Lips Service

Lips Service
Lips Service ● Bab 48


__ADS_3

Hari sudah semakin larut, tetapi suhu udara di luar masih tetap berada di angka yang sama. Cuaca yang tidak terlalu panas atau dingin, dengan semilir angin yang berhembus. Terasa cukup pas bagi kedua pria yang duduk di taman itu menghabiskan beberapa botol beer.


"Menginap saja disini. Kau sedang mabuk," ucap Diego di tengah-tengah percakapan serius mereka.


Elder hanya mengangguk dan berdehem. Lalu dengan mata yang dirasa sudah sangat berat untuk terbuka, ia menyuruh sang ayah untuk masuk.


"Cepat masuk Ayah. Sebelum kekasihmu itu mengusirmu keluar dari kamar," kata Elder dengan nada berat.


"Aish! Kau juga sama saja cerewetnya!" tegas Diego sambil beranjak dari kursinya.


Tanpa berkata apapun lagi. Pria paruh baya yang sejatinya masih cukup tampan dan penuh energic itu berjalan masuk ke dalam. Langkah kaki yang gontai, seakan menjadi pertanda, seberapa mabuknya pria itu.


Padahal, dia hanya menghabiskan beberapa botol beer, dan bukan minuman dengan tingkat alkohol yang lebih tinggi. Sepertinya, kekuatan pria itu terhadap alkohol perlahan menurun, tidak lagi seperti dulu.


Langkah kakinya diperlambat saat mendekati kamar. Berjalan mengendap layaknya seorang pencuri. Lalu perlahan ia membuka pintu kamar yang memang tidak terkunci.


Baru saja ia membuka pintu dan masuk ke dalam. Sorot mata pria itu langsung tertuju pada sosok wanita yang sedang duduk di atas ranjang. Tatapan tajam dengan aura menyeramkan terasa cukup pekat dia rasakan.


Lampu utama yang sengaja dimatikan dan hanya lampu di atas nakas yang masih menyala. Cahaya di dalam kamar yang temaram, seakan menambah aura mencengangkan, dan pada akhirnya berhasil membuat bulu kuduk Diego berdiri.


"Sa-sayang," panggil Diego dengan suara gemetar. "Kamu belum tidur?"


Ada perasaan takut yang terselip dalam seulas senyum. Namun meski begitu, pria paruh baya itu tetap percaya diri dan datang mendekat. Berusaha naik ke atas ranjang seperti tidak ada masalah serius.


Akan tetapi, ketika kakinya diangkat dan hendak naik ke atas ranjang, Aishe lebih dulu mencegahnya.


"Berhenti!"


Seketika. Seluruh tubuh Diego menjadi kaku, diam mematung tanpa berani bergerak. Hanya dadanya saja yang masih kembang kempis karena napasnya terasa berat tiba-tiba.

__ADS_1


"Berdiri disana!"


Hanya dua kalimat. Pria yang tadinya ditakuti dan disegani oleh banyak orang, menjadi tidak berdaya dan patuh tanpa ada penolakan.


Dia menurunkan kakinya kembali, lalu berdiri sesuai perintah sang istri. Ya, benar. Julukan 'Istri' sepertinya lebih berkuasa daripada jabatan seorang presdir. Terutama jika presdirnya seorang suami yang buta akan cinta.


Tanpa banyak bertanya, Aishe sepertinya tahu apa yang baru saja dilakukan oleh sang suami. Tentu saja itu karena bau beer yang tercium cukup pekat.


"Bukankah aku sudah bilang sebelumnya? Jangan masuk ke kamar dalam keadaan mabuk!"


Diego yang tadinya tertunduk lesu tak berdaya, langsung menegakkan kepalanya. "Tidak! Sayang, bukan begitu! Aku tidak mabuk!"


Aishe yang hanya menatap lurus ke arah pintu, tiba-tiba menoleh tanpa aba-aba. Tatapannya tajam, sama seperti saat ia menatap sang suami tadi.


"Tidak mabuk?" tanyanya lirih. "Lalu dari mana bau alkohol di tubuhmu itu!"


Glek


Sampai, suara hela napas Aishe terdengar di telinga Diego. Lalu setelah itu, dia bangkit berdiri, menghampiri sang suami yang berdiri ketakutan.


"Sa-sayang, aku hanya … itu, sedikit –"


Perkataan Diego terhenti ketika ia melihat sang istri tersenyum. Benar, Aishe tersenyum. Akan tetapi, itu bukanlah sebuah senyuman ramah nan tulus.


Glek


Lagi-lagi Diego menelan salivanya dengan kasar. Merasakan aura ganas yang semakin menyebar dan membuat tubuhnya bergetar tanpa kendali.


Benar saja. Tanpa banyak kata, dan hanya menampilkan seulas senyum di wajah cantiknya. Aishe menarik baju Diego, membawanya ke luar dari kamar. Lalu, buru-buru menutup pintu setelah berhasil mengusir Diego keluar.

__ADS_1


Merasa tidak terima, Diego berusaha membuka pintu. Namun sayang, Aishe lebih dulu mengunci pintunya.


"Sayang, ayolah. Aku hanya minum dengan Elder di taman samping," teriak Diego sambil mengetuk pintu, tanpa memperdulikan sekitar.


"Sungguh! Kamu bisa keluar dan bicara dengan anak itu. Dia disini, dia menginap di rumah!"


Diego terus berteriak di depan pintu kamar. Meyakinkan sang istri bahwa dia tidak minum dengan orang lain.


Dia terus berteriak, tanpa peduli sekitarnya, lantaran ia tahu, semua anak-anaknya masih berada di luar. Benar, mereka masih sibuk dengan dunianya. Namun, itu hanya dugaan Diego semata, tanpa ia tahu, bahwa anak-anaknya sudah pulang.


"Ayah, apa yang Ayah lakukan di depan kamar?" tanya Zehra yang langsung membuat Diego menoleh.


Jreng


Anak-anak yang ia kira masih sibuk dengan dunia mereka, ternyata sudah berada di rumah. Bahkan, mereka berdiri menatap sang ayah yang berusaha membujuk istrinya.


"Ah, itu. Tidak, kami hanya …."


"Ayah diusir ibu lagi karena minum?" sela Zavier.


"Ayah! Ayah kembali lagi? Ayo kita lanjutkan, aku baru saja meminta Zavier membawa sebotol whisky yang enak!" teriak Elder yang sudah mabuk dari ambang pintu.


Oh, astaga.


Dari mana mereka punya sikap seperti ini?


...☆TBC☆...


__ADS_1


Babang Die gendong cucu 😅😅😅😅


__ADS_2