Lips Service

Lips Service
Lips Service ● Bab 59


__ADS_3

Elder


Beberapa hari ini aku terus berpikir, apa yang sebenarnya aku inginkan? Kenapa begitu gigih mencari ibu?


Setelah diingat, pada awalnya hanya ingin mencari tahu alasan ibu mengambil Beyza dari sisiku. Namun, saat ibu memberiku pertanyaan demikian, entah mengapa aku justru terdiam.


Mungkin aku terlalu nyaman, atau terbiasa dengan kehadiran Beyza di sisiku. Atau, ada alasan lain yang tidak bisa aku ungkapkan?


Suka kah? atau mungkin cinta?



Elder duduk termenung di kursi tempat ia bekerja. Sorot matanya lurus ke depan, memandang langit biru dari balik jendela kaca. Namun percayalah, tatapannya sudah kosong sejak beberapa menit yang lalu.


“Beri aku jawaban jika ingin menemuinya.”


Perkataan yang keluar dari mulut Aishe pada malam itu, kembali mendengung memenuhi isi kepalanya. Padahal dia tidak sengaja teringat, tetapi perkataan sang ibu berhasil membuatnya mengerutkan dahi.


Sudah satu minggu berlalu sejak kejadian malam itu, sejak saat itu pula Elder berusaha mencari jawaban. Namun hingga saat ini, dia tidak menemukan jawaban yang pas.


Dia masih duduk di posisi semua, tak bergeming meski pintu besar di ruangannya terbuka perlahan. Bahkan derap langkah kaki dari seorang pria yang berjalan mendekatinya pun juga tidak berpengaruh.


“Kau masih memikirkan itu?” 


Suara berat yang begitu khas, terdengar jelas di telinga Elder. Namun dia masih duduk sambil menatap birunya langit siang itu. 


“Sudah ku bilang, kau tidak membutuhkannya,” lanjutnya sembari duduk di atas sofa. 


Lalu, dengan santai ia melanjutkan perkataannya, “Tapi … kau menyukainya.”


Benar, kata itu diucapkan dengan santai, seperti tidak ada beban sama sekali. Padahal kata itu terasa amat berat ketika sampai di pendengaran Elder, hingga membuat pria yang sejak tadi acuh langsung menoleh.


Elder menatap nyalang, memandang sosok Jared yang duduk di sofa sambil menikmati sekaleng cola. Dalam hati merutuki sahabatnya yang sudah beberapa kali mengatakan ‘Suka’ dengan mudahnya.


“Apa kau tidak bisa memberiku jawaban yang baik?” ucap Elder kesal.

__ADS_1


“Aku harus memberimu jawaban apa? Sudah beberapa kali ku ingatkan, jika bukan ‘Suka’ maka itu ‘Cinta’,” tegas Jared tidak peduli meski sahabatnya sedang kesal.


Benar saja, setelah mendengar ucapan Jared, Elder langsung mengepalkan tangannya. Rasa kesal yang sejak tadi dia tahan dengan baik, kini hampir mencapai batas.


“Jika bukan keduanya, kau tidak akan sepusing ini memikirkan jawaban untuk Bibi Aishe. Bukankah begitu?”


Tangan yang mengepal, tiba-tiba mengendur, begitu juga mata nyalangnya yang kembali teduh. Elder kembali terbengong, mendengar ucapaan Jared yang menurutnya benar.


Jika bukan ‘suka’ atau ‘cinta’ untuk apa dia bingung mencari jawaban agar sang ibu mengizinkannya bertemu Beyza? Dan jika itu keduanya, memang apa salahnya? Bukankah cinta itu buta?


Setelah beberapa menit ia memaksa kepala serta hatinya untuk saling sinkron. Elder dengan cepat menarik mantel yang tergantung, lalu bergegas pergi meninggalkan Jared. 


“Hei, hel! Kau mau pergi kemana?” Jared bangkit berdiri, berusaha menghentikan Elder.


“Tunggu! Ada yang ingin aku diskusikan denganmu. Elder … Elder!”


Teriakan menggema dari Jared tak digubris oleh Elder. Pria yang menenteng mantel itu tetap berjalan dengan langkah cepat, pergi meninggalkan kantor. 


Jarak 15 kilometer ditempuh sendiri tanpa asisten ataupun supir. Kurang lebih 30 menit, mobil sedan putih dari pabrikan Audi itu berhenti tepat di depan lobi utama BIN Bank milik sang ayah.


"Elder?" sapa Ashan yang tak sengaja berpapasan dengannya di depan pintu ruangan presdir.


"Oh, Paman. Maaf, aku sedang buru-buru ingin bertemu dengan ayah," ucap Elder hendak mendorong pintu.


" Tu…" 


Ashan hendak menghentikan Elder, tetapi gerakan tangan pria muda itu cukup cepat. Belum sempat Ashan meneruskan kalimatnya, pintu besar itu sudah dibuka oleh Elder.


Dua orang pria terlihat sedang berdiskusi dengan serius, kompak menoleh saat Elder membuka pintu. Pandangan mereka langsung tertuju pada Elder yang masuk tanpa permisi.


"Zavier?" Elder terkejut ketika manik mata kecoklatannya melihat Zavier dan bukan sang ayah.


"Aku ingin memberitahu kalau Tuan Diego tidak ada di ruangan," sela Ashan. 


"Lalu, dimana ayah?" tanya Elder menatap Ashan dan Zavier bergantian.

__ADS_1


"Ayah pergi berlibur bersama ibu. Kakak tidak tahu?"


Dua manik mata Elder membulat penuh. Untuk kali pertama, dia merasa sedikit kesal saat mengetahui ayah dan ibunya pergi berlibur tanpa memberitahu dirinya.


Mungkin lebih tepatnya, dia kesal karena mereka pergi disaat dia sedang membutuhkan pendapatnya. Terlebih, sang ayah tercintanya itu selalu mematikan ponsel saat berlibur agar tidak diganggu oleh pekerjaan.


"Apa ada hal yang penting? Kakak bisa menghubungi ibu," ucap Zavier


Ibu? Bagaimana mungkin? 


Justru aku ingin meminta pendapat ayah soal ibu. Bagaimana mungkin aku bertanya pada ….


Pandangan Elder tiba-tiba terfokus pada Ashan yang masih berdiri di tempatnya. Serasa menemukan solusi, dia pun berjalan mendekati pria paruh baya yang sudah lama mengikuti sang ayah.


"Paman, apa Anda punya waktu? Aku ingin mendiskusikan sesuatu," tanyanya tanpa basa-basi.


"Berdiskusi?" 


Ashan terheran sejenak. Ia sempat melihat arloji yang melingkar di pergelangannya. Merasa punya waktu senggang, Ashan pun menyetujuinya.


"Baiklah, ayo pergi ke ruanganku," lanjutnya.


Elder mengangguk dengan senang. Lalu sebelum pergi, dia sempat menoleh ke belakang ke arah Zavier.


"Aku lihat kau sedang sibuk, lanjutkan itu!" katanya singkat, sebelum akhirnya dia pergi mengikuti Ashan ke ruang kerjanya.


"Apa yang ingin kau tanyakan?" tanya Ashan sambil mengambil minuman dari lemari pendingin.


"Aku ingin bertanya tentang ibu. Menurut Paman, ibu wanita seperti apa?"


Aishe ...


Dia wanita seperti apa?


...☆TBC☆...

__ADS_1


Like jagan sampe lupa, sajen kembangnya juga 🥰


__ADS_2