
Beyza berjalan masuk ke dalam gedung, sambil memegangi kedua pipinya yang memerah. Langkah kakinya kecil, tetapi terlihat sedikit lebih cepat. Sama seperti irama degup jantungnya.
Astaga, apa yang baru saja terjadi?
Rasa hangat dari napas Elder, masih terasa memenuhi wajahnya. Pelukan hangat di tengah cuaca panas. Rasa manis yang dihantarkan lidah lawan prianya. Sekali lagi berhasil membuatnya mabuk.
Entah sudah berapa lama dia tidak merasakan ciuman itu. Biasanya, satu minggu sekali mereka berciuman di bawah perjanjian Lips Service. Namun mereka terpisah secara tiba-tiba atas perintah Aishe.
“... untuk yang lainnya, serahkan padaku!”
Beberapa patah kata yang keluar dari mulut Elder sebelum menyuruhnya turun, sempat terlintas di tengah pikiran kosongnya. Perkataan yang tadi membuatnya bingung, tetapi tidak sempat ia tanyakan.
Beyza menghentikan langkahnya, saat tiba di depan pintu ruang latihan, lalu menyandarkan dirinya di tembok. Pikirannya berkecamuk, memikirkan arti dari perkataan Elder padanya.
Apa maksudnya kata-kata itu?
Hal apa yang diserahkan padanya?
Beyza yang saat itu terbengong, tiba-tiba dikejutkan oleh suara berat dari seorang pria.
“Apa yang kau lamunkan?” tanya pria yang entah sejak kapan telah berdiri di samping Beyza.
“Oh! Presdir Lee,” seru Beyza yang terjingkat kaget. “Ti-tidak ada, Presdir. Saya akan kembali berlatih.”
Beyza yang terlihat segan, berusaha pergi secepat mungkin dari Lee. Namun pria berdarah Asia Tenggara itu seakan enggan untuk ditinggalkan. Lee pun buru-buru meraih tangan Beyza yang sudah berbalik badan dan bersiap pergi.
__ADS_1
“Tunggu!” kata pria itu, yang langsung membuat Beyza menoleh.
“Bersiaplah sore nanti, seseorang akan menjemputmu. Kita akan mulai pemotretan!”
Kabar mendadak yang ia dengar, langsung membuat dua manik matanya membulat penuh. Bukan karena pemotretan, tapi lantaran jadwalnya maju dua hari lebih cepat.
“Apa? Bukankah itu harusnya dua hari lagi?” serunya kaget.
Lee mengangguk kecil sambil melepaskan tangan Beyza. Lalu dengan suara lembut tanpa ada emosi, ia menjawab, “Benar, aku memajukannya.”
“Alasannya, Tuan?”
“Bersiap saja dan lakukan dengan baik!”
Hanya itu yang diucapkan pria bertubuh tinggi semampai, sebelum dia pergi meninggalkan Beyza. Sedangkan gadis itu, masih diam mematung menatap punggung Lee yang berjalan semakin menjauh.
Pada akhirnya, hanya bisa menguatkan hatinya untuk siap. Menyiapkan mental yang beberapa hari ini dia latih bersama dengan 4 orang lainnya. Namun, hal itu tentu tidak semudah yang dia pikirkan.
Jam di ponselnya telah menunjukkan pukul 5 sore. Saat pintu kamar asramanya di ketuk oleh seseorang. Suara ringan nan merdu, terdengar dari balik pintu bersamaan dengan pintu yang diketuk.
“Beyza! Kamu sudah siap?”
Beyza terlihat berlari kecil untuk membukakan pintu. Begitu melihat seorang wanita tinggi dengan badan sedikit berisi berdiri di depan pintu, gadis itu langsung menyadari bahwa waktunya telah tiba.
__ADS_1
“Oke! Aku mengambil ponselku sebentar!”
Jarak yang mereka tempuh dari asrama tidak terlalu jauh. Sekitar 10 menit dengan mengendarai mobil yang telah disiapkan oleh perusahaan. Hingga akhirnya mereka sampai di studio pemotretan.
“Arahkan cahaya lampunya sedikit ke kanan!”
“Dimana kameraku yang satunya?”
“Ayunan di sebelah sana, tolong dibetulkan!”
Kesibukan di ruang berukuran 40 meter persegi itu bisa dilihat dengan jelas begitu mereka datang. Namun meski semua sibuk, seorang pria yang tidak kehilangan fokus, langsung berjalan menghampiri keduanya.
“Rere, Beyza. Kalian sudah datang?” ucapnya ramah. “Tidak ada waktu untuk berkenalan, cepat kalian pergi bersiap. Selesai ini baru berkenalan, oke!”
Wanita yang dipanggil Rere itu mengangguk dengan seulas senyum, sebelum akhirnya pergi membawa Beyza untuk bersiap. Setidaknya satu jam, waktu yang diperlukan Beyza untuk merias wajah dan berganti kostum.
Beberapa mata langsung terfokus. Menatap Beyza yang baru keluar dari ruang rias, sedang berjalan ke arah mereka. Bahkan Presdir Lee yang entah sejak kapan tiba di lokasi pemotretan.
“Wah, rekomendasi dari Presdir Lee memang tidak pernah salah!” ucap seorang pria.
Sutradara yang langsung paham arah pembicaraannya, langsung menjawab dengan sedikit tegas. “Apa kau pikir, mengandalkan wajah saja sudah cukup? Dia harus punya kemampuan untuk bertahan!”
Lee yang berdiri tak jauh dan mendengar perkataan dari sutradara, hanya menaikkan dua sudut bibirnya. Lalu diam-diam mendekati mereka dan berkata, “Aku bertaruh, Anda akan menyukainya!”
...☆TBC☆...
__ADS_1
Jempol dan sajen ditunggu 😘😘