Lips Service

Lips Service
Lips Service ● Bab 74


__ADS_3

“Sekali lagi, bagus! Miringkan sedikit kepalamu.”


Fotografer itu terlihat sibuk melihat hasil gambar yang baru saja ia ambil. Lalu mengacungkan jempolnya tinggi-tinggi, bersamaan dengan garis simetris di bibirnya.


“Ok, selesai! Hasilnya memuaskan, kerja bagus semuanya!”


Pria muda yang baru menginjak usia 30 tahun, berjalan mendekati Beyza yang masih duduk di atas ayunan.


“Nona Beyza,” sapanya ramah. “Anda benar-benar luar biasa. Terima kasih untuk kerja kerasnya.”


Dia mengulurkan tangannya, mengajak Beyza berjabat. Beyza pun terlihat senang hati mengangkat tangan. Namun belum sempat dia meraih tangan photografer, seseorang telah lebih dulu meraihnya.


“Ya, sama-sama!” sahut Elder yang datang tiba-tiba dan langsung menjabat tangan photografer.


Digenggamnya tangan pria yang usianya tidak jauh berbeda dengannya itu cukup erat. Sambil memaksa senyumnya, menatap wajah pria di depannya yang langsung merubah senyumnya.


"Tu … tuan Elder," sapa photografer terdengar sedikit kikuk.


Elder menarik garis simetris di wajahnya setinggi mungkin, hingga dua baris giginya terlihat. Sorot matanya pun tajam, seperti elang yang baru saja mendapatkan mangsa empuk.


"Fotoshoot sudah selesai kan?" tanya Elder yang masih menggenggam erat tangan Leo. Photografer populer yang sering bekerjasama dengan brand ternama.


"Aku akan membawanya sebentar," lanjutnya tanpa menunggu jawaban dari Leo. Dan mungkin, jika Leo tidak mengizinkannya, dia akan tetap membawanya.


"Tentu, tentu saja. Silahkan, Tuan Elder."


Jawaban Leo langsung membuat Elder melepaskan genggaman tangannya. Lalu menarik tangan Beyza dan mengajaknya pergi dari sana sesegera mungkin.


Langkah panjang Elder, juga gaun panjang yang dikenakan Beyza, membuat gadis itu kesusahan berjalan mengikuti langkah Elder yang menariknya.


"Tunggu, Tuan! Tunggu sebentar!" suara Beyza terdengar sedikit lantang, tapi itu tidak membuat Elder menghentikan langkahnya.


"Tuan, saya masih memakai baju dari sponsor. Baju ini tidak boleh rusak! Saya tidak punya uang untuk menganti – "


Entah perkataan mana yang membuat Elder tiba-tiba berhenti dan langsung mendorong tubuh Beyza. Memojokan gadis yang belum sempat melanjutkan kalimatnya itu ke dinding.

__ADS_1


Beyza terperangah, menatap sosok pria di depannya. Dia yang belum pernah mengamati garis wajah Elder, secara naluriah tertegun.


Bibir tipis dengan bulu-bulu halus di rahang. Mata indah dengan manik kecoklatan dan bulu mata panjang nan lebat. Garis alis tegas dan sedikit lebat, selaras dengan rambut hitamnya.


Ketampanan yang dimiliki Elder, memang sudah seharusnya dia akui.


Elder yang sejak tadi gusar tak menentu, tiba-tiba menarik napas panjang. Lalu menundung dan membuang napasnya secepat mungkin.


"Beyza!"


Panggilan Elder yang langsung membuat lamunan Beyza lenyap.


"Kau tahu seberapa jelek wajahmu saat tersenyum?" lanjut Elder membuat Beyza tersentak kaget.


"Jadi jangan tersenyum pada siapapun dan memamerkan senyummu itu!" lanjutnya.


Perkataan Elder memang terdengar sedikit kasar. Namun tak membuat Beyza sakit hati, dan justru bertanya-tanya tentang sikapnya yang tiba-tiba berubah.


Cemburukah?


"Ba-baik."


Beyza terlihat mencincing dress bagian bawah, lalu segera pergi untuk berganti baju. Mengingat, pesan yang dikirim oleh Elder semalam, tentang keberadaan kedua orang tuanya.


"Dasar bodoh! Kenapa malah meledeknya? Assshhh, sial!" gumamnya melihat Beyza berlari menjauh darinya.


Seperti kata pepatah zaman dulu. Cinta itu memang buta, dan apapun yang berhubungan dengannya pasti tidak jauh bedanya. Begitulah yang dirasakan Elder saat melihat Beyza tersenyum pada seseorang dan melakukan hal gila yang lain.


Tidak sampai setengah jam, Beyza keluar dari ruang ganti dengan dress musim panas. Riasan di wajahnya pun juga sudah dihapus, hanya menyisakan lipstik merah dan itu pun tipis.


Melihat Beyza berjalan ke arahnya, Elder kembali tertegun. Sudah sangat lama baginya, mungkin sekitar satu bulan lebih, sejak terakhir kali dia melihat wajah Beyza secara langsung.


Kini sudah saatnya mengakui. Bahwa gadis yang dulu melayaninya dengan pakaian pelayan, sekarang telah berubah menjadi gadis cantik dengan penampilan elegan.


“Tuan … Tuan Elder?”

__ADS_1


Panggilan Beyza membawa Elder kembali dari lamunan singkatnya. Seulas senyum pun langsung di ukirnya dengan manis, saat mengingat tujuannya menemui Beyza.


“Ayo, aku akan mengajakmu pergi ke suatu tempat.”


“Kemana?”


Lagi-lagi Elder menarik napas panjang, sebelum akhirnya menjawab, “Kita tidak mungkin membicarakan hal itu disini bukan?”


Benar.


Berpikir bahwa Elder mungkin akan langsung membawa Beyza pergi menemui kedua orang tuanya. Atau, hanya sekedar mengintip mereka dari jarak jauh.


Kedua alasan ini sudah cukup membuat Beyza mengikuti langkah Elder. Lalu duduk dengan manis di samping pria itu tanpa banyak bertanya.



Kali ini, jarak yang ditempuh keduanya ternyata lebih banyak dari sebelumnya. Sekitar 350 kilometer dari Istanbul dan setidaknya perlu 4 jam lebih perjalanan. Hingga roda mobil miliknya tak lagi menginjak aspal jalanan.


Apa rumah mereka di atas bukit?


Beyza mulai menerka-nerka, saat mobil memasuki kawasan perbukitan dan mulai menginjak jalanan tanah. Namun meski begitu, Beyza tak bertanya apapun. Hanya sesekali menatap wajah serius pria di sebelahnya.


Sampai saat Elder menghentikan laju mobilnya, lalu menarik handbrake. Barulah gadis itu melempar satu pertanyaan padanya.


“Apa … kita telah tiba?”


Elder mengangguk pelan. Beyza mulai mengedarkan pandangannya, menelisik sekitar. Mengamati pepohonan rindang di kanan kirinya. Jalanan tanah di antara kedua pepohonan yang ternyata masih bisa mereka lewati.


“Tuan, kita ada dimana? Bukankah Anda ingin mengatakan perihal orang tuaku?”


Elder terdiam dan hanya menatap wajahnya. Tatapan dalam yang membuat Beyza bertanya-tanya dalam hati.


Tuan Elder, tidak mungkin berbohong kan?


...☆TBC☆...

__ADS_1


Jempol jangan lupa 😘


__ADS_2