangan kirinya memegang sepasang heels.


Langkah kakinya berhenti, tepat di depan ruang rias yang ada di ujung koridor. Beberapa kali ia menarik napas panjang, mencoba mengatur napasnya yang berantakan. Sebelum akhirnya dia masuk ke dalam.


Dengan hati-hati ia menaruh cup kopi itu di atas meja. Lalu meletakkan sepasang heels di samping kaki seorang wanita yang sedang duduk merias diri.


“Nona Diana, kopi dan sepatu Anda,” ucapnya lirih.


Tangan lentik dengan kuku bercat merah itu terulur, meraih cup kopi, kemudian menyeruputnya. Namun tiba-tiba ….


BRURR


Diana menyemburkan kopi yang ia seruput ke sembarang arah, hingga tidak sengaja melukai tangan gadis berkaca mata tebal.


“Apa kau gila! Siapa yang menyajikan kopi sepanas ini padaku!” teriak Diana lantang hingga membuat semua staff langsung diam tertegun. Begitu juga Imey, gadis berkacamata yang menyodorkan kopi pada Diana.


Imey yang baru bekerja selama 2 minggu itu terlihat gemetar ketakutan. Mendongak untuk menatap wajah Diana saja dia tidak berani, apalagi merintih kesakitan karena luka di tangannya.

__ADS_1


“Ma-Maaf, Nona,” kata Imey sembari menyembunyikan tangannya yang terluka.


“Bodoh! Kau tidak bisa bekerja dengan baik?” Diana meletakkan cup kopi di atas meja, lantas bangkit berdiri dan terus memaki Imey.


“Sudah ku katakan, seduh di suhu 70 derajat. Kau tuli, hah?”


Imey terdiam. Tidak berani menjawab juga tidak berani membela diri. Bahkan dia masih tetap menunduk meski Diana terus menunjuk dadanya beberapa kali dengan kuku panjangnya.


Namun makian dan sikap kasarnya, belum juga memuaskan rasa kesalnya. Dengan cepat ia meraih cup kopi, membuka tutupnya dan langsung menyiramkan kopi panas itu ke atas kepala Imey.


Jeritan pun langsung terdengar di seluruh penjuru ruang. Siapa yang tidak tahan untuk menjerit saat kopi dengan suhu hampir 90 derajat itu menyentuh kulit kepala?


Bahkan Imey pun tidak tahan lagi untuk tetap diam. Namun sayangnya, dari beberapa orang yang ada di ruangan, tidak satu orang pun yang berani menghentikan Diana atau bahkan menolong Imey.


“Arina, bawa pekerja serabutan ini membilas kepalanya!” ucapnya pada salah seorang diantara mereka.


“Dan kalian, keluarlah!” lanjut wanita yang selama ini menjadi manajer Diana.


Diana berusaha menari lengan yang sejak tadi di cengkram oleh sang manajer. Namun kekuatan gadis itu tak lebih kuat dari manajernya.


Setelah memastikan tidak ada seorang pun di ruangan, barulah Hera melepaskan cengkraman tangannya. Bahkan dia menggunakan sedikit kekuatan saat melepasnya, hingga membuat Diana jatuh di kursi.


“Apa kau gila? Dia hampir saja membuat lidahku melepuh!” teriak Diana kesal.

__ADS_1


“Diam, gadis bodoh!”


Serangan balik dari sang manajer, seketika membuat Diana menutup rapat mulutnya. Ya, dia benar benar diam, tidak lagi protes ataupun mengeluh atas lidahnya. Hanya melipat tangan sambil mendengus.


“Kau tahu apa yang kau lakukan? Di luar sana, orang-orang sedang membicarakan dirimu!” lanjut Hera masih bernada ketus.


Namun, Diana justru menanggapinya dengan santai. Dia mengibas rambut pirangnya, lalu menjawab Hera dengan percaya diri. “Mereka memang selalu membicarakanku. Apa yang salah?”


Tatapan tajam Hera pada Diana, seakan menunjukkan rasa tidak suka. Diana yang memang cukup angkuh dan sombong, telah berhasil menambah emosinya. Padahal Hera sudah berusaha menahannya sejak tadi, tapi kelihatannya sudah mencapai batas.


Dengan luapan emosi, Hera melempar ponselnya pada Diana. Lalu menyuruhnya membaca berita yang sedang heboh tentang dirinya.


...Dia memang sangat sombong, padahal tidak terlalu cantik....


...Aku pernah bertemu dengannya di mall, dia merendahkan pramuniaga yang berjaga hanya karena tidak menemukan size sepatu yang dia inginkan....


...Temanku pernah satu projek dengannya. Ah, itu jadi hari yang paling sial baginya. Dia selalu menolak apapun yang berhubungan dengannya....


...Gila! Beritanya langsung menjadi trending. Aku juga punya pengalaman. Saat itu perusahaan sedang pemilihan model, dan semua sepakat untuk memakai Miss Y. Tapi apa yang terjadi, hal itu berubah dua hari sebelum pemotretan! Gila bukan? Lebih gila lagi saat tahu bahwa ada yang nepotisme....


...Sebut saja Miss rambut pirang. Aku tidak menyukai gayanya yang sok cantik padahal tidak!...


...☆TBC☆...

__ADS_1


Bab selanjutnya otw, jangan lupa jempol 🥰


__ADS_2