
Apa yang membuat hati ini terasa berat?
Dalam hati ia terus bertanya, bertanya sesuatu yang dia sendiri tidak bisa mengetahui jawabannya. Seperti mencoba mengorek, mencari tahu lebih jauh, hal yang membuat hatinya terasa berat untuk pergi.
Namun bagaimanapun, itu adalah perintah yang turun langsung dari Nyonya Besar. Sangat tidak mungkin baginya untuk menolak. Lagi pula, akan terlihat aneh jika dia menolak untuk pindah, bukan?
Beyza pun mencoba mengambil napas dalam-dalam, lalu mengeluarkannya dengan cepat. Sebelum akhirnya ia kembali berjalan sambil membawa sebuah tas kecil yang berisi beberapa buku dan baju.
"Sudah selesai?" tanya Rubby ketika melihat Beyza datang dengan tas kecil di tangannya.
"Sudah, Bibi."
Mendengar jawaban Beyza, Rubby tidak banyak berkata-kata lagi. Mereka langsung pergi begitu saja dari kediaman Elder, menuju kediaman utama.
Jarak 10 kilometer itu ditempuh dengan cepat oleh Baris. Setidaknya tidak sampai setengah jam, lantaran kemacetan sudah terurai sejak tadi.
Rumah 3 lantai dengan dasar cat berwarna putih. Gerbang tinggi berwarna hitam nan kokoh, serta taman yang cukup luas, menyambut kedatangan mereka.
Beyza tiba-tiba teringat, ketika ia berlari tergopoh-gopoh beberapa bulan lalu untuk mengikuti seleksi. Benar, di rumah ini. Sebagai seorang pembantu rumah tangga, yang pada akhirnya membuat dia terjebak perjanjian konyol dengan tuan muda.
"Biarkan barang-barangmu disini. Baris akan membawakannya," kata Rubby sesaat setelah mobil yang mereka naiki berhenti.
"Pergilah temui nyonya. Beliau sudah menunggu sejak tadi," lanjutnya memberi perintah.
Beyza hanya menjawab singkat sembari mengangguk. Lalu ia turun dari mobil, dan masuk melalui pintu samping.
Pada saat yang sama, ketika gadis itu masuk ke dalam rumah. Elder dengan kepala yang masih terasa pening, berjalan keluar dari pintu depan bersama dengan Zavier.
__ADS_1
Sepertinya, takdir kali ini tidak membuat suatu kebetulan yang baik bagi keduanya. Mereka tidak bertemu pagi itu, bahkan Elder pun tidak langsung pergi ke kantor untuk mengurus pertemuannya dengan orang penting.
"Selamat pagi, Nyonya," sapa Beyza dengan ramah.
Perasaan yang sejak tadi dirasakan tak nyaman. Sesak, gelisah, bahkan napas pun terasa sangat berat. Secara tiba-tiba menghilang tanpa jejak begitu Beyza menatap wajah teduh Aishe.
Senyum tulus yang terukir di wajah tuanya, sama sekali tidak merubah kecantikannya. Wajah teduh yang membuat perasaan Beyza merasa tenang dan nyaman dalam seketika.
"Oh, Beyza sudah datang? Duduklah, kenapa kamu berdiri saja?" ucap Aishe dengan nada ramah.
Beyza terlihat celingukan, menatap sekitar yang sepi. Hanya ada Rubby yang berdiri tidak jauh dari mereka.
"Kamu baru saja sembuh, Beyza," lanjut Aishe seakan mengerti rasa canggung gadis itu.
"Duduklah! Karena pembicaraan kita akan sangat panjang."
Dengan rasa penasaran yang membumbung, Beyza pun duduk tepat di dekat Aishe. Lantaran dia sudah menepuk-nepuk sofa di sebelahnya, agar segera diduduki Beyza.
"Aku tidak mau basa basi lagi." Nada bicara Aishe berubah dalam hitungan detik sejak Beyza duduk. Terdengar tegas, penuh tekanan, dan seakan sedang mengintimidasi Beyza.
Apa, Nyonya tahu tentang Lips Service?
Tidak, tidak mungkin. Tuan sudah pasti akan menyembunyikan rahasia ini baik-baik.
Pikiran Beyza pun semrawut dalam seketika. Namun belum sempat ia memikirkan lebih jauh, Aishe sudah mengeluarkan sebuah tablet dan langsung menyodorkannya.
Layar kecil dengan dimensi 7 inch, langsung memutar sebuah video dari rekaman CCTV. Seorang pria dengan jaket kulit, terlihat menerima sebuah amplop dari wanita berambut pirang. Video yang diambil dari atas, tentu sangat sulit untuk mengambil gambar wajah mereka. Namun meski begitu, Beyza sudah bisa menebak, siapa mereka.
__ADS_1
"Kamu bisa menebak siapa mereka, bukan?" tanya Aishe.
"Bukankah ini Nona Diana dengan … Tuan Frans?" tebak Beyza dengan asal.
Meski dia mengetahui gestur dari Diana dengan mudah. Namun ia butuh beberapa waktu untuk menebak pria yang sedang berbicara dengan Diana.
"Kamu menebaknya dengan baik, Beyza." Aishe menyeruput cay dengan santai. Setelah beberapa tegukan, ia meletakkan kembali gelasnya ke atas meja. Lalu, menatap wajah Beyza yang kebingungan.
"Mereka, adalah orang yang membuatmu celaka!"
Degh!
Beyza menoleh, menatap wajah Aishe sambil terperangah. Kaget, tentu saja. Dia tidak merasa ada dendam dengan dua orang itu, lantas apa yang membuat mereka menyakiti dirinya?
"Kenapa?"
"Tidak! Maksud saya, bagaimana mungkin? Saya tidak memiliki masalah apapun dengan mereka, Nyonya. Apa mereka mengincar Tuan Elder?"
"Ya dan tidak." Jawaban ambigu dari Aishe berhasil membuat Beyza kebingungan.
"A-apa maksudnya itu, Nyonya?"
...☆TBC☆...
Jeng jeng jeng ....
__ADS_1
pagi pagi udah UP nih. Jangan lupa kopinya 😌