
Kata orang, perasaan itu mengalir begitu saja. Berawal dari ketertarikan, lalu menjadi suka, dan berkembang menjadi cinta. Tidak ada yang salah tentangnya, yang salah hanya cara mengontrol perasaan itu agar tidak berubah menjadi obsesi.
Itulah yang menjadi perbedaan, antara rasa suka Beyza dan Diana.
“Tidak, tidak ada yang salah dengan itu.”
Tangan Elder terulur, menyibak rambut di kening Beyza ke belakang dengan lembut. Amat lembut, hingga Beyza tidak mampu merespon dan hanya diam terpaku, sembari mencoba memahami perkataan Elder.
Apa maksud kata-katanya itu?
Perasaan ini sepihak?
Dia mencoba berpikir, mencari tahu maksud dari perkataan Elder yang terdengar sedikit ambigu. Apakah perasaannya hanya sepihak saja atau Elder bermaksud menyampaikan sesuatu yang lain?
Sudah cukup keras usaha Beyza untuk mengartikan perkataan Elder, tapi dia belum juga memahaminya. Hingga, Elder menarik garis simetris di bibirnya, membuat seulas senyum yang amat mempesona.
Lain halnya Beyza. Elder justru sedang berusaha memahami reaksi Beyza yang hanya diam sambil menatap dirinya. Jelas-jelas Elder baru saja menyatakan tidak keberatan, tapi apa yang terjadi pada Beyza?
“Apa yang kamu pikirkan sampai bengong seperti itu?”
__ADS_1
Pertanyaan itu langsung membuat Beyza kembali dari lamunan singkatnya. Buru-buru ia menggeleng kepala, mencoba menjawab pertanyaan Elder tanpa membuka mulut. Namun, ekspresi wajah datarnya masih sama.
Dia masih marah? Aku sudah mengatakannya bukan?
Bersikap seolah tidak ada hal besar yang terjadi. Elder mengambil kemeja yang sempat ia buang tadi, lalu perlahan memakainya. Tidak lupa juga, mencari cara untuk mencairkan suasana.
“Aku sadar diri, bahwa aku memang tampan dan mempesona,” ucap Elder tiba-tiba dengan penuh rasa percaya diri sambil mengaitkan kancing kemejanya.
Beyza yang semula hanya menatapnya dengan datar, kini mulai merubah ekspresi wajahnya. Dua sudut bibirnya sedikit meninggi, bersamaan dengan manik mata yang membulat penuh.
Meremehkan? Tentu saja tidak. Dia sendiri telah mengakui bahwa majikannya itu memang tampan dan mempesona. Dia hanya tidak percaya, bahwa Elder bisa jadi pria yang se-narsis itu di depannya.
“Justru aku harus mempertanyakan kredibilitas ku, jika wajah ini tidak bisa membuatmu menyukaiku.”
Elder tahu, bahwa tawa itu mungkin sebuah ejekan baginya. Namun dia sengaja membiarkannya, mengingat Beyza tadi sempat menangis akibat tingkah bodohnya.
Hanya saja, semakin lama, tawa Beyza membuatnya gemas. Hingga saat ia telah selesai mengaitkan kancing, Elder dengan cepat memangkas jarak di antara mereka lagi dengan tubuhnya. Lalu, menggigit bibir bawah gadis itu.
“AH! Tuan,” protes Beyza menatap Elder dengan senyum puas.
__ADS_1
“Teruslah tertawa, maka aku akan melahapmu bulat-bulat!”
Buru-buru Beyza menutupi mulutnya usai mendengar ancaman dari Elder, takut jika pria itu mungkin akan menggigit bibirnya lagi. Dan kini, Elder lah yang tertawa puas usai melihat reaksi Beyza.
“Aku hanya bercanda, kenapa kau ketakutan seperti itu?”
Elder menatapnya lekat, lalu mendekatkan dirinya sekali lagi. Namun kali ini, bibirnya melewati bibir Beyza, dan berhenti di dekat telinganya.
"Aturan di keluargaku sungguh ketat. Ibu tidak mungkin membiarkanku menerkammu bulat-bulat sekarang," bisik Elder.
Sekali lagi, perkataan dari Elder berhasil membuat pikiran Beyza kembali bekerja. Namun hanya sebentar, sebelum akhirnya ia memilih untuk tidak terlalu memikirkannya.
Elder terkekeh pelan, lalu berubah menjadi tawa, diikuti dengan Beyza yang juga tertawa. Begitulah akhirnya keduanya memecah kecanggungan diantara mereka.
Beyza seolah lupa dengan kegilaan yang dilakukan Elder padanya tadi. Namun Elder jelas tidak melupakan ungkapan perasaan Beyza.
Tawa bahagia di antara mereka terlihat jelas dari balik kaca mobil bagian depan. Tanpa sadar, seseorang di balik pilar sedang melihat mereka sejak tadi.
Dengan masker yang menutupi wajahnya, serta penutup kepala, dia terlihat meremas tangannya kuat-kuat saat melihat Beyza dan Elder tertawa bahagia.
__ADS_1
...☆TBC☆...