Lips Service

Lips Service
Lips Service ● Bab 57


__ADS_3

Sudah dua hari berlalu sejak Aishe menyerahkan Beyza kepada Lee. Sejak itu pula Elder masih belum bisa bertemu dengan ibunya. Padahal, dia sudah menginap di kediaman utama, tetapi untuk melihat sekilas saja dia tidak memiliki kesempatan. Selalu saja ada hal yang membuat keduanya tidak dapat bertemu.


Hingga pada hari selanjutnya, ia sengaja pulang kantor lebih cepat dan menunggu Aishe dengan mata terbuka. Diego yang sejak tadi mengamati putra pertamanya, tentu merasa iba. Dia pun mendatangi Aishe yang sejak sore berdiam diri di kamar.


“Sayang, apa menurutmu ….” Belum sempat ia melanjutkan kalimatnya, Aishe lebih dulu memotong pembicaraan.


“Kamu ingin membelanya?”


Diego yang pada saat itu hendak sedang berjalan mendekat ke arah Aishe, tiba-tiba menghentikan langkahnya. Tepat pada saat itu pula, Aishe menoleh, memandang sang suami yang diam mematung tidak dapat berkata-kata.


“Kamu selalu membela mereka ketika berbuat salah.” Aishe bangkit berdiri, lalu berjalan mendekati suami yang sudah dinikahinya semalam 30 tahun lebih.


“Masalah kecil, jika terus dibiarkan dan ditoleransi, maka besar kemungkinan akan berakar,” lanjutnya berbicara dengan nada yang sangat lembut.


Salah satu tangan Aishe terulur, menyentuh pipi Diego. Dua pasang mata saling memandang satu satu sama lain. Menyalurkan perasaan cinta yang tidak pernah berkurang bahkan sedikitpun meski bertahun-tahun telah berlalu.


“Kita bisa sekuat sekarang, juga bukan hal mudah. Sekarang biarkan mereka belajar dari kita.” Aishe masih berusaha memberi Diego pengertian.


Butuh beberapa saat, sampai akhirnya Diego menarik napas panjang, lalu mengangguk. Seulas senyum terukir jelas, bersamaan dengan tangan yang terangkat, menarik pinggang Aishe agar jarak diantara mereka hanya sejengkal. Lalu, kecupan manis mendarat di kening sang istri.


“Aku tahu. Terima kasih, telah mengingatkanku, Istriku tercinta.”

__ADS_1


Godaan yang keluar dari bibir Diego, berhasil membuat wajahnya merona merah. Jelas ini bukan yang pertama, namun entah mengapa, godaan Diego selalu memberi kesan tersendiri.


“Hentikan! Kamu tidak akan mendapat apapun malam ini!” Aishe mendorong tubuh Diego, lalu berjalan pergi meninggalkan pria itu.


Diego pun tidak langsung menyerah, atau bahkan diam saja setelah mendengar ultimatum dari Aishe. Pria dengan tubuh kekar itu langsung menyusul sang istri yang lebih memilih berbaring di kasur dan melanjutkan membaca buku.


“Tidak bisa begitu! Setidaknya beri aku pelukan dan ciuman!” protesnya.


“Hei, Sayang … Cintaku … Istriku!”



Laptop yang menyala terang di tengah cahaya yang temaram pun, berhasil mengalihkan perhatian Rubby. Wanita paruh baya itu berjalan mendekat ke sumber cahaya ketika ingin pergi ke dapur untuk mengambil segelas air.


“Tuan, Anda belum tidur?” tanyanya, dan langsung dijawab anggukan dari Elder.


“Anda ingin segelas kopi? Atau sesuatu yang lain?”


“Kopi! Tolong buatkan aku secangkir kopi,” jawab Elder tanpa menatap Rubby dan terus fokus pada dokumen di tangannya.


Proyek senilai 1 miliar dollar yang sedang ia kerjakan, rupanya berhasil membuat malamnya tersita selama beberapa waktu. Selain nominalnya yang cukup besar, ternyata proyek ini bisa menjadi jembatan untuk bisa melebarkan sayap di Asia. Namun meski di tengah kesibukan, Elder masih tetap ingin berbicara dengan ibunya.

__ADS_1


Aishe tentu mengetahui hal ini. Bahkan dia keluar dari kamar secara diam-diam untuk melihat sang putra yang sedang menunggunya selama beberapa hari ini. Juga menyelimuti tubuhnya yang terkadang ketiduran di sofa.


Begitu juga kali ini. Namun saat ia melihat Elder yang sedang kelelahan dan tetap memaksa begadang, hatinya menjadi luluh.


“Rubby, biar aku saja yang bawa,” ucap Aishe menghentikan Rubby saat akan mengirim kopi pada Elder.


Kopi telah beralih tangan. Tanpa bicara sepatah kata pun, Aishe meletakkan kopinya di atas meja. Tepat di samping tangan sang putra.


Ruangan dengan cahaya minim, tidak berhasil menerangi wajah Aishe. Sehingga Elder tidak menyadari jika wanita yang mengirim kopi bukanlah Rubby, melainkan sang ibu. Wanita yang sangat ingin dia temui beberapa hari ini.


Sampai ….


“Jangan pernah lupa untuk mengucapkan, Tolong, Terima kasih, dan Maaf. Berapa kali ibu harus mengingatkan itu?”


Suara yang tak asing, membuat Elder menoleh dan mendongak ke atas sejak Aishe mengucapkan kata pertama. Melihat sang ibu berdiri di sampingnya, Elder langsung bangkit berdiri.


“A-Ane …. “


...☆TBC ☆...


Like jangan ketinggalan 😌😌

__ADS_1


__ADS_2