Lips Service

Lips Service
Lips Service ● Bab 88


__ADS_3

Aishe


Ruang operasi begitu dingin, sangat dingin sehingga tubuh terasa kaku, bahkan menggerakkan jemari saja sulit. Banyak alat yang berbunyi, tapi yang terngiang adalah bunyi -bib- yang berulang-ulang.


Apa aku akan mati?


Anak-anakku bahkan belum menikah, aku bahkan belum menggendong cucu.


Apa ini saatnya?



"Aishe … Aishe …."


Suara berat tapi sedikit lirih, terdengar samar hingga perlahan menjadi jelas, menggema di gendang telinga. Aishe sangat ingin menjawab suara yang memanggilnya itu, namun bibirnya tak bisa terbuka meski hanya se-inci.


"Ibu … bangunlah, aku mohon."


Lagi-lagi, Aishe mendengar suara lain yang memanggilnya dengan nada sendu. Suara-suara tak asing yang terus menyuruhnya untuk bangun. Ya, dia memang menutup mata, tapi pendengarannya masih berfungsi.


"Kita perlu observasi di ruang ICU selama 12 sampai 24 jam."


"Aku ingin bersamanya."


"Ini sedikit sulit, Tuan. Tapi … baiklah."


"Jaga dia, selebihnya biar aku yang mengurus."


Suara dari percakapan para pria tadi, entah mengapa Aishe bisa mendengarnya dengan baik. Dia bahkan menebak, suara siapa yang begitu ngotot ingin bersamanya itu. Sayangnya, sekuat apapun ia berusaha untuk bangun, tidak ada yang membuahkan hasil.


Seperti ada dinding tinggi nan kokoh di depannya. Dia hanya bisa mendengar suara dari balik dinding, tanpa bisa melewatinya.


Terjebak?

__ADS_1


Entahlah.


Diego berjalan mengikuti perawat yang membawa brankar istrinya, pergi ke ruang ICU. Sedangkan Rehan, dia kembali dan memberi kabar pada yang lain tentang keadaan Aishe.


"Operasinya berjalan dengan baik, ayah kalian akan memantaunya."


Zehra dan Elder yang sejak tadi harap-harap cemas, langsung merasa lega. Hela napas panjang keduanya pun terdengar jelas. Begitu juga Beyza dan Jared yang juga mendengarnya.


"Dimana Zavier?" tanya Rehan tak melihat salah satu keponakannya. "Dia belum kembali?"


Diingat-ingat, pria dingin yang mewarisi 90 persen watak Diego itu sedang melakukan perjalanan bisnis ke Tiongkok untuk melihat target pasar BIN Bank kedepannya. Benar, BIN Bank mulai mengepakkan sayapnya di benua Asia, dan itu dimulai dari Tiongkok lebih dahulu.


"Dia baru dapat penerbangan malam ini."


Pada saat yang bersamaan, ketika Zehra menjawab pertanyaan Rehan. Dua orang pria berseragam terlihat berjalan mendekat ke arah mereka. Rehan jelas tidak berpikir apapun saat itu, karena dia ataupun Jared tidak ada yang melapor kasus kecelakaan Aishe.


"Selamat sore," sapa mereka ramah. "Kami menerima laporan kecelakaan di jalan Tìþpô."


Ya, ada 2 kasus kecelakaan di waktu yang hampir bersamaan selain Aishe, yaitu seorang pria tanpa identitas yang datang bersama Beyza dan Rere.


"Anda? Kalau begitu, ikut kami ke kantor."


Beyza dan Rere sempat saling menatap satu sama lain, sebelum akhirnya mereka pergi mengikuti kedua polisi. Baru berjalan beberapa langkah, Beyza sempat menoleh ke belakang. Menatap sosok Elder yang masih cemas sedang berbicara serius dengan Rehan.


Apa yang gadis itu harapkan? Pertolongan dari Elder?


Tidak.


Saat itu dia hanya berharap, Aishe lekas membaik dan segera sadar. Hingga semuanya kembali bahagia, begitu juga Elder.


Bagian mana yang harusnya aku sesali? Apa dari awal? Ya, harusnya aku tidak datang dan mengajak nyonya berbincang. Harusnya begitu.


__ADS_1


"Apa hubungan Anda dengan Nyonya Gulbar, Nona?" 


Suara berat seorang pria, dapat terdengar begitu jelas. Namun Beyza masih diam membisu. Sorot matanya lurus, menatap nanar ke depan. Entah, apa yang dia lihat saat itu. 


"Bey, Beyza!" 


Panggilan Rere yang sedikit lantang, langsung membuyarkan lamunan Beyza. Dengan linglung, ia mengedarkan matanya, menelisik sekitar yang sudah berubah sejak tadi.


Benar, dia sedang berada di kantor polisi, dengan masker yang menempel menutupi wajahnya.


"O-oh. Maaf," ucapnya.


"Dia bertanya hubunganmu dengan Nyonya Ishe," bisik Rere.


Tanpa banyak berpikir, Beyza yang kembali fokus setelah terbengong beberapa saat, langsung menebak alasan polisi menanyakan demikian.


"Saya, dulu bekerja dengan keluarga Gulbar sebagai pelayan." 


Pengakuan Beyza yang tiba-tiba, seketika membuat polisi yang mengintrogasi mereka, terkejut. Gila! Tidak mungkin! Bagaimana bisa?


Itulah yang mereka pikirkan mendengar pengakuan Beyza. 


Namun yang lebih terkejut lagi adalah Rere. Meski sejak awal dia tahu hubungan Beyza dan Aishe, tapi pengakuan mendadak tanpa pemberitahuan itu, langsung membuatnya menoleh menatap Beyza.


"Apa yang kau lakukan?" protesnya berbisik.


"Tapi apa hubungannya dengan itu, Pak? Pria itu berlari ke tengah jalan secara tiba-tiba. Kami pun sudah berupaya mengerem kendaraan kami, tapi sia-sia karena jarak yang begitu dekat."


Seperti kata Beyza, hubungan antara dirinya dan Aishe memang tidak ada hubungannya dengan kasus kecelakaan. Meski mobil yang digunakan saat itu adalah mobil milik Aishe.


Sorot mata Beyza berubah sedikit tajam. Tidak ada rasa takut yang terpancar sedikit pun. Hanya mata dengan penuh tekad dan keyakinan, bahwa dia dan Rere tidak bersalah sama sekali. 


Polisi masih diam memandangi Beyza yang penuh rasa percaya diri. Sampai, dua pria datang menghampiri mereka.

__ADS_1


"Maaf, saya sedikit terlambat," ucap Lee menyodorkan kartu nama.


...☆TBC☆...


__ADS_2