
Audi RS6 berwarna putih, salah satu mobil koleksinya melaju bebas di sepanjang Laut Marmara. Elder sengaja membuka jendela mobil, membiarkan angin laut masuk ke dalam. Berharap angin segar bisa merubah perasaan Beyza yang sejak tadi hanya diam melamun.
Dia yang biasanya banyak bicara, menjadi diam seribu bahasa. Ini adalah kali pertama Elder melihat Beyza sedih dan hal itu membuat hatinya sedikit tidak nyaman.
Mobil putih itu menepi, tepat di dekat ujung dermaga yang sudah lama tak terpakai. Meski sudah lama tak terpakai, dermaga yang terbuat dari beton itu masih nampak kuat dan kokoh.
Elder turun lebih dulu, kemudian membantu Beyza membuka pintu mobil. Gadis itu turun dengan perlahan, dan mulai mengedarkan pandangannya ke sekitar.
Dermaga dengan ujung pemandangan Laut Marmara adalah hal yang pertama dia lihat. Lalu menoleh ke sisi kanan tempatnya berdiri, ada jalanan lapang. Serta di sisi kirinya, ada tanah lapang dengan pepohonan rindang.
Hanya melihat saja, Beyza sudah bisa menebak. Tempat yang mereka datangi adalah bekas dermaga. Namun sejak kapan dermaga itu ditinggalkan, dia tidak tahu.
Beyza yang melamun saat di perjalanan, tiba-tiba bertanya.
“Bagaimana Anda bisa tahu tempat seperti ini?”
Elder hanya menarik dua sudut bibirnya sesaat, lalu membuka pintu bagian belakang dan mengambil dua botol minuman. Satu botol langsung diberikan pada Beyza, satu lagi ia buka dan langsung meneguknya.
Tanpa berkata apapun, Elder berjalan di atas dermaga, pergi ke ujung lalu duduk di sana. Mengayunkan kakinya sembari menikmati semilir angin sepoi-sepoi. Cuaca tak begitu terik saat itu, suhu di luar ruangan pun hanya mencapai 25 derajat.
Beyza berjalan menyusul, lalu duduk tak jauh dari posisi Elder duduk. Sorot matanya langsung beralih fokus, menatap laut dengan ombak sedang di depannya.
“Kamu bisa lanjut menangis jika mau,” ucap Elder tiba-tiba yang kemudian menarik simetris di bibir Beyza.
Hening pun menyeruak diantara keduanya. Hembusan angin serta deburan ombah, berusaha memecah keheningan, namun tidak berhasil. Mungkin, seperti inilah yang diinginkan oleh Beyza.
Manik indah itu kembali menitihkan bulir mening. Kala sepintas kenangan akan perlakuan keluarganya, membangkitkan rasa sakit yang sempat redup.
Dia bukan tak sengaja melakukan itu, justru sebaliknya. Sengaja mengingat agar dia bisa menangis, menghabiskan seluruh air matanya untuk satu alasan. Setelah itu, dia ingin melupakan segalanya.
__ADS_1
Fokus untuk terus bekerja dan mulai menikmati hidupnya sendiri, mungkin seperti itu.
Elder memilih untuk diam meski tahu Beyza kembali menangis. Duduk menikmati sebotol minuman bersoda, sambil menatap deburan ombak. Membiarkan gadis itu meluapkan rasa sedihnya adalah pilihan yang dia ambil.
Setelah beberapa menit berlalu, isak tangis yang sempat ia dengar sayup-sayup itu, kini mulai berhenti. Nampaknya, Beyza telah puas meluapkan segala rasa sakit di hatinya.
“Sudah lebih baik?” tanya Elder.
“Ya.” Beyza mengangguk. “Terima kasih, Tuan.”
Garis senyum sempat tercipta di wajah Beyza. Namun sayangnya, itu hanya sesaat, tak lebih dari sepuluh detik. Senyumnya hilang, kala dia teringat akan bagian yang penting.
Ya, orang tua kandungnya.
Sebenarnya saat di perjalanan, ia mencoba menggali ingatan akan masa kecilnya. Namun tidak satupun bagian dari ingatan itu yang mungkin ada hubungannya dengan orang tua kandungnya.
“Tanyakan saja,” jawab Elder santai.
Beyza terdiam, tidak tahu harus mulai dari mana. Dia takut salah mengutarakan niatnya dan membuat Elder salah paham. Namun, dia harus memastikan sesuatu agar bisa bertemu dengan orang tua kandungnya.
Gulbar, dengan segala kekuatan dan kemampuannya. Dia harus bisa memanfaatkan itu, setidaknya meminta sedikit bantuan.
“Jika ingin menyelidiki sesuatu, apakah butuh banyak uang?” tanya Beyza masih berbasa-basi.
Namun Elder tidak sepeka itu. Dia tidak akan tahu maksud dari pertanyaan Beyza jika ia tidak sengaja mendengar pembicaraan gadis itu bersama ibunya.
“Kau ingin mencari orang tua kandungmu?”
Kedua mata Beyza langsung membulat penuh. Terkejut, lantaran Elder tahu dia sedang mencari orang tua kandungnya. Tapi yang menjadi pertanyaannya, dari mana dia tahu?
__ADS_1
“Maaf, aku tidak sengaja mendengar pembicaraan kalian,” lanjut Elder sebelum Beyza berbicara.
Beyza menoleh dengan cepat, menatap pria yang duduk tidak jauh dari dirinya itu. Sekali lagi, dia dibuat diam tak berkutik, tapa bisa merespon.
Pikirannya sangat kacau pada saat itu. Hingga membuat otaknya bekerja sedikit lebih lambat dari biasanya.
“Tu-Tuan, sebenar—”
“Aku akan membantumu!” Cekal Elder sebelum Beyza meneruskan kalimatnya.
Antara butuh dan malu. Namun Beyza harus segera menentukan jawabannya, selagi Elder belum berubah pikiran.
“Saya akan membayarnya!” teriak Beyza. “Saya akan membayarnya, nanti. Saya akan membayar jasanya, juga … kemeja Anda yang basah.”
Garis sudut bibir Elder terangkat, meski sedikit tapi itu terlihat cukup jelas.
“Apakah saya boleh mencicil mulai sekarang?”
Tawa Elder meledak seketika. Bukan berniat menertawakan keadaan gadis itu, tetapi ekspresinya. Wajah bengkak dengan mata sayu, lalu sikap memohonnya, baginya itu sangat menggemaskan.
“Baik. Kau harus mulai mencicilnya, tapi kali ini dengan hal lain!”
Elder langsung memangkas jarak diantara mereka dengan gesit. Lalu secepat kilat mengangsurkan tangan, meraih wajah Beyza dan mendaratkan bibirnya dengan tepat. Hanya satu kecupan, tidak kurang dan tidak lebih.
“Ini adalah uang mukanya!”
...☆TBC☆...
Gak ada yang kasih sajen nih?🙄🙄
__ADS_1