
Agar bisa menghemat waktu 15 menit lebih cepat, mereka memilih untuk lewat jalur pintas. Jalanan yang tergolong sepi, memang menjadi alasan.
Mobil Hatchback biru dari pabrikan Toyota terlihat berhenti di persimpangan, menunggu lampu lalu lintas menyala hijau. Setelah tiba giliran mereka berjalan, dari arah timur, sebuah truk box melaju dengan kecepatan tinggi, hingga ….
BRAK!
Tabrakan tak bisa terhindarkan. Moncong depan truk menabrak body samping mobil, hingga kendaraan roda 4 milik Rere itu terseret sejauh 200 meter dari posisi awal.
Efek dari benturan keras mengakibatkan kaca depan pecah, airbag pengemudi pengembang, body samping sisi kiri tidak berbentuk lagi. Sedangkan truk, tentunya tidak terlalu parah.
Bahkan, pengemudi truk masih sempat turun untuk mengecek kondisi penumpang yang ada di dalam mobil. Benar, hanya melihat saja dan tidak melakukan apapun. Lalu ia kabur meninggalkan truknya di lokasi.
Pada waktu yang sama, seorang wanita terlihat turun dari mobil. Lalu berjalan mendekat, melihat seberapa parah korban yang berada di dalam mobil. Senyum puas yang semula terpampang jelas di wajahnya, mendadak sirna begitu melihat korban.
“Ba-bagaimana bisa?”
Mimik wajahnya berubah dalam sekejap, tangannya gemetar bahkan sendi kakinya terasa lemas, tak mampu menahan berat tubuhnya. Melihat keadaan korban yang berceceran darah, wanita itu langsung berbalik.
Manik matanya membulat, bersamaan dengan dahi yang mengkerut. Wajah takutnya itu, bisa dilihat oleh siapapun lantaran tergambar dengan jelas. Dengan tangan yang masih gemetar tak karuan, ia berjalan menuju mobil.
Dia langsung mengambil ponsel yang di taruh di atas dasbor, lalu menghubungi seseorang. “Pe-pesankan aku tiket keluar negeri, sekarang juga! Cepat!”
Pada waktu yang hampir bersamaan, sebuah mobil SUV menepi usai melihat sebuah mobil dan truk terlibat kecelakaan. Pengemudi pria itu langsung turun, mendekati korban.
Dilihatnya seorang pria duduk di kursi pengemudi dengan cedera berat. Luka di kepala serta kaki kiri yang terjepit body mobil membuatnya tidak dapat bertahan dan tewas di tempat.
__ADS_1
Setelah memastikan korban di depan tak dapat ditolong, barulah ia melihat ke sisi penumpang belakang. Betapa terkejutnya ia saat melihat, bahwa korban adalah orang yang ia kenal.
“Bibi! Bibi Ishe!”
Buru-buru Jared mengulurkan tangannya, di antara body mobil yang hampir tidak berbentuk, untuk mengecek nadi di leher Aishe. Setelah merasakan nadinya masih berdenyut, barulah ia menghubungi ambulance dan setelah itu Diego.
“Paman, Bibi mengalami kecelakaan. Aku sudah menghubungi ambulance untuk membawanya ke rumah sakit terdekat,” ucap Jared dalam sekali tarikan napas.
“Bagaimana keadaannya?”
“Belum bisa aku pastikan. Kondisi mobil bagian kiri hancur, sopir tewas ditempat, dan ….” Jared menoleh, menatap truk box yang sudah ditinggalkan. “Sopir truk melarikan diri.”
Sabotase, kesengajaan, atau apapun itu. Diego terlihat acuh tak peduli, hal yang harus dia pastikan sekarang, tidak lain hanya keselamatan istrinya.
Diingat-ingat. Beberapa menit yang lalu saat mereka saling terhubung melalui panggilan telepon, Diego sempat mendengar sang istri menyuruh supir untuk melewati jalan pintas. Jalanan sepi yang memang bisa memangkas waktu 15 menit lebih cepat.
Dia tidak mungkin seceroboh itu.
Setelah 10 menit Jared menunggu, sirine ambulan pun terdengar sayup-sayup. Dia yang sejak tadi mencoba mempertahankan posisi Aishe agar tidak bergeser, akhirnya menghela napas lega.
Dua paramedis turun. Satu diantaranya \menarik brankar yang ada di dalam ambulan dengan cepat. Satu lagi langsung memeriksa kondisi korban.
“Ishe Zevim Ibran, 55 tahun. Nadi per menit 60, sepertinya mengalami shock.” Jared berusaha menjelaskan kondisi pasien agar mudah melakukan pertolongan pertama.
“Anda seorang dokter?”
__ADS_1
“Psikiatri.”
Pandangan mata Jared tidak lepas dari Aishe yang duduk tak sadarkan diri. Bahkan saat paramedis mencoba memeriksa, tatapan matanya masih tetap fokus.
“Bagaimana keadaan pengemudi?”
“Meninggal. Dimana ambulance yang satunya? Bukankah aku bilang ada 2 orang?”
"Akan segera tiba dalam 2 menit."
Dua paramedis dan Jared kembali fokus memikirkan cara mengeluarkan tubuh Aishe. Posisi tubuhnya tidak dalam keadaan yang menguntungkan. Kakinya terjepit kursi depan, sehingga mereka perlu hati-hati tanpa membuat Aishe mengalami shock lebih hebat.
"Denyutnya semakin turun. Bisakah kita lebih cepat?" kesal Jared melihat paramedis kebingungan.
"Posisi korban sedikit sulit, jika salah sedikit saja, Anda tahu apa yang bisa terjadi."
Jared terlihat frustasi. Tanpa dijelaskan paramedis, dia sendiri sudah paham, bahwa posisi Aishe terlalu sulit. Jika salah sedikit saja, maka kemungkinan Aishe bisa lewat atau lumpuh.
"Tidak. Kita tidak boleh kehilangan dia bahkan tidak boleh membiarkan kakinya cedera!"
...☆TBC☆...
Agak gak konsen guys. Lanjut besok lagi.
Jangan lupa Like 👍
__ADS_1